Di jantung Pulau Jawa yang mistis, pada awal abad ke-20, terhampar sebuah desa tradisional bernama Jatiwangi. Desa itu adalah permata tersembunyi, diapit oleh perbukitan yang hijau dan hutan-hutan lebat yang dipenuhi bisikan kuno. Fajar menyingsing di atas Jatiwangi, memancarkan warna-warna keemasan yang seharusnya membawa kedamaian, namun sinarnya kini terasa dingin, menembus lapisan ketakutan yang mencekam setiap penduduk di bawah tirani Raja Arjuna Prasetyo Wijaya.
Clara Sinta, enam belas tahun, adalah perwujudan kemurnian Jatiwangi. Rambutnya, hitam legam seperti malam tanpa bulan, selalu dikepang rapi, menjuntai di bahu kurusnya yang rapuh. Kulitnya seputih melati, kontras dengan pipinya yang selalu merona merah jambu, seolah-olah bunga teratai kecil tumbuh di sana. Matanya, dua permata hitam yang besar dan jernih, memancarkan kepolosan seorang anak, namun juga memendam secercah kecemasan yang mendalam, sebuah cerminan dari beban yang diemban jiwanya. Dengan tubuh yang semampai namun berisi, setiap gerakannya adalah tarian anggun yang tanpa sadar memikat mata. Pagi itu, ia mengenakan kebaya katun sederhana berwarna indigo, dipadukan dengan kain batik sogan yang usang. Ia adalah seorang wanita muda yang terjebak dalam pusaran takdir yang kejam, sebuah pion di tangan Raja Arjuna Prasetyo Wijaya.
Arjuna Prasetyo Wijaya, Sang Raja, adalah sosok yang menjulang tinggi, dengan fisik yang kokoh dan berotot. Rambutnya yang hitam kelam disisir ke belakang, menampakkan garis rahang yang tegas dan hidung mancung yang angkuh. Matanya, tajam dan dingin, sering kali memancarkan kilatan nafsu dan kekuasaan yang tak terbatas. Sebuah luka parut memanjang di pipi kirinya, menambah kesan brutal pada wajahnya yang tampan namun mengerikan. Ia adalah seorang tiran tanpa belas kasihan, penguasa yang haus akan kekuasaan dan kesenangan, yang memandang rakyatnya tidak lebih dari alat untuk memuaskan hasratnya.
Suatu sore yang panas, ketika matahari terbenam mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu, Clara sedang membantu ibunya menjemur padi di halaman rumah. Tiba-tiba, suara derap kuda yang memekakkan telinga memecah keheningan. Jantung Clara berdegup kencang, sebuah firasat buruk yang mengerikan. Arjuna Prasetyo Wijaya turun dari kudanya yang gagah, seekor kuda jantan hitam legam yang ia sebut Kala Hitam. Prajurit-prajuritnya, berbalut zirah kulit dan bersenjatakan tombak tajam, segera mengepung rumah Clara.
Wajah Arjuna yang dingin menatap Clara, matanya yang tajam mengunci pandangan gadis itu. Clara merasakan bulu kuduknya berdiri. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Ibunya, yang berada di sampingnya, segera menariknya ke belakang, mencoba melindunginya dengan tubuh ringkihnya.
"Clara Sinta," suara Arjuna dalam dan bergemuruh, seperti guntur yang jauh. "Kudengar kau adalah bunga terindah di desa ini. Dan bunga terindah, sudah sepantasnya berada di taman kerajaanku."
"Ampun Baginda," ibu Clara memohon, berlutut di tanah, tangannya gemetar. "Putri hamba masih terlalu muda. Dia masih anak-anak."
Arjuna hanya tertawa, tawa yang kejam dan menghina. Ia melangkah maju, tangannya yang besar dan kasar mencengkeram dagu Clara, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. Clara merasakan sentuhan dingin dan menjijikkan dari jari-jari Arjuna. Ia bisa mencium aroma musk dan keringat dari tubuh Raja yang mendekat. Ketakutan merayapi setiap inci tubuhnya. Ia melihat pantulan ketidakberdayaan dan horor di matanya sendiri.
"Anak-anak?" bisik Arjuna, suaranya kini lebih rendah, lebih mengancam. "Di mataku, ia adalah seorang wanita. Seorang wanita yang akan belajar melayaniku, seperti wanita-wanita lain sebelum dia."
Matanya menyapu tubuh Clara, tatapannya membakar dan merampas setiap privasi. Clara merasa telanjang di bawah tatapan itu, meskipun pakaiannya menutupi setiap inci kulitnya. Ia merasakan pandangan Arjuna berlama-lama pada lekuk tubuhnya, pada dadanya yang mulai berisi, pada pinggulnya yang tipis. Rasa mual melanda perutnya.
"Bawa dia," perintah Arjuna pada prajuritnya, tanpa melepaskan pandangannya dari Clara.
Dua prajurit bertubuh besar segera menarik Clara. Clara berontak, berteriak, air mata mengalir deras di pipinya. Ibunya menjerit, mencoba meraihnya, namun ia didorong mundur dengan kasar oleh prajurit lain. Kekuatan mereka terlalu besar. Clara Sinta yang malang, seorang gadis yang tak berdosa, kini ditarik paksa. Setiap langkah kakinya terasa seperti ditarik dari kehidupannya yang lama. Ia melihat rumahnya semakin menjauh, bayangan ibunya yang berlutut dan menangis menjadi titik kecil di kejauhan. Sebuah tangan kasar mendorongnya ke dalam sebuah gerbong, dan suara pintu yang dibanting menutup terdengar bagaikan takdir yang terkunci. Ia tahu, kehidupannya yang dulu, yang penuh kepolosan dan mimpi-mimpi sederhana, kini telah berakhir. Di depannya terbentang jurang kegelapan yang tak terbayangkan.
---Bersambung---
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Perjalanan Clara: Kelahiran Seorang Ratu
Genel KurguDi jantung Pulau Jawa pada awal abad ke-20, desa tradisional Jatiwangi berada di bawah cengkeraman tirani Raja Arjuna Prasetyo Wijaya. Clara Sinta, seorang gadis remaja yang cantik dan polos, menjadi target utama Raja karena kecantikannya. Kisah ini...
