"JIKA KAU LAKI LAKI, MAKA LAKUKANLAH DENGAN BANGGA"
~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sumatra Barat adalah ranah minangkabau yang sangat indah. Tanah yang memiliki banyak gunung-gunung yang menjulang tinggi. Terdapat sebuah desa indah di pedalaman ranah minangkabau ini. Desa itu bernama desa Mungka. Sebuah desa yang terletak di salah satu kabupaten yang ada di Sumatra Barat, yaitu kabupaten 50 kota.
"Kamu harus bersyukur bisa terlahir sebagai orang minang," ucap seorang kakek berusia 70 tahunan kepada seorang anak kecil yang masih berumur 9 tahun. "Kenapa begitu kek?" tanya si anak kecil dengan penasaran.
Kakek itu menjelaskan dengan sebatang rokok di tangannya kirinya dan kopi hitam ditangan kanannya. "Kamu lihat sendiri betapa indahnya desa ini, sawah terbentang luas dan keadaan alam nya yang masih sangat asri, tidak akan kamu temui ini semua di perkotaan sana yang kebanyakan sudah tercemar oleh polusi polusi,"
"Hanya itu kek? kalau hanya itu, di luar negeri sana masih banyak kok yang asri dan bersih," ucap anak kecil itu sambil memakan roti yang dibeliknya setelah mendapatkan uang dari hasil membantu sang kakek di sawah untuk menanam padi.
"Tapi kita harus mencintai negeri kita sendiri, Ikhsann," ucap si kakek sambil menarik kuping si anak yang bernama Ikhsan. "Aduh ampun kek," kakek itu hanya tertawa lalu melepaskan tangannya dari telinga Ikhsan. "Perjuangkan negerimu, agamamu, dan hidupmu sendiri, jangan jadi cengeng dan lemah, setelah dewasa nanti kau akan paham wahai manusia keturunan Adam," si kakek lalu kembali mengambil sebuah cangkul untuk melanjutkan pekerjaannya di sawah.
Ikhsan juga mengikuti untuk membantu. "Kek, sebenarnya untuk apa kita bekerja mencari uang jika kita sudah punya padi yang dihasilkan untuk menjadi beras? dan kita punya sungai yang banyak ikannya untuk kita pancing lalu di makan?" Ikhsan bertanya seperti ini bukan karena dia tidak tau kalau kebutuhan lain juga di perlukan uang untuk memenuhinya.
"Haha, tidak semudah itu hidup ini San, kau masih harus memenuhi kebutuhan mu yang lain, kau harus tetap membeli buku-buku ksosong itu agar otak mu juga tidak ikutan kosong," kakek tua itu terus mencangkul sawahnya sambil tertawa melihat ekspresi kesal Ikhsan karena diledeki oleh si kakek.
"Kasih tau aku kakek!!!" Ikhsan memiliki jiwa penasaran yang kuat, apalagi itu jika tentang ilmu. "Kau akan menemukan jawaban itu sendiri nantinya setelah kau dewasa, jangan terlalu terburu buru menjadi dewasa, kau masih anak anak. Ayok kita selesaikan pekerjaan ini, lalu pulang,"
Meskipun Ikhsan tidak terlalu paham maksud si kakek, tapi dia hanya menganggukkan kepala lalu kembali membantu sang kakek untuk menanam benih di sawah. "Tidak ada padi yang tumbuh dan masak dalam sehari San, jadi tabah lah dalam menjalani hidup ini, anggap saja aku seorang ayah yang sedang mengajari anaknya," ucap sang kakek yang tiba-tiba duduk karena merasakan rasa sakit dikakinya.
"Ya aku rasa itu tidak apa, lagipula aku tidak punya ayah yang akan mengajari ku," orang tua Ikhsan sudah berpisah disaat usia Ikhsan yang masih sangat kecil. Hal itu membuat Ikhsan sangat dekat sang kakek, walaupun si kakek bukanlah kakek kandungnya.
"Hiduplah lebih kuat, bahagiakan ibumu, jalani hidup ini dengan cinta dan kasih sayang, jangan pernah membenci, jangan pernah menjadi pedendam dan jangan pernah menjadi orang orang yang merugi dengan cara melupakan agama dan siapa pencipta mu. ingat itu baik-baik Ikhsan,' ucap si kakek yang sudah mulai lelah dengan pekerjaannya. "Walaupun aku tidak begitu paham, tapi aku akan ingat itu semua kakek," ucap Ikhsan dengan polosnya.
***
"Bunda, aku pulang," panggil Ikhsan sesampai dirumah. Ia hanya tinggal berdua bersama bundanya di sebuah rumah peninggalan nenek nya. Sebelum orang tua nya bercerai, mereke sekeluarga adalah perantau yang merantau ke Duri, sebuah desa di kabupaten Bengkalis, provinsi Riau.
"Mandi dulu sana, lalu makan," bunda Ikhsan itu bernama Nur, seseorang yang sudah menjadi janda di usia yang masih 30 tahun. terbilang masih muda karena Nur menikah dengan ayah Ikhsan disaat usianya masih sangat muda, yakni 19 tahun. Setelah perceraian, Nur jadi sedikit cuek dengan segala hal tentang Ikhsan. Tapi itu hal yang bisa dimengerti karena Nur harus memikirkan semuanya sendirian sekarang. Tidak ada satupun saudara yang ada di kampung benar-benaer peduli. Jadi, Nur benar benar harus berusaha sendiri itu menghidupi keluarganya.
Juga pernah disuatu hari setelah dua orang ibu anak ini pulang dari rantau setelah resmi bercerai, keluarga nur yang ada di kampung malah memusuhi Nur, karena mereka takut harta warisan yang ditinggalkan oleh ibu Nur yang bernama Ermi akan di ambil lagi oleh Nur.
Di minangkabau harta warisan akan diberikan ke pihak perempuan. Itu terjadi karena suku minangkabau di ambil berdasarkan apa suku sang ibu. Jadi hal yang tidak mugkin Nur bisa meminta hak harta warisan berupa sawah kepada sauadari-saudari ibunya di kampung.
"Ermi meninggal dalam keadaan tidak meninggalkan apa-apa" ucap Nimar adik dari Ermi. Ia menolak mengakui kalau nenek dari Ikhsan memiliki sawah yang sangat luas di kampung. "Tapi bagaimana mungkin itu terjadi mak odang?" tanya Nur, mak odang adalah sebutan untuk tante di Mungka. "Sedangkan aku sangat ingat perkataan ibuku, kalau sawah yang di dekat sungai sana adalah miliknya. ketika ibu meninggal, mak odang yang membantu mengurus sawah itu karena Nur dan kakak dewi tinggal di rantau," Nur memiliki kakak perempuan yang juga hidup dirantau, atau lebih tepatnya di kota Pekanbaru.
"Ya, karena kami sudah mengurusnya selama ini, jadi kamu tidak bisa mengambil seenaknya saja. Keputusan kami bulat. Tidak satupun sawah untuk kalian. Jika kalian tidak setuju, kalian bisa kembali ke rantau," ucap Nimar yang berlalu begitu saja. Nur hanya bisa diam dan sabar, mau melawan bagaimanapun, Nur tidak punya surat apapun untuk menyatakan kalau itu memang tanah milik ibunya.
Wanita yang malang!!!
YOU ARE READING
Letter
General FictionSebuah perasaan akan menggebu ketika diri seseorang masih muda, entah itu soal kehidupan, pekerjaan, dan perasaan. Semua ada waktunya dalam hidup yang tidak abadi ini. Seseorang yang memiliki ambisi di dalam hidupnya tidak akan pernah berkata "aku l...
