Bab 1

181 6 0
                                        

( POV Jennie)

Malam itu, ketika bulan purnama menggantung indah di langit Seoul, aku duduk di kursi goyang dekat jendela kamar Haruto. Angin malam yang sejuk menyapu lembut wajahku, membawa aroma manis bunga lavender dari taman kecil yang Hanbin rawat dengan penuh dedikasi. Dalam dekapanku, Haruto, buah hati kami yang baru berusia enam bulan, terlelap dengan damai.

Aku tak bisa menahan senyum melihat wajah malaikat kecil kami. Haruto benar-benar replika sempurna Hanbin - rambut hitam legamnya yang mulai lebat, hidung mancung yang menggemaskan, dan bibir tipis yang selalu melengkung membentuk senyuman polos. Hanya bola mata bulat besarnya yang mewarisi genku, membuatnya terlihat semakin memesona.

"Kau tahu, Haruto-ya," bisikku lembut, tak ingin membangunkannya, "Ayahmu adalah pria paling luar biasa yang pernah Ibu temui."

Pikiranku melayang ke masa lalu, saat pertama kali aku bertemu Hanbin di universitas. Kala itu, aku hanyalah putri manja dari keluarga Kim yang tersohor. Terlahir dengan sendok emas di mulut, aku tak pernah kekurangan apapun dalam hidupku. Namun justru kemewahan itu yang membuatku merasa hampa dan terkungkung.

Lalu Hanbin hadir, bagai secercah cahaya di tengah kegelapan. Pemuda sederhana meskipun dari keluarga kaya, dan memiliki mimpi setinggi langit dan tekad sekuat baja. Kami bertemu di kelas komposisi musik - aku yang mengambil kelas itu hanya untuk mengisi waktu luang, sementara Hanbin yang berjuang keras mendapatkan beasiswa penuh demi mengejar passion-nya.

"Ibu masih ingat," lanjutku bercerita pada Haruto yang masih pulas, "saat pertama kali Ayahmu memperdengarkan lagu ciptaannya di kelas. Seluruh ruangan terdiam, terpesona. Bahkan profesor Kim yang terkenal pelit pujian pun tak bisa menyembunyikan kekagumannya."

Aku terkekeh pelan mengingat momen itu. Saat itulah, untuk pertama kalinya, aku merasakan debaran aneh di dadaku. Bukan karena ketampanan Hanbin - meski dia memang tampan dengan caranya sendiri - tapi karena pancaran passion dan dedikasi yang terpancar dari matanya saat dia bernyanyi.

Sejak saat itu, aku mulai mencari-cari alasan untuk dekat dengan Hanbin. Awalnya dia curiga dengan kehadiranku yang tiba-tiba, bahkan sempat berpikir aku hanya mempermainkannya. Tapi perlahan, seiring waktu berlalu, Hanbin mulai membuka hatinya untukku.

Kami melewati masa-masa sulit bersama. Orangtuaku yang awalnya menentang keras hubungan kami, cemoohan dari teman-teman sosialita yang menganggap Hanbin tak pantas untukku, hingga perjuangan Hanbin merintis karirnya dari nol di industri musik.

"Tapi Ayahmu tidak pernah menyerah, Sayang," aku mengusap lembut pipi Haruto. "Dia terus berjuang, menulis lagu demi lagu, hingga akhirnya salah satu lagunya menjadi hit besar."

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Hanbin telah menjadi salah satu penulis lagu dan produser musik paling dicari di Korea. Bahkan dia berhasil mendirikan label musiknya sendiri, meski masih dalam skala kecil. Namun di tengah kesuksesannya, Hanbin tidak pernah berubah. Dia tetap Hanbin yang sederhana, yang selalu mengutamakan keluarga di atas segalanya.

Suara langkah kaki yang familiar terdengar mendekat. Hanbin muncul di ambang pintu, senyum lembutnya mengembang melihatku dan Haruto.

"Belum tidur, Sayang?" tanyanya pelan, melangkah mendekat dan mengecup keningku lembut.

Aku menggeleng pelan. "Hanya sedang menikmati momen ini. Kau sudah selesai di studio?"

Hanbin mengangguk, tangannya dengan lembut membelai kepala Haruto. "Sudah. Lagunya hampir selesai. Besok tinggal proses mixing."

"Lagu untuk anniversary kita?" tanyaku penuh harap. Hanbin mengangguk, senyumnya melebar.

"Tentu saja. Lagu spesial untuk wanita spesial dalam hidupku."

Hatiku menghangat mendengarnya. Inilah Hanbin-ku, selalu tahu cara membuat hatiku meleleh dengan kata-katanya yang sederhana namun tulus.

"Ayo kita tidur," ajak Hanbin lembut. "Besok kita masih harus bangun pagi untuk check up bulanan Haruto."

Aku mengangguk, perlahan bangkit dari kursi goyang dengan hati-hati agar tidak membangunkan Haruto. Hanbin mengambil alih Haruto dari gendonganku, dengan lembut membaringkannya di box bayi.

Sebelum meninggalkan kamar, kami berdua berdiri sejenak di samping box bayi, memandangi malaikat kecil kami yang terlelap damai. Tangan Hanbin melingkar di pinggangku, menarikku dalam dekapan hangatnya.

"Terima kasih, Jennie-ya," bisiknya lembut di telingaku.

"Untuk apa?" tanyaku bingung.

"Untuk segalanya. Untuk mempercayaiku, untuk berjuang bersamaku, dan untuk Haruto. Kau dan Haruto adalah anugerah terindah dalam hidupku."

Air mataku nyaris menetes mendengar ucapan tulusnya. Aku berbalik, menatap dalam ke mata Hanbin yang selalu membuatku jatuh cinta.

"Aku yang seharusnya berterima kasih, Hanbin-ah. Kau telah memberiku arti hidup yang sesungguhnya."

Kami berciuman lembut, penuh cinta dan syukur atas kebahagiaan yang kami miliki. Di bawah sinar rembulan yang menerobos masuk melalui jendela, aku berjanji dalam hati akan selalu menjaga cinta dan kebahagiaan ini, apapun yang terjadi.

Karena bagiku, Hanbin dan Haruto adalah segalanya. Mereka adalah rumah tempatku pulang, tempat aku merasa aman dan dicintai apa adanya. Dan aku tak akan pernah menukar kebahagiaan ini dengan apapun di dunia.

A Heartbreaking Tale of BetrayalStories to obsess over. Discover now