HAPPY READING
Malam itu sunyi dan mencekam, dengan hanya angin malam yang sesekali berhembus lembut melalui pepohonan, menciptakan suara gemerisik yang menambah ketegangan. Lampu jalanan yang redup memberikan bayangan yang bergerak-gerak, seakan ada sesuatu yang bersembunyi di balik gelapnya malam.
Seorang perempuan berjalan dengan gugup, langkahnya semakin cepat, namun setiap kali dia menoleh, bayangan gelap itu selalu ada di sudut matanya. Perasaan dingin menjalar di sepanjang punggungnya, membuat bulu kuduknya berdiri. Dia merasakan tatapan yang tak terlihat, seakan ada mata-mata yang mengintainya dari kegelapan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar, bergema di jalanan yang sepi. Perempuan itu berhenti, menahan napas, berusaha mendengarkan lebih jelas. Langkah kaki itu semakin mendekat, beriringan dengan detak jantungnya yang semakin cepat. Dia berusaha mencari tempat berlindung, tapi bayangan itu terus mengikutinya, seperti hantu yang tak kenal lelah.
Di sudut jalan, dia melihat cahaya dari rumah yang tampak aman, namun ketika dia mendekat, cahaya itu padam seketika, meninggalkannya dalam kegelapan total. Di saat yang sama, suara berbisik mulai terdengar, samar-samar namun jelas. Suara itu memanggil namanya, dengan nada yang menyeramkan dan menakutkan. Perempuan itu memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi buruk, namun rasa dingin dan ketakutan yang menjalar di tubuhnya membuatnya sadar bahwa ini adalah kenyataan yang paling mengerikan.
Malam itu semakin mencekam ketika perempuan tersebut berusaha melarikan diri dari bayangan gelap yang terus menghantuinya. Dengan napas yang terengah-engah dan jantung yang berdebar kencang, dia menemukan sebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan. Tanpa berpikir panjang, dia membuka pintu dan melompat masuk, berharap pengemudi bisa membantunya melarikan diri.
Pengemudi itu, seorang pria dengan wajah yang hampir tertutupi bayangan topi dan sorot matanya yang dingin, menoleh kepadanya. "Ada apa?" tanyanya dengan suara serak, terdengar seperti bisikan dari kuburan. Perempuan itu hanya bisa terisak, mengucapkan permohonan untuk segera pergi dari tempat itu. Pria tersebut mengangguk pelan dan mulai mengemudi.
Di dalam mobil, suasana semakin aneh. Udara terasa dingin dan berat, seakan ada sesuatu yang tak terlihat ikut menumpang. Perempuan itu merasakan ketegangan yang makin memuncak, dan ketika dia melirik ke pengemudi, dia melihat sesuatu yang mengerikan. Mata pria itu, kini terlihat jelas, berwarna merah menyala seperti bara api. Wajahnya berubah menjadi menyeramkan dengan senyuman yang menyeringai.
Tanpa peringatan, pria itu menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil melesat dengan kecepatan yang tak terkendali, menerobos jalanan gelap dengan kelokan tajam. Perempuan itu berteriak, memohon untuk memperlambat, namun pria itu hanya tertawa, suara tawanya menggema dan menambah kengerian malam itu. Mobil bergoyang hebat, hampir kehilangan kendali di setiap belokan.
Di satu titik, jalanan itu berubah menjadi semakin sempit dan berkelok tajam. Mobil melaju semakin cepat, dan akhirnya, saat tikungan tajam muncul, mobil kehilangan kendali dan tergelincir keluar jalan. Dengan suara gemuruh yang mengerikan, mobil itu terbalik beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dengan posisi terbalik di dasar jurang kecil.
Perempuan itu merasakan sakit yang luar biasa, tubuhnya terjepit dan berdarah. Dengan kesadaran yang semakin memudar, dia melihat ke arah pengemudi. Pria itu masih duduk di tempatnya, namun tubuhnya kini berubah menjadi bayangan hitam pekat yang memudar perlahan, meninggalkannya sendirian di dalam kegelapan malam yang sunyi dan penuh teror.
***
Dengan napas terengah-engah dan keringat dingin mengalir di dahinya, Pelia terbangun dari mimpi buruknya. Dia terbaring di tempat tidurnya, sekelilingnya gelap dan sunyi. Dadanya naik turun dengan cepat saat dia berusaha menenangkan diri, menyadari bahwa semua yang baru saja dialaminya hanyalah mimpi.
Pelia mengusap wajahnya, mencoba menghapus sisa-sisa ketakutan yang masih menggantung di benaknya. Dia menoleh ke arah jam di meja samping tempat tidur, menunjukkan pukul 3:00 dini hari. Cahaya redup dari lampu meja memberikan sedikit rasa nyaman di tengah kegelapan kamar.
Dia duduk di tepi tempat tidurnya, masih gemetar. Ingatan tentang bayangan gelap, pengemudi menyeramkan, dan kecelakaan mobil itu terasa begitu nyata. Pelia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya hanyalah buah imajinasinya, namun perasaan takut masih menguasai dirinya.
Dengan hati-hati, Pelia bangkit dan berjalan menuju dapur. Dia menyalakan lampu, cahaya terang membuatnya merasa sedikit lebih tenang. Dia menuang segelas air dan meminumnya perlahan, berusaha mengusir sisa-sisa mimpi buruk dari pikirannya.
Pelia kembali ke kamar, mencoba untuk tidur lagi. Namun, setiap kali dia memejamkan mata, bayangan dari mimpi buruk itu kembali menghantuinya. Akhirnya, dia memutuskan untuk menyalakan televisi, mencari hiburan untuk mengalihkan pikirannya dari mimpi buruk yang baru saja dia alami.
Pelia meringkuk di sofa, berusaha mencari kenyamanan di tengah malam yang terasa panjang. Dia tahu bahwa itu hanya mimpi, tapi dampaknya masih terasa nyata, membuatnya sulit untuk benar-benar merasa aman. Namun, dengan waktu dan hiburan yang ringan dari televisi, perlahan-lahan rasa takut itu mulai memudar, meskipun masih meninggalkan jejak yang samar dalam pikirannya.
***
terimakasih sudah mampir, jangan lupa di vote yah😁
YOU ARE READING
DREAM?
RandomPelia mahasiswa fakultas seni rupa dan desain mengalami mimpi mengerikan yang terasa sangat nyata, dalam mimpinya dia mengalami kematian. Pelia pikir itu hanyalah mimpi buruk biasa namun mimpi itu terus ia alami saat ia tidak sengaja bertemu dengan...
