1

232 5 0
                                        


"Jangan menangis Hannah, Mama kan sudah memberi saran jalan keluar yang terbaik, kau sendiri yang mau mempertahankan bayi itu."

Ucap seorang wanita paruh baya yang kini sedang merajut sepasang kaos kaki bayi untuk calon cucunya yang akan lahir. Seorang wanita hamil yang sedang duduk dimeja makan itu tampak sedih membaca hasil pemeriksaannya minggu ini.

"Ma, kelahirannya sangat kami tunggu-tunggu. Aku tidak rela membunuhnya." ucap Hannah sembari mengusap air matanya.

"Lalu apa yang kau tangisi? Kalau memang ingin mempertahankannya, jangan pernah menyesalinya." ucap Mama dan Hannah tampak menganggukkan kepalanya.

"Mama, jangan membuat Hannah stress." ucap seorang pria yang sedang berdiri didepan jendela, sama sedihnya dengan istrinya tersebut.

"Robert, Mama sayang dengan Hannah. Kalian kan sudah tahu janin itu memiliki kelainan, Dokter sendiri juga menyarankan untuk aborsi. Lalu apa salahnya mengikuti saran Dokter?" ucap Mama dan Robert tampak menghela napasnya berat. Pria itu berbalik badan menatap Ibu kandungnya dengan tatapan tegasnya.

"Robert dan Hannah akan tetap mempertahankannya Ma. Kami sudah 7 tahun menikah dan ini adalah kesempatan kami untuk mendapatkan seorang anak. Kami akan melakukan apapun untuk membantunya bertahan hidup, bayi itu akan mengerti dengan sendirinya ketika beranjak besar nanti." ucap Robert.

"Mama menyetujui jika saja bayi itu cacat fisik Robert. Tapi apa nyatanya, kalian akan membesarkan seorang psikopat." ucap Mama.

"Ma, dia belum lahir." sahut Hannah dengan nada suaranya yang melirih.

"Maafkan Mama Hannah, Mama hanya khawatir pada kondisimu dan masadepan kalian. Mama tidak membenci bayi itu, hanya saja,--"

"Mama sudah, kami tidak mau mendebat Mama. Dengan atau tanpa persetujuan Mama, anak kami akan tetap lahir." ucap Robert yang kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga.

Hannah kemudian menyusul, meninggalkan Mama yang terlihat sedih ketika menyadari kedua anaknya tidak mengerti suatu hal. Dokter menyatakan bahwa ada gangguan pada otak sang jabang bayi, dan mungkin saja itu akan mempengaruhi tingkah lakunya nanti ketika lahir. Dokter masih mencoba mencari tahu apa penyebabnya, dan menyarankan agar Hannah melakukan aborsi, tapi karena ini adalah kehamilan Hannah yang kesekian kalinya telah melewati bulan ke 7, Hannah dan Robert tidak sampai hati menggugurkannya.

Sekitar 5 sampai 7 kali Hannah hamil, dan bayinya tidak pernah bertahan hingga lebih dari 5 bulan. Karena kondisi fisik Hannah yang lemah ia memang divonis sulit punya keturunan, pun ketika hamil resikonya akan sangat besar. Itulah sebabnya, Robert dan Hannah bersikeras mempertahankan bayi mereka kali ini. Karena mungkin saja, bayi itu masih bisa diselamatkan.

****

17 tahun kemudian...

Suara teriakan beberapa siswi saling bersahutan disebuah sekolah swasta bergengsi dikota itu. Mereka menyaksikan sebuah mayat siswi kelas 12 tergantung dengan leher terikat tali disebuah kamar mandi dilantai 3. Siapapun tau dan mengenal siswi tersebut, seorang siswi beasiswa dengan prestasi dibidang akademik itu mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara gantung diri.

Pihak sekolah langsung menghubungi ambulans dan kepolisian untuk menyelidiki kasus ini. Mayat siswi cerdas itu dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi. Dan pada akhirnya, kamar mandi tempatnya mengakhiri hidup itu ditutup permanen. Ini bukan kisah tentang arwah penasaran, hanya saja untuk melupakan kejadian traumatik tersebut, perlu dilakukan penutupan kamar mandi tersebut.

"Sialan, kenapa dia mati disini." gumam seorang gadis cantik dengan rambut hitam legam sebahu itu yang kini duduk di bangkunya.

"Aku jadi takut Jane!" ucap seorang gadis dengan nametag Florasis Anara.

Who's? (Tamat)Stories to obsess over. Discover now