Hari pemakaman
Siapa yang tidak mengenal keluarga Lertratkosum?, keluarga yang terkenal dimana mana, bukan hanya karena keluarga ini adalah keturunan bangsawan asli negeri ini, tapi juga karena hampir seluruh perusahaan di ibu kota negara ini di bawah naungan 'Ratko Gruop' .
Hari ini adalah hari duka mendalam bagi keluarga kaya ini, dimana sang kepala keluarga meninggal dunia pada hari senin, pukul 08.23 tepatnya di restoran milik sang teman dekat, dengan satu tembakan tepat di dada, sang milioner.
Jelas berita ini langsung menyebar ke seluruh negeri dengan cepat, bagaimana tidak? Keluarga Lertratkosum bukan keluarga sembarangan ingat?, dan bagaimana bisa seorang yang sangat kaya, bisa dengan mudah terkena tembakan? Bahkan saat ke kamar mandi pun, ada lebih dari 5 orang menjaga dirinya, tidak masuk akal jika di nalar, seorang yang bahkan tidak tersentuh orang bisa mati mengenaskan, dengan satu tembakan di dada.
Seluruh kota, tidak! Seluruh negeri berduka atas kematian Tuan besar Lertratkosum.
Acara pemakaman dan doa di lakukan di sebuah gereja besar di pusat ibu kota, tetapi untuk mayat mendiang Tuan besar Lertratkosum dan keluarga inti di lakukan di rumah utama.
Hanya ada, Istri, kedua anak sang Tuan Besar, kedua orang tua beliau dan seorang kepercayaan keluarga ini, dan total 25 bodyguard yang berjaga serta bergantian untuk memberikan doa.
Saat selesai dengan doa bersama, juga beberapa kalimat menyentuh hati yang di sampaikan ayahanda Tuan Besar. Istri dari Tuan Besar Lertratkosum yaitu Nyonya Davikah Lertratkosum melangkah maju mendekat ke peti putih berhiaskan mawar putih itu bersama kedua anak laki laki nya, Luke Putra Lertratkosum sang sulung, dan Pond Naravit Lertratkosum si Bungsu.
"Aku kehilangan salah satu orang yang paling aku cintai..." ucap Davikah menatap nanar jasad sang suami.
"Tidak adil jika mereka sedang tersenyum kemenangan di sana, sedangkan aku menderita di sini" setelah mengucapkan nya Davikah berbalik menghadap anak anak nya.
"Mata di balas mata, darah di balas darah, balas apa yang mereka lakukan padaku" dengan tatapan dingin dan suara tanpa bergetar Davikah mengucapkan nya, seperti layaknya perintah bagi kedua anaknya.
Davikah langsung pergi dari sana, meninggalkan kedua anaknya yang masih diam sambil menatap sendu jasad sang Ayah yang berada di dalam peti.
Kehilangan sosok ayah memang pukulan bagi keduanya, apa lagi dengan cara seperti ini, tapi ternyata kehilangan sifat hangat seorang ibu, jauh lebih menyakitkan.
-•-
'15% saham mendiang Tuan Besar Lertratkosum resmi di kembalikan pada sang ayahanda, dan Nyonya Davikah beserta anak sulungnya menjalankan sisa saham yang ada, tapi sebuah pertanyaan muncul di kalangan publik, yaitu mempertanyakan kapan Nyonya besar Davikah mau mempublish anak bungsu nya?'
'Ya, benar sekali Jennie, saat anak sulung mereka yaitu Luke Putra Lertratkosum di publish pada usia 17 tahun, kini tahun tahun berlalu, keluarga kaya raya itu belum juga mempublish anak bungsu nya, yang kalau kita tidak salah tahun ini ia berusia tepat 17 tahun jug-'
"Tit"
Pond mematikan TV itu tiba tiba, saat sang kakak masih fokus pada layar besar televisi tersebut.
"Itu adalah berita yang seru" protes Luke
"Seru apanya, lebih baik kau pergi bekerja bantu Mommy sana" balas Pond.
"Ada apa sih, suara kalian berdua sampai terdengar ke kamar kerja Mommy loh" Davikah datang dari ruang kerja nya dan menghampiri kedua anaknya yang berada di ruang keluarga.
"Itu, Phi masih saja menonton berita murahan"
"Itu bukan berita murahan, iya kan mom? Seluruh negeri penasaran siapa sebenarnya anak bungsu dari pasangan kaya raya di negeri ini"
Davikah menggelengkan kepalanya lelah "Luke berhenti menggoda adik mu, dan Pond sudah kah kamu meminum obat mu?"
Pond langsung terdiam "oh iya besok-"
"Jangan alihkan pertanyaan seorang ibu, Pond" ucap Luke tegas.
"Ak-aku baru ingin meminumnya saat selesai makan ini" cemilan yang Pond pegang pun di rebut paksa oleh Luke.
"Pond... Minum obat mu" suruh Davikah dengan lembut.
Dengan terpaksa Pond pun beranjak dari duduk nya dan pergi menuju kamarnya, sudah satu bulan sejak kematian sang ayah, dan pelaku penembakan ayahnya pun sudah tertangkap, tapi Mommy dan Phi nya seperti belum puas dengan hal itu, mereka seperti belum percaya fakta bahwa yang membunuh sang kepala keluarga hanya orang yang tidak suka dengan ayah. Dan itu berakibat buruk pada kehidupan nya, Mommy dan Phi nya menambah pengawasan terhadap dirinya, semakin ketat, apalagi mengingat dirinya punya penyakit bawaan dari kecil.
Pond duduk di atas karpet dan bersandar pada ranjang besarnya, menatap dua pil yang harus ia minum sehari dua kali itu. Kehidupan nya yang sekarang jauh lebih monoton dari pada saat ayah nya masih hidup. Dia lebih mengenal orang orang rumah sakit, seperti suster, apoteker dan dokter Keluarga mereka. Bahkan Pond semakin lebih dekat dengan dua bodyguard nya, yaitu Joss dan Podd, seluruh pembantu rumah ini, termasuk sekertaris dan orang kepercayaan keluarganya yaitu Gawin.
Mommy dan Phi nya hanya ada di rumah saat hari rabu dari pagi hingga sore pukul 6, Setelah hari itu, Pond tidak akan pernah melihat Mommy dan Phi nya berada di rumah ini.
Dan lagi pun, dengan alasan 'demi keselamatan nya' Pond di asing kan ke rumah keluarga pertama dari mendiang Tuan Besar Lertratkosum, bukan di mansion besar di pusat ibu kota.
"Sebelum dirimu tiada, hidup ku sudah sepi, sekarang? Lihat lah Dad, aku bahkan berbicara pada bingkai foto"
Tok tok tok
"Pond, kamu sudah meminum obat mu?" tanya Luke yang berada di balik pintu kamar Pond.
"Sudah, Phi"
"Aku dan Mommy akan kembali ke mansion, jaga dirimu, kabari aku jika sesuatu terjadi dan -
"Jangan matikan maps di ponsel ku, aku mengerti Phi, pergilah sebentar lagi aku akan pergi tidur" jawab Pond.
"Baiklah, aku pergi... Maaf Pond"
Tidak berselang lama Pond bisa mendengar dua mobil keluar dari pekarangan rumah ini, Pond beranjak untuk melihat sejenak kepergian dua mobil itu.
"Penjara yang bagus"
YOU ARE READING
POND
General FictionHanya sebuah karangan dari seorang penggemar yang mencurahkan segala imajinasi tentang sang idola pada sebuah tulisan. Deskripsi tetang tulisan ini singkat saja. Hanya bercerita tetang remaja yang menemukan kebebasan nya pada banyak Orang asing yang...
