Seorang gadis kecil tengah menutup telinga dengan kedua tangannya. Gadis kecil itu sangat ketakutan ketika sang ayah terus berteriak kepada sang ibu.
"Dasar, istri tidak berguna! KAU KEMANAKAN UANGKU HAH?!" teriak Dito sambil berkacak pinggang.
"Uang itu sudah habis Mas, sudah aku pakai untuk membeli obat asma Sofia." Nisa memberikan secarik kertas sebagai bukti pembelian obat tersebut.
Dito merampasnya dengan kasar. Kemudian meremas kertas itu hingga tak berbentuk.
"Sofia lagi? Sudah berapa banyak uang yang kau habiskan untuknya HAH?!" prustasi Dito sambil melempar kertas yang ia genggam.
"Dia anakmu Mas, kenapa kamu menanyakan hal seperti itu?" tanya Nisa dengan sabar.
"Aku tidak peduli. Pokoknya, uang itu harus ada nanti sore! Jika tidak, kau tahu sendiri akibatnya." Dito pergi begitu saja meninggalkan Nisa yang terdiam di tempatnya.
Dito pergi menuju bengkelnya yang tak jauh dari rumah. Bengkel itu ia dirikan setelah menikah dengan Nisa.
Sementara Nisa. Hanya termenung mengingat sikap tempramental sang suami. Saudara dan tetangganya, bahkan sudah sangat hapal dengan sikap Dito yang semena-mena. Tetapi sampai saat ini, Nisa masih memilih bertahan.
Nisa beranjak dari duduknya untuk menghampiri anak kesayangannya. Nisa khawarir Anaknya ketakutan dan menangis.
"Sofia, buka pintunya, Nak!" pinta Nisa lembut.
"Cantiknya ibu, ayah sudah pergi Nak. Buka pintunya, ya!" pinta Nisa sekali lagi.
Ceklek.
Pintu kamar yang bernuansa baby pink itu terbuka. Gadis kecil itu langsung menghambur ke dalam pelukan sang ibu. Tangan kecil itu memeluk pinggang sang ibu dengan erat.
"Ayah marah gara-gara sofia lagi ya, Bu?" tanyanya dengan murung
Nisa mengurai pelukan Sofia dengan lembut. lalu menyamakan tinggi badannya dengan sang anak.
"Tidak Nak, ayah tidak marah karena kamu. Itu memang salah ibu. Jadi, anak cantik ibu tidak perlu khawatir, ya!" jawab Nisa sambil mengusap pipi Sofia.
Sofia memandang sang ibu dengan seksama. Gadis itu selalu khawatir dengan sang ibu yang selalu dimarahi ayahnya. Tetapi, hanya ada wajah tulus yang ibunya tunjukan kepadanya.
Pada akhirnya, Sofia hanya mengangguk dan memberikan senyuman terbaik untuk ibu tercinta.
"Apakah Sofi sudah lapar?" tanya Nisa.
"Huum, Sofia lapar sekali." Sofia menunduk sambil mengelus perutnya yang keroncongan.
"Haha ... baiklah, sekarang kita ke dapur. Ibu akan membuatkan makanan special untuk anak kesayagan ibu." Nisa menggandeng tangan kecil itu menuju dapur.
"Yeeeyy, Terima kasih, Ibu." jawabnya sambil melompat kecil.
"Sama-sama, Nak."
Nisa berlalu menuju dapur sambil menggandeng Sofia yang berjalan sambil melompat kecil. Ya, gadis kecil itu sangat bersemangat untuk menyantap makanan kesukaannya.
Gadis kecil itu bermama Sofia Arunika. Gadis yang sangat cantik, dengan wajah mungil yang memiliki bibir kecil tipis yang sangat lucu. Usianya 9 tahun. Dan tidak lama lagi, Sofia akan berulang tahun yang ke 10.
Sayangnya di usia 1 tahun, Dokter mendiagnosis Sofia menderita asma. Penyakit asama belum ada yang bisa sembuh secara permanen. Oleh karena itu, asma harus mendapat penanganan yang berkelanjutan. Itu sebabnya, hingga saat ini, Sofia masih menderita asma.
YOU ARE READING
Dad, Where Are You
ChickLitGadis kecil bernama Sofia, yang bertahan di tengah kerasnya hidup setelah ia kehilangan peran sang ayah. Sang ayah memang berada di dekatnya, akan tetapi ia tidak pernah merasakan kehangatan akan sosok sang ayah. Sebab, sikap ayahnya yang acuh dan...
