The First Time We Met

18 0 0
                                        

Pada saat itu, akademi dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas. Jadwal yang padat membuat semua orang sibuk, berlarian ke sana kemari untuk membantu rombongan yang baru tiba. Mereka adalah para korban yang selamat dari kehancuran yang ditimbulkan oleh Penta dari arah selatan.

Sebagian pasukan kadet akademi ditugaskan untuk menyalurkan bantuan berupa makanan, minuman, dan kebutuhan lainnya kepada para korban yang tiba dengan wajah letih dan penuh kepedihan.

Kai bergerak cepat di tengah keramaian, membawa beberapa kotak berisi roti dan air di kedua tangannya. Di sekelilingnya, orang-orang berbicara dengan nada tegang, anak-anak menangis, dan suara-suara perintah dari para kadet lainnya terdengar samar di latar belakang.

Disaat ia berada di dalam penampungan, Kai melihat seorang gadis berambut coklat yang seumuran dengannya, berjongkok di samping salah satu tenda, menangis histeris dengan wajah penuh air mata.

Kai merasa sangat kasihan dengan gadis tersebut, seolah-olah ia bisa merasakan beban kesedihannya sendiri. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas menghampiri gadis itu. Dengan lembut, ia berlutut di hadapannya, menatap gadis itu dengan mata penuh kepedulian.

“Hei, tak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja sekarang,” ucap Kai dengan suara tenang, berusaha menenangkan gadis itu. “Kau aman sekarang. Tidak ada yang akan menyakitimu di sini.”

Gadis itu mendongak, menatap Kai dengan mata yang dipenuhi air mata dan ketakutan. Ia tampak begitu rapuh, seperti dunia di sekelilingnya telah runtuh. Kai merasakan hatinya terhimpit melihatnya dalam kondisi seperti itu.

“Kau tidak perlu takut lagi. Aku di sini untuk membantumu,” lanjut Kai, mencoba menyalurkan rasa aman dengan keberadaannya. Ia menyodorkan sebotol air dan roti yang ia bawa, berharap itu bisa sedikit menenangkan gadis tersebut.

Namun, gadis itu hanya diam menatapnya, napasnya tersengal-sengal. Tak lama kemudian, tangisannya kembali pecah, seolah-olah kata-kata Kai tak mampu menembus dinding kesedihan yang melingkupinya.

Kai merasa kasihan dan bersalah atas apa yang dikatakan kepada gadis tersebut. Lantas ia menurunkan pasokan makanan di hadapan gadis itu, lalu perlahan duduk di sebelahnya. Dengan hati-hati, Kai merangkulnya, menawarkan rasa aman yang ia sendiri ragu bisa ia sampaikan. Gadis itu menerima rangkulannya, dan perlahan menangis di bahunya. Ada kehangatan dalam pelukan Kai yang membuat gadis itu mencoba menghentikan tangisnya.

“Semuanya akan baik-baik saja, aku janji,” bisik Kai dengan lembut. “Aku turut berduka atas kehilangan mu,” tambahnya dengan penuh ketulusan.

Setelah beberapa saat, Kai mengambil kembali roti dari pasokan makanan yang ia bawa dan memberikannya kepada gadis itu. “Ini, makanlah sedikit, kau akan merasa lebih baik,” ucapnya dengan lembut sambil menatapnya penuh perhatian. “Siapa namamu?” tanyanya pelan.

Gadis itu, meski masih terisak, perlahan meraih roti yang ditawarkan Kai. “Lynn,” jawabnya dengan suara pelan, hampir seperti bisikan.

Kai tersenyum hangat padanya. “Senang bertemu denganmu, Lynn,” ucapnya dengan tulus. Ia merangkulnya lagi, berharap bisa memberikan sedikit ketenangan di tengah kekacauan ini. Lynn, yang merasa sedikit lebih tenang, mulai memakan roti itu perlahan dalam rangkulan Kai. Di sela-sela suapan kecil, ia berbisik dengan suara serak, “Terima kasih,” air matanya masih mengalir, namun ada sedikit kedamaian yang mulai tumbuh di hatinya.

Kai berusaha tetap tenang, tetapi di dalam hatinya, perasaan sedih dan marah bercampur aduk. Bukan hanya dia, semua kadet merasakan hal yang sama. Setiap kali mereka melihat wajah-wajah lelah dan penuh kepedihan dari para korban, hati mereka terasa tertusuk. Kesadaran bahwa orang-orang tak bersalah ini telah kehilangan segalanya karena kekejaman Penta membuat mereka merasa tidak terima.

Tiba-tiba, suara panggilan untuk berkumpul kembali menggema di seluruh area penampungan. Semua kadet diperintahkan untuk segera berkumpul di satu tempat. Kai merasakan ketidaknyamanan yang mendalam—ia tidak ingin meninggalkan Lynn sendirian, terutama setelah semua yang baru saja terjadi. Namun, tugas memanggilnya.

Dengan lembut, Kai berlutut di hadapan Lynn. “Aku harus pergi sekarang,” bisiknya. Ia mengulurkan tangannya, mengelus kepala Lynn dengan lembut, sebuah isyarat sederhana yang penuh kasih sayang. Lynn merasakan kehangatan dalam sentuhan itu, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, ia merasa nyaman.

Lynn menangguk pelan sebagai jawaban, matanya yang masih berbekas air mata kini menunjukkan sedikit ketenangan.

Kai tersenyum. “Sampai jumpa lagi,” katanya lembut, menegaskan harapan bahwa mereka akan bertemu lagi di waktu yang akan datang.

Dengan berat hati, Kai meninggalkan Lynn di penampungan, bergabung dengan para kadet lainnya. Tapi saat ia melangkah menjauh, sebuah perasaan mendalam menyelimuti hatinya, seolah takdir mereka belum berakhir di sini. Tidak ada yang tahu bahwa suatu hari, mereka berdua akan menjadi pasangan (duo) terbaik, menghadapi dunia bersama.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 20, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

OC stories stuffWhere stories live. Discover now