Prolog

15 0 0
                                        

Tidak setiap hari ia dapat melihat senyum yang menawan dan lembut itu. Untuk sebagian besar waktu dalam hidupnya, ia berpikir bahwa hanya dialah yang bisa menghadirkan gambar-gambar indah itu. Bahwa dialah yang bisa membawa kebahagiaan seperti itu. Tapi, oh, betapa salahnya ia?

Di seberang jalan, ia berhasil menyaksikan tambatan hatinya kembali setelah musim-musim berganti. Dia tampak setampan yang dia ingat. Indah seperti biasa di bawah sinar rembulan. Tidak ada yang berubah dari dirinya, selain dari betapa bahagianya dia.

Ungu amethyst yang dulunya sedingin es kini mencair seiring datangnya musim semi. Senyumnya begitu cerah hingga membuat matanya melengkung bagaikan bulan sabit. Bibirnya bergerak, berbicara tentang sesuatu yang tidak ia ketahui. Tidak ia mengerti.

Lagipula, dia tidak berbicara padanya. Melainkan kepada istri dan anaknya.

Istrinya begitu cantik. Dia adalah seseorang yang orang-orang suka sebut sebagai sunshine (tidak seperti dia yang mewakili malam). Cocok untuknya, yang bisa memberinya cahaya sehingga dia bisa hidup dan tumbuh.dan anaknya, oh betapa dia sangat mirip dengan ayahnya. Surai kelam, mata ungu, dan boneka naga di tangannya.

Melihat keluarga kecil yang bahagia itu menyalakan api berbahaya yang dapat memakannya hidup-hidup, tetapi pada saat yang sama, dia tidak bisa membawa dirinya untuk pergi. Untuk mengalihkan pandangannya ke pergi. Dia hanya bisa berdiri di sana, terbakar oleh api lara yang selalu menemaninya sejak perpisahan mereka.

Rasanya sakit seperti dia bisa mati hanya dengan itu. Kepalanya berdenyut, perutnya seperti diaduk, dan paru-parunya terasa sesak. Tapi dia tidak bisa mengedipkan matanya sedetik pun atau lari dari itu semua. Karena jika dia melakukan itu, dia takut dia hanya berhalusinasi. Bahwa dia hanya membayangkan sesuatu yang telah menjadi mimpinya selama ini. Jika dia melakukan itu, dia tidak akan pernah bisa menemukannya lagi di dunia yang kejam ini.

~•~•~•~

"Mari kita bercerai," katanya dengan dingin. Tangannya sudah meletakkan secarik kertas di depan nya.

Dia tahu kalau hal ini pasti terjadi sekarang ataupun nanti. Mereka hanyalah rekan, teman, dan musuh, tetapi tidak pernah menjadi kekasih meskipun mereka telah menyetujui pernikahan kontrak lima tahun yang lalu. Dia tahu jikalau pernikahan ini hanyalah cara dia untuk melepaskan diri dari kekang ayahnya sehingga ia bisa menikahi seorang perempuan yang ia cintai selama bertahun tahun itu. It's toxic. Ini hanya akan menyakitinya. Memang. Namun apa yang bisa kita katakan ketika seorang gadis telah jatuh cinta kepada satu-satunya lelaki yang ia temui untuk pertama kali? Nasihat apapun hanya lewat dari telinganya tanpa sempat mampir ke otak.

Begitu bodohnya ia dan ia tahu itu. Meskipun hanya lima tahun, ia begitu bersyukur bisa bersama dengannya meskipun hal itu menyakitinya. Membunuhnya secara perlahan. Tetapi ia lupa bahwa manusia adalah makhluk paling rakus di muka bumi. Sekali ia mendapatkan sesuatu, ia akan meminta lebih. Begitu juga dengan dirinya.

Bagaimana dia bisa melepas cintanya ketika dia dengan sulit mendapatkannya?

"... Kenapa?" Dirinya secara naluri berusaha untuk protes.

Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Gestur yang sama ketika ia hendak mencaci maki seseorang. "Apa kepalamu habis terbentur? Tentu saja karena itu kesepakatan awal kita."

Napasnya tercekat. Lima tahun. Dia menyalakan dirinya sendiri. Mengapa dia setuju untuk hanya bisa bersama selama lima tahun dan tidak selamanya? Huh. Pria itu benar. Mungkin kepalanya sudah terbentur.

"Apakah kamu sudah menemukannya?"

Satu senyuman kecil sudah cukup membuatnya untuk menyerah. Mungkin dia terlalu bodoh. Meskipun telah disakiti begitu, dia tetap mengharapkan kebahagiaannya.

Tidak apa. Meskipun bukan dirinya, tidak apa. Sepanjang dia bahagia, tidak apa.

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Aug 30, 2024 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

Shard of HeartDes histoires addictives. Découvrez maintenant