Langit sore itu membiaskan cahaya keemasan, membelai wajah seorang gadis yang berjalan di koridor sekolah dengan langkah ringan. Di SMA Arunika hampir semua orang mengenal Nasya Amira. Gadis yang lebih sering dipanggil Acha itu seperti cahaya di tengah aula - kehadirannya selalu membuat mata tertuju. Wajahnya cantik dengan senyum yang nyaris selalu terukir, langkahnya ringan seperti melangkah di atas nada musik yang hanya ia yang dengar.
Ia pintar, supel, dan selalu berhasil mendapatkan apa yang ia mau. Segalanya datang padanya dengan mudah, bahkan perhatian dari orang-orang yang hanya sekadar lewat di kehidupannya. Usianya tujuh belas, dengan senyum yang mampu membuat orang lupa pada kata-kata mereka sendiri. Kehadirannya seperti wangi bunga yang tak pernah luput dari musim-menarik, lembut, namun menyisakan rasa ingin tahu yang tak kunjung usai.
Rambut hitamnya tergerai, berkilau saat disentuh cahaya matahari. Ia berjalan dengan percaya diri, bukan angkuh, tapi penuh kesadaran akan setiap tatapan yang jatuh padanya. Nilainya di sekolah selalu baik, kecerdasannya menambah pesona yang sudah sejak lama mengelilinginya. Ia tahu cara berbicara yang membuat orang betah mendengarkan, ia tahu kapan harus tersenyum untuk menenangkan, dan kapan harus bersikap manis untuk mendapatkan sesuatu. Baginya, hidup adalah panggung di mana setiap langkah harus indah, dan setiap kata yang diucapkan harus meninggalkan bekas.
Namun di balik semua itu, Acha hanyalah seorang gadis biasa yang masih mencari makna kehadirannya. Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau-dari barang-barang yang diinginkan, perhatian dari orang-orang di sekitarnya, hingga cinta dari mereka yang jatuh hati padanya hanya dalam hitungan detik. Dunia seperti mengajarkan bahwa keinginan adalah sesuatu yang tinggal diucapkan, lalu akan hadir di hadapan.
Di antara gemerlap perhatian yang menyelimutinya, ada satu sosok yang selalu berada di sisinya-Alya Mahesa. Gadis itu berbeda dari Acha dalam segala hal. Alya tak menonjol, tidak suka menjadi pusat sorotan, dan memilih berada di sudut ruangan sambil mengamati dunia dalam diam. Kulitnya sawo matang, rambutnya sering diikat sederhana, dan matanya teduh seakan mampu menyimpan ribuan rahasia. Alya tidak pernah iri pada Acha, meskipun ia menyadari bahwa kehidupan sahabatnya jauh lebih dipenuhi warna dan kilau. Ada rasa nyaman yang membuat mereka tetap bertahan dalam persahabatan yang sudah terjalin sejak duduk di bangku SMP.
Acha sering menggandeng tangan Alya di koridor sekolah, mengajaknya makan siang di kantin sambil bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang membuatnya bersemangat. Alya hanya tersenyum, sesekali menanggapi, lebih sering mendengarkan. Mereka berdua adalah dua dunia yang berbeda, tapi entah mengapa saling melengkapi. Acha seperti matahari yang hangat, sementara Alya adalah bulan yang lembut-sama-sama menerangi, tapi dengan caranya masing-masing.
Meski memiliki segalanya, Acha tak pernah benar-benar memikirkan arti kehilangan. Baginya, cinta adalah permainan indah yang selalu dimenangkan. Ia tidak pernah merasa perlu untuk berjuang terlalu keras demi hati seseorang, karena pada akhirnya, mereka yang datang selalu memilih untuk tinggal. Dan jika pun pergi, akan ada yang lain datang menggantikan. Ia tidak menyadari bahwa di suatu titik hidup, akan ada satu nama yang tak bisa ia miliki, meskipun seluruh hatinya merindukan.
Hari itu, Acha duduk di bangku taman sekolah sambil memutar-mutar botol minuman di tangannya. Angin membawa aroma dedaunan basah, sisa hujan yang baru saja reda. Alya duduk di sebelahnya, membaca buku dengan tenang. Acha melirik sahabatnya, lalu tersenyum tipis.
"Lo tahu nggak, Al?" Acha memecah keheningan.
"Apa?" jawab Alya tanpa mengalihkan pandangan dari halaman buku.
"Gue bosen. Semua orang terlalu mudah ditebak. Semua terlalu... gampang, Gue bosen kayaknya gak ada yang menantang." gumamnya sambil memandang jauh.
Alya menutup bukunya perlahan. "Gampang bagaimana?"
"Gampang banget gue dapetin, gampang bilang suka sama gue, Gampang bilang cinta. Gampang menyerah kalau gue mulai menjauh. Gue pengen sesuatu yang... lain, Gue pengen merasakan benar-benar jatuh cinta Al, debaran jantung yang menggebu kaya cerita novel, rasanya sejauh ini belum ada yang mampu bikin gue merasa begitu." jawab Acha, menatap langit yang mulai dipenuhi awan jingga.
Alya tersenyum samar. "Hati-hati dengan keinginan lo, Cha. Kadang, yang lain itu bukan selalu indah. Kadang, justru yang sulit itu akan melukai. Kalau lo memilih untuk masuk ke dalam perasaan cinta, lo harus siap juga untuk luka."
Acha tertawa kecil. "Lo salahsatu korban novel juga kayaknya Al, puitis banget kata kata lo."
Alya tidak membalas, hanya kembali membuka bukunya. Namun di sudut hatinya, ia merasa firasat aneh. Seakan sesuatu memang akan datang menghampiri sahabatnya-sesuatu yang berbeda dari semua yang pernah ia miliki. Dan firasat itu, tanpa mereka sadari, akan mengubah segalanya.
Senja semakin menebal, membungkus sekolah dengan cahaya lembut yang perlahan meredup. Acha tidak tahu, bahwa di balik dinding-dinding ruang kelas, langkah seorang murid baru tengah menuju kehidupannya. Langkah itu akan menguji arti persahabatan, membongkar rahasia masa lalu, dan memaksa hatinya untuk mengerti bahwa tidak semua yang diinginkan bisa dimiliki, bahkan ketika cinta itu sudah menggenggam jantungnya sendiri.
YOU ARE READING
DETAK SENJA
Teen FictionAcha dan Fares, dua jiwa yang bertemu dan menemukan arti kasih dalam kebersamaan. Acha dengan mimpinya merawat anak-anak, Fares dengan tekadnya melindungi mereka dari kesepian. Bersama, mereka berjanji menebar cinta yang tak terbatas. Namun di tenga...
