PROLOG

255 9 0
                                        

Mark Lee alternative universe

© ciamarillys 2024

■ i'll try to make this story alive,
so don't forget to give me a feedback after reading.

▪︎ ▪︎ ▪︎

Ruang tengah berukuran 5x6 meter di kediaman Hadiwangsa kali ini terasa cukup ramai. Jika biasanya bangunan 3 tingkat ini hanya diisi oleh tuan dan nyonya Hadiwangsa bersama dengan beberapa asisten rumah tangganya, kali ini ketujuh anak mereka yang semuanya sudah berpindah tempat tinggal itu dipaksa berkumpul sebentar guna membahas topik hangat seputar perjodohan.

Iya, benar. Ini tahun 2024 dan kalian memang tidak salah baca. Perjodohan! Dan kali ini korbannya adalah anak ketiga dari Kavin Hadiwangsa yang baru saja lulus kuliah dengan Opa Hadi sebagai tersangka utama pengatur jadwal perjodohan.

"Non sense!" Adrian, selaku korban ide gila opa Hadi tersebut reflek bersungut-sungut kesal sembari melonggarkan dasi pada kemejanya. Merasa gerah bukan main sebab mengapa pula dirinya yang dijadikan mangsa secara mendadak? Padahal kakak sulungnya saja masih sibuk dengan kantor dan belum menikah!

Lihatlah, Markiel, si sulung yang saat ini baru saja tiba dengan alasan baru selesai rapat itu hanya mampu terdiam sambil sesekali menggaruk tengkuk. Sama sekali tidak mengucap satu katapun atas malangnya takdir yang menimpa Adrian saat ini.

Kavin sontak berdeham. "Sebenarnya papa ajak kalian berkumpul di sini juga masih mau membahas perihal masalah yang kemarin. Opa Hadi tadi pagi telepon, bilang mau tarik Adrian dari perjodohan ini dan menukarnya dengan.."

Ucapan menggantung Kavin membuat seluruh turunan Hadiwangsa yang sudah lepas dunia pembelajaran mendadak ketar-ketir. Hazel adalah salah satunya, putra keempat Kavin Hadiwangsa yang tadinya cuek di ujung demi chatting dengan kekasihnya itu sampai ikut menegakkan punggung. Ketakutan jika namanya mendadak disebut demi menuruti perintah Opa Hadi yang sembilan puluh sembilan persen adalah mutlak alias tidak bisa ditolak apa lagi diganggu gugat!

Berbanding terbalik dengan Adrian yang sekarang sudah melotot lebar. Ekspresinya benar-benar terkejut bercampur lega totalitas. Ya, setidaknya Adrian langsung menganggap bahwa Opa Hadi waras kali ini.

"Ditukar sama apa, pa?" Jason, anak terakhir Hadiwangsa itu bertanya sambil mengunyah crackers pisang. Kepalanya ia senderkan santai di bahu sang mama selagi matanya sibuk menatap bergantian kelima kakaknya yang tegang bukan main. Totalitas menikmati aura-aura ketakutan yang terpancar sebab biasanya seluruh saudaranya itu selalu datar dan tidak pernah mengeluarkan ekspresi secara blak-blakan seperti ini.

Perlu digaris-bawahi bahwa Jason bisa sesantai ini karena ia masih kuliah. Tentu Opa tidak akan gila menyuruhnya untuk menikah sambil belajar, bukan? Setidaknya Opa Hadi yang ia kenal sangat menjunjung tinggi aturan bekerja dulu lalu menikah.

Kavin menatap istrinya sebentar, menelan ludah susah payah sebelum akhirnya berganti menatap putra sulungnya yang saat ditatap langsung berpura-pura meraih gelas padahal isinya sudah tandas tak bersisa.

"Markiel, suruh asistenmu untuk kosongkan jadwalmu di akhir pekan. Kamu yang diminta Opa Hadi untuk menggantikan posisi Adrian kali ini."
Tak butuh rentang waktu terlalu lama untuk Markiel tersedak ludahnya sendiri. Lelaki itu bahkan tak sempat menunjukkan emosi apapun pada ekspresinya. Saking terkejutnya.

Sebenarnya jauh di lubuk hati Markiel sudah mempersiapkan diri jika skenario seperti ini akan terjadi. Sebab sejatinya ia terlalu mengenal Opa Hadi dan segala keteguhannya. Pria tua itu tidak akan mau menyuruh turunannya untuk menikah jika belum bisa mencekal setidaknya satu cabang usaha Hadiwangsa secara benar.

Dan Adrian, sayangnya, masih baru lulus kuliah dan baru dalam tahap belajar. Dan sayangnya lagi, memang Markiel lah yang saat ini lebih membutuhkan calon istri ketimbang Adrian yang sedang fokus menjomblo demi menata karir.

Tapi sekali lagi, harus kah dia? Jika boleh jujur, Markiel tidak ada waktu untuk mengurus persoalan hati.

"Dengan siapa kemarin?" Akhirnya hanya pertanyaan singkat itu saja yang terlontar dari bibir Markiel.

"Gunajaya. Yang akan dijodohkan dengan kamu dari keluarga Gunajaya."

Gunajaya?

Markiel meringis dalam hati. Mempertanyakan gadis Gunajaya mana yang nantinya akan dikenalkan padanya sebagai calon istri. Sebab sejauh yang ia tahu, turunan Gunajaya memang rata-rata semuanya perempuan elite khas kesukaan Opa Hadi.


c i a m a r i l l y s

untitled | MKLWhere stories live. Discover now