Prolog

31 3 3
                                        


"Warning!
Cerita ini hanya bersifat fiksi,
tidak ada kaitan nya dengan kejadian
-Dunia nyata-".

"Mohon kebijakan
Dari para pembaca.
Salam sayang Author,

-attha_nandra-".
.
.
.
.
.

Cerita ini dirombak oleh author karena
adanya kepentingan dan untuk
menyeimbangi kegiatan author.
Terimakasih untuk para pembaca
karena telah mampir ke akun ini!

.
.
.
.
.

Kalender kerajaan tahun 468. 25 Agustus. Istana Bulan Celestial. Alam Dunia Mimpi.

  Blarr!
"AKHHH!!"
Ledakan kembali menggetarkan seisi istana bulan Celestial. Para penyihir terus berkeliaran menjaga setiap sisi Istana untuk mencari keberadaan musuh. Elenite bergerak menuju aula Istana, memberi titah atas para penyihir yang tersisa.
"Dengar, para penyihir bulan!"
"...?!"
"Apa pun yang terjadi, pertahankan Istana Bulan Celestial!"

  "Matahari Mayor Nyllev menginginkan kebaktian kita padanya! Inilah sebagai bentuk kebaktian kita!"
"Pertahankan Istana Celestial dari Alauthron!!"
"Baik!!"

  "Elenite!" Panggil seorang wanita dari belakang seusai pembubaran para penyihir untuk menyebar ke seluruh bagian Istana. Ia mengernyitkan dahinya, mata hitam yang seindah galaksi itu menatap Elenite.

  "Amora-"
"Alauthron..."
"Dia pasti kembali lagi dengan kekuatan yang besar untuk merampas istana bulan Celestial!" Serunya keras. Elenite menatap tajam Amora, menghela nafas panjang.
"Dia menginginkan permata mimpi, Amora. Tak lagi keinginan nya untuk menguasai Istana Bulan Celestial."

  "Apa?! Tapi, kita tidak sebanding dengan nya, Elenite! Kekuatan kita tidak akan cukup untuk melawan nya!" Amora berseru keras. Elenite mengangguk, ia tahu, dan ia sudah memperhitungkan serangan ini dari jauh-jauh hari.
Elenite kembali menatap Amora, sambil tersenyum lembut, menenangkan saudari nya tersebut.

  "Amora-"
Boom!!
"...?!"
Ledakan besar kembali mengguncang Istana. Teriakan para penyihir bulan yang menjerit kesakitan dalam penderitaan sihir iblis,di balik kabut, sosok bayangan hitam datang menghampiri mereka berdua.

  "... Alauthron?!"
"Hahaha..."
"HAHAHAHA...!!" Tawa itu meledak, udara pertempuran yang kuat mengental di sekitar mereka. Elenite melangkah maju, melindungi Amora dari depan.

  "Alauthron, tak kusangka kau kembali untuk membuat kekacauan di istana."
"Iblis mana lagi yang kau perbudak?!" Tanya Elenite dengan tegas, mata emasnya tajam memandangi bayangan hitam yang keluar dari kabut.
Memperlihat kan wujud seseorang, seolah mimpi buruk bagi Amora, di mana seluruh kekuatan kegelapan menyatu padanya.
Tanduk Iblis yang ada tumbuh di kepalanya.

  "Kejutan, Elenite! Senang kembali bisa bertemu dengan tangan kanan kesetiaan Matahari Mayor!" Alauthron berseru, mata merah nya tajam dengan seringai mengerikan menatap Elenite dan Amora bergantian.
Elenite mengernyitkan dahi, aura kejahatan yang besar terus menekan jiwa nya dari luar.
"Uhh...Aku tidak bisa mengatasi nya sendirian saja...!" Batin Elenite cemas.

  "Amora,"
"...?!"
"Cari Owly. Aku akan mengulur waktu untuk menanganinya, kita butuh segel Owly. Cepat!"
"Uhh, tapi-"
"Cepat, Amora!" Titah Elenite tegas. Amora terperangah, namun tak lama baginya untuk patuh pada perintah itu, ia dengan segera mengangguk, pergi meninggalkan Elenite bersama Alauthron di aula.

Lucid Dream Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang