Mengungsi

4 1 0
                                        

Jalanan lengang. Hanya satu kereta kuda yang melintas. Roda kereta yang dilapisi karet tipis melindas kerikil-kerikil, membuat penumpang di dalamnya terguncang. Suasana di dalam kereta diselimuti kesunyian. Seorang gadis kecil bermata sayu menatap jendela. Bayang wajahnya terpantul di sana. Wajah manis yang biasa dilihatnya di cermin kamar itu kini suram. Tatap matanya kosong, kulit wajahnya pucat, bibirnya manyun. Manik coklat gelapnya melirik pantulan wajah kedua orang tuanya. Tidak jauh berbeda.

Usai menempuh perjalanan berhari-hari dengan kereta kuda, keluarga itu menyeberang lautan. Kemudian mereka menumpangi kereta kuda lagi hingga akhirnya sampai di depan sebuah rumah kecil, lebih kecil dari rumah mereka sebelumnya. Si gadis berdiri diam menatap rumah tersebut. Ini kehidupan barunya.

Sang Ibu yang sedang memindahkan barang, menatapnya. "Kamu harus hidup dengan baik kali ini. Jangan lagi membuat masalah."

Kepala mungilnya mengangguk. Sebelumnya, mereka nyaris dibunuh penduduk karena ulah si anak. Anak kecil berumur 10 tahun itu kesulitan menahan emosi. Dia lepas kendali. Untung ayahnya segera menemukan tempat tinggal baru sebelum amarah penduduk memuncak dan anak mereka dieksekusi di khalayak umum.

Seharian gadis kecil itu menghabiskan waktu dengan berdiam di dalam kamar, berlatih di depan cermin, menarik-narik bibir. Sebelumnya, bagaimana caraku tersenyum? Dia bertanya-tanya. Gadis berambut pendek sebahu itu menghalangi terang sinar matahari yang masuk lewat jendela kamar dengan tangan, kemudian menatap lekat-lekat tangannya sembari bertekad, jangan lagi buat ulah, jangan lagi buat ulah. Kendalikan emosimu, kendalikan emosimu. Tidak boleh marah, tidak boleh marah, tidak boleh marah, tidak boleh marah.

Sesi latihan itu berakhir dengan satu tarikan senyum. Masih belum bisa, hanya bibir yang tertarik. Tidak serta merta senyum itu mengubah ekspresi wajah suramnya. Ia menilik kalender yang tergantung di dinding kamar. Tahun 681 N, bulan Juni.

Esoknya, mereka sekeluarga pergi ke gedung Akademi Sihir Tera. Keluarga kecil itu memasuki sebuah ruangan di mana ada seorang pria di sana. Pria itu terlihat masih muda. Jenggot dan kumis tipis yang baru dicukur menghiasi wajahnya. Pria itu duduk di atas kursi putar. Dia merupakan wakil kepala Akademi Sihir Tera. Sang ayah duduk berhadap-hadapan dengan pria itu, sementara gadis kecil dan ibunya menunggu di sofa panjang yang terletak dekat pintu.

"Eve, sini, Nak." Ayahnya melambai usai berbincang sedikit dengan pria itu. Ia memamerkan anaknya di hadapan pria itu. "Ini anak kami."

Pria itu manggut-manggut, kemudian mengulurkan tangannya pada si gadis kecil. "Andy. Kamu?"

Gadis kecil itu membalas uluran tangan. "Eve, Evelina Nadya."

Andy menggores ujung jari telunjuknya dengan cutter. Darah segar mengalir dari ujung jarinya. Dipamerkannya jari itu kepada Eve. Wajah gadis cantik itu seketika memucat, degup jantungnya melaju cepat. Seluruh kenangan buruknya tentang darah terputar kembali.

"Pak!" Ayahnya menegur panik.

"Eve harus bisa mengendalikan ini. Kalau setetes darah saja membuatnya kalut, maka seterusnya pun akan berbahaya baginya," tegas Andy.

Napas Eve masih tersengal. Ia memalingkan wajah sembari memejamkan mata, berusaha mengusir ingatan buruknya akan kejadian dua minggu lalu.

"Setidaknya Eve bisa tenang di Tera. Di sini dia bukan abnormal, karena orang-orang abnormal lainnya juga bersamanya. Eve tidak akan dijauhi hanya karena punya kemampuan ini."

"Tapi..."

"Saya mengerti kekhawatiran anda." Andy memotong perkataan sang ayah, lantas mengelap lukanya dengan tisu. "Saya akan merahasiakan kemampuan Eve dari anak-anak lain. Tentu suatu saat rahasia ini akan terbongkar dan memang harus dibongkar. Kemampuan Eve ada bukan untuk disembunyikan, tapi dihadapi."

Eve kembali duduk di samping ibunya, sementara sang ayah masih berbincang dengan Andy. Eve akan dimasukkan ke Akademi Sihir Tera. Umumnya akademi sihir diisi oleh anak-anak yang bisa menggunakan sihir, tapi Akademi Sihir Tera sebagian besar diisi oleh anak-anak abnormal dan beberapa anak-anak normal.

Sihir adalah kemampuan umum yang banyak dipunyai orang, meski tak semuanya punya. Untuk menggunakan sihir, harus membaca sebaris mantra. Sihir bekerja ditandai dengan adanya cahaya, sementara kemampuan Eve tidak mencakup keduanya. Tidak perlu membaca mantra maupun muncul cahaya setelahnya. Dia abnormal. Seumur hidup ayah ibunya sampai kakek neneknya, tidak pernah menemui orang dengan kemampuan sepertinya.

Sepulang dari Akademi Sihir Tera, ayah dan ibunya memberi macam-macam petuah, terutama agar Eve tidak lagi membuat masalah dan harus mengendalikan emosi. "Kemampuanmu memang unik, sama seperti anak-anak lainnya. Sesuai kata Pak Andy, mereka tidak akan menjauhimu karena kamu punya kemampuan yang berbeda, tapi akan lain cerita jika kamu lepas kendali. Anak-anak akan takut dan mengucilkanmu. Jadi tolong, berhati-hatilah." Ayahnya memperingati.

Esok sebelum berangkat sekolah, Eve kembali berlatih di depan cermin. Selembar foto model cantik dengan senyum merekah ia tempelkan di bingkai cermin. Eve mengatur ekspresi wajah. Mata disipitkan, bibir ditarik, pipi diangkat. Sembari mengingat hal-hal lucu, ia berusaha tertawa. Wajah ceria itu tidak sama seperti dulu, tapi setidaknya lebih baik dari kemarin.

TeraWhere stories live. Discover now