Suasana ramai di aula sekolah yang terdapat ratusan siswa yang sedang duduk di bangku yang berjejer berhadapan dengan panggung besar yang akan mereka naiki untuk menerima medali kelulusan dan ijazah. suara menggelegar dari MC yang sedang membawa acara terdengar sampai keluar aula. Ratusan siswa itu sedang mengikuti acara kelulusan mereka di sekolah menengah pertama. Stelan jaz nampak gagah dipakai oleh lelaki dan kebaya elegan dipakai oleh perempuan membuat acara kelulusan ini semakin indah kesan nya.
"Adrian Aksara sebagai peraih lulusan terbaik SMP SKY BANGSA, Kepada ananda Adrian Aksara dipersilahkan maju kedepan" Ucap MC yang sedang mengumumkan lulusan terbaik
Adrian dengan stelan jaz nya yang gagah segera maju kedepan dan berdiri tegap di depan orang banyak, terlihat wajah Adrian terpampang jelas di layar panggung tersebut dengan tulisan "LULUSAN TERBAIK" beserta namanya. dari raut wajah nya Adrian sangat bangga kepada diri nya. lelaki berposter cukup tinggi itu menerima hadiah yang diserahkan oleh ibu kepala sekolah sambari mengucap terimakasih kepada bu kepsek "Terimakasih bu" ucap Adrian
Siswa peraih penghargaan itu bernama Adrian, Adrian Aksara. biasa di panggil iyan oleh teman-teman nya, Adrian Memiliki Poster tubuh yang ideal dan cukup tinggi, Ketika Adrian senyum terlihat lesung pipi yang terukir di wajah nya yang membuat wajahnya terlihat manis.
Matahari menduduki posisi tertinggi nya yang bertanda waktu telah memasuki waktu siang, suasana semakin panas akibat teriknya matahari pada hari itu. MC mengumumkan bahwa acara telah selesai dan mengucapkan terimakasih kepada audience atas partisipasinya untuk acara kali ini. Acara yang dilksanakan dari jam 07:00 - 14:00 itu pun terasa cukup melelahkan.
Adrian mendesah lelah dan merenggangkan tubuhnya setelah berjam jam duduk. Adrian yang memiliki banyak teman pun tak kunjung usai mendapatkan ucapan selamat atas pencapaiaan nya sebagai siswa lulusan terbaik tahun ini
"weii sahabat gue keren bangett gile, selamat ya yan. Ga sia-sia lu belajar keras selama ini hahahah" ucap sahabat Adrian
"Hahaha makasi ren, nanti foto yu" jawab Adrian
Wanita yang memiliki tubuh ramping dan rambut yang indah itu adalah sahabat Adrian yang bernama Serana, Serana anindita. Serana adalah sahabat sejati Adrian sekaligus saksi hidup yang melihat Adrian sedih, marah, kesal, bahagia yang tidak bisa diliat sembarangan orang. Serana juga salah satu primadona disekolah, tak sedikit cowo yang menyukai nya disekolah ini. heran nya Adrian tidak ada memendam rasa kepada Serana, menurut Adrian Serana bukan lah tipe nya.
"Itu yang gue tunggu-tunggu dari tadi, lumayan lah pansos sama cowo pinter ganteng kek lo" ujar serana sambil menggerus tas kecilnya untuk mengambil handphone nya.
"Bisa aja lo centil, emang ya ga centil ga rena" jawab dean. mereka pun salfie berpose memegang medali kelulusan yang mereka dapat. tak lupa bikin video transisi yang telah mereka rencanakan jauh hari sebelum acara kelulusan hari ini.
Bangku panjang tanpa senderan dan meja kecil didepannya di tepi pinggiran lapangan sekolah adalah tempat favorit Adrian dan Serana untuk membicarakan sesuatu atau hanya sekedar makan makanan yang mereka beli dikantin. setelah berfoto dan membuat video, Adrian mengajak serana untuk duduk di tepi lapangan sekolah itu "Ren, duduk di tempat biasa yu. ada yang pengen gua omongin penting banget" Serana menatap wajah Adrian penuh dengan kebingungan, tumben sekali sahabatnya itu berbicara se serius ini "Dih, ada apa? tumben amat yan" tanya serana, Adrian tidak menggubris pertanyaan sahabatnya itu dan hanya berjalan menuju bangku di tepi lapangan itu.
"Yan, are you okeey? lu ada masalah apa? kok lu tiba tiba mukanya kek sedih gitu? dan kenapa lu bilang ini serius?" lontaran puluhan pertanyaan Serana kepadan Adrian yang ingin mengetahui sahabatnya itu kenapa. "gua besok mau pindah rumah ren" perkataan Adrian menatap serius ke mata Serana. mata serana tidak bisa berbohong ketika ia kaget, mata melotot nya serana sama saja seperti burung hantu yang sedang mengintai mangsa nya, tajam dan lebar "HAH, KEMANA NJIR? kok lu mendadak banget si yan bilang nya" sambil memukul mukul samping bahu Adrian "Lu udah tau kan selama ini gue numpang tinggal di tempat sodara gue?" Jelas, Serana tau hal itu. Sebab Adrian pernah cerita kepada dirinya bahwa Adrian dan keluarganya tidak memiliki rumah di kota ini dikarenakan ayah Adrian dulunya pecandu judi, sehingga semua harta kekayaan keluarga nya lenyap entah kemana. Syukurnya Ayah adrian sekarang sudah tobat dan tidak berjudi lagi semenjak ia menyadari bahwa judi telah menghancurkan diri nya dan keluarganya. tapi, semua harta yang lenyap tak bisa kembali. Serana hanya merespon perkataan nya Adrian dengan anggukan kecil dengan kepala nya "Keluarga gue dapet uang warisan dari kakek gue, jadinya kita sepakat buat beli rumah jauh dari sini" Dean menjelaskan " jauh dari sini? kemana?" tanya Serana lagi "ke Bandung Ser" Serana tak bisa berkata apa-apa, ia kehilangan satu sosok sahabat nya itu.
Pembicaraan mereka terhenti ketika mereka mendengar bunyi klakson motor terdengar dari arah gerbang, ternyata itu adalah ayah Adrian yang ingin menjemputnya. Ayah dan bunda Adrian tidak bisa menghadiri acara kelulusan hari ini karena harus mempersiapkan pindahan untuk esok hari dan Adrian mewajarkan hal itu. "lagian toh ayah dan bunda gadateng hari ini gamunkin juga aku tiba-tiba ga lulus" perkataan di dalam benak Adrian
"Adrian, ayoo cepat" teriak sang ayah
"iyaaa yah, sebentar" jawab Adrian
"Serana, makasih ya udah jadi sahabat gue di SMP ini, gue gabakal ngelupain lu seumur hidup, gue janji sampai kapan pun kita bakal sahabatan, gue minta maaf kalau ngabarin lu dadakan begini dan gue minta maaf rencana untuk kita satu sekolah lagi itu gabisa..." Adrian langsung berlari menuju gerbang meninggalkan Serana yang sedang duduk itu...
ŞİMDİ OKUDUĞUN
BERKELANA
Genç KurguAdrian, Adrian aksara harus memulai hidup remaja nya dengan harus ber adaptasi di Kota indah dan selalu di cap Kota penuh estetika serta serinh dibilang Kota romantis. yaa, Kota Bandung. Disinilah dia menemukan banyak pelajaran, selalu terjebak di...
