Setiap pagi, biasanya seorang laki-laki sudah berada di ruang kerjanya, sibuk dengan tumpukan kertas dan email yang harus diperiksa setiap hari. Namun, berbeda pada pagi ini. Dia harus berada di bandara untuk menjemput dua wanita kesayangannya. Dia menunggu di lobi Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Dari arah dalam bandara, dua wanita sedang menggeret kopernya menuju lobi. Dua wanita yang berbeda generasi itu memfokuskan pandangannya untuk mencari sosok laki-laki yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Abangggg!" teriak salah satu dari dua wanita itu.
"Mana dek abangmu?" tanya wanita yang satunya.
"Itu tuh, bund," tunjuk sang anak kepada abangnya yang sedang duduk menunggu sambil fokus pada ponselnya.
Ya, mereka adalah bunda dan adik dari laki-laki tersebut. Laki-laki yang sejak tadi pagi sudah berada di bandara untuk menjemput sang bunda dan adik perempuannya yang satu-satunya, pulang dari Medan, kampung halaman mereka. Dia adalah Ronny Liandika Nainggolan, anak sulung dari pasangan Aron Nainggolan dan Artati Maheswari Nainggolan. Ronny berusia 29 tahun, sudah hampir menginjak kepala tiga. Dia seorang CEO di perusahaannya sendiri yang dikelola bersama sahabatnya. Namun, Ronny juga tidak lepas dari tanggung jawab perusahaan ayahnya. Ronny memiliki adik perempuan bernama Diva Liandra Nainggolan, Diva yang kini berusia 21 tahun, sedang duduk di semester 4 di bangku kuliah, dan sangat aktif di media sosial.
Laki-laki yang sedang duduk dan fokus pada ponselnya itu menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing di telinganya. Dia tersenyum dan beranjak dari duduknya menghampiri sang bunda dan adiknya sambil melambaikan tangannya.
"Abanggg!" panggil sang adik manja.
Setelah mereka bertemu, Ronny tersenyum.
"Salam dulu, dek," tegur sang abang kepada adiknya.
"Hehe, iya, lupa abang. Assalamualaikum abangku," ucap sang adik sambil tersenyum manis.
"Waalaikumsalam," jawab Ronny.
"Gimana, Bund, perjalanannya?" tanya Ronny pada sang bunda.
"Alhamdulillah lancar, bang. Ya kan, dek?" jawab bunda dan bertanya pada anaknya.
"Iya, Bun. Abang sih pulang duluan sama ayah. Sekarang mana ayah? Kok nggak ikut jemput?" jawab dan tanya sang adik.
"Ayah kan sabar, abang ada kerjaan mendadak, dek. Sekarang ayah ada meeting, nggak bisa digantikan sama orang lain, termasuk abang sekalipun. Jadi, ayah harus menemui kliennya, Bun. Dek," jawab Ronny.
"Owh, terus kamu sendirian aja, bang?" tanya sang bunda, sementara Diva hanya menganggukkan kepalanya, mengerti.
"Iyalah, Bund. Masa ngajakin sekomplek rame dong?" canda Ronny sambil mengambil alih koper yang ada di tangan sang bunda dan adiknya, lalu mengajak mereka jalan menuju mobilnya.
"Bukan gitu, bang. Kamu nggak ada ngajakin cewek atau calon mantu bunda? Kan seru. Terus, kamu ada yang ngajakin ngobrol tadi pas di jalan mau ke bandara?" ucap sang bunda yang berjalan di samping sang putra, sementara Diva berjalan di belakang dan hanya mendengarkan saja.
"Belum ada, Bun," jawab Ronny seadanya.
"Gimana mau dapat calon mantu buat bunda? Orang abang dari pagi sampai malam mendenng aja di kantor kayak ayam mau bertelur, tauk! Sama Paul lagi. Atau jangan-jangan kamu nggak suka cewek, bang? Kamu sukanya sama Paul?" ucap bunda kepada sang anak laki-lakinya itu.
"Ih, bunda ngomongnya kok gitu! Nggak lah, abang masih normal, Bun. Abang masih suka cewek kok, Bun, tapi belum ada yang pas aja," balasnya pada sang bunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dialah Jodohku
FanfictionTidak semua perjodohan harus di tolak sepertihalnya sepasang insan yang menerima perjodohan dari orang tua mereka.
