(Warning, cerita mengandung part dewasa!)
Reza sangat membenci Thalita yang dia anggap sebagai penyebab kematian sahabatnya.
"Thalita, kamu menggunakan kencantikanmu untuk memikat laki-laki, lantas kemudian mencampakkannya. Perempuan sepertimu haru...
(Cerita ini dipublish ulang dengan lapak baru karena dilapak sebelumnya dihapus oleh pihak WP, padahal viewnya 2 jutaan huhu, sedih otor)
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Namanya Thalita Angelina Sujatmiko, anak dari Arman Sujatmiko dan Kinara Amelia. Saat ini dia memasuki masa SMA, Thalita bersyukur karena bisa satu sekolah lagi dengan teman-temannya yaitu Markus, Dirga, dan Olivia. Mereka dari dulu satu SD dan SMP. Selalu bersama kapan saja.
"Tha, buruan turun, kita sarapan pagi bersama, nanti kamu telat loh. Ini hari pertama kamu MOS!" ujar sang mama yang memanggil Thalita untuk turun, guna sarapan bersama.
"Iya, Mah, sebentar. Thalita lagi nyiapin sambil ngecek semua persiapan sekolah, takut ada yang ketinggalan."
Thalita tengah sibuk mengecek apa yang dibawanya ke sekolah, itu karena dia tidak mau mendapatkan masalah dihari pertamanya mengikuti MOS.
"Oke, kamu siapkan dengan teliti, mama turun dulu. Kalau kamu sudah selesai, langsung turun aja yah."
"Siap, Ma."
Setelah selesai dengan persiapannya Thalita segera turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarganya.
"Tha, kamu itu yah, bukannya langsung turun buat sarapan, tapi malah harus dipanggil-panggil dulu. Contoh dong Anggun, dia malah bantuin nyiapin sarapan, gak kaya kamu!" omel Arman, papanya Thalita.
Thalita sangat muak dengan papanya dimata papanya dia selalu salah, selalu dibandingkan dengan Anggun. Papanya itu selalu membanggakan Anggun. Padahal anak kandung beliau adalah Thalita, tapi rasanya seperti ia yang bukan anak papanya. Meskipun marah, tapi pada akhirnya Thalita memutuskan untuk diam saja. Dia tidak mau ribut dipagi hari seperti ini, apalagi hari ini Thalita harus ikut MOS di sekolahnya, jadi sebisa mungkin Thalita tidak mau moodnya hancur berantakan sebelum sampai di sekolah.
"Tha, kamu berangkat ke sekolahnya bareng sama aku dan papa 'kan? Lagi pula kita 'kan satu sekolah sekarang!" ujar Anggun riang.
"Hmm," jawab Thalita malas, itu karena dia sangat membenci Anggun. Selain itu Thalita juga membenci papanya dan mamanya Anggun.
"Ditanya dengan bahasa yang sopan, kamu jawabnya juga harus sopan dong, Tha. Apa sih yang diajarin sama mamamu, sehingga kamu tumbuh menjadi anak tidak tahu etika dan sopan santun begini." Arman kembali mengomeli Thalita.
Mendengar papanya membuat Thalita sangat marah. Itu karena papanya mengomelinya sambil membawa-bawa mamanya yang tidak tahu apa-apa, terlebih ucapan papanya itu begitu menyakiti hati Thalita. Sejak tadi ia diam saja ketika papanya mengomelinya, tapi kalau papanya berani menyalahkan mamanya padahal Thalita tahu betul kalau mamanya tidak salah, maka saat itu juga dia tidak akan tinggal diam.
"Cukup, Pah. Jangan bawa-bawa mamaku lagi, apalagi sampai menghinanya yang tidak-tidak seperti itu terus. " Thalita geram, dia menumpahkan semua emosinya.