1

725 39 0
                                        


Pria itu terus melajukan mobil sport hitamnya membelah jalanan kota. Dia mengetuk-ketukan jarinya statis pada roda kemudi. Pikirannya kosong, tubuhnya begitu tidak tenang dan lelah saat ini. Entah sudah kali ke berapa ia merasakan perasaan seperti ini. Berkat pekerjaan yg selalu ia lakukan, ia terpaksa harus selalu merasakan otaknya beku ketika berkendara pulang.

Hingga tanpa sadar mobil yang ia kendarai sudah berhenti tepat di depan gerbang sebuah mansion yang menjulang tinggi.

Pria berjaket hitam itu mengusak wajahnya kasar, sedikit berterimakasih pada mode autopilot otaknya yang selalu mengantarkannya pulang dengan selamat. Padahal entah apa yang sudah ia lewati sepanjang perjalanan tadi.

Perlahan gerbang tinggi itu terbuka dan memunculkan seorang pria bertubuh tinggi dengan setelan jas hitamnya. Pria bertubuh tegap itu sedikit menundukan kepalanya ke arah mobil yang baru saja datang.

Saat gerbang terbuka sepenuhnya, sang pria muda dengan cepat melajukan mobilnya memasuki pekarangan mansion menuju garasi.

Dengan tas besar di punggungnya, ia keluar dari mobil dan menutupnya kembali dengan cukup keras.

"Selamat datang kembali tuan muda" ucap salah satu pria paruh baya yang baru saja datang menghampirinya.

"Ah, halo paman! Apa byul sudah tidur?" tanyanya sedikit tersenyum melihat sang pelayan.

"Ia baru saja tidur tuan muda"

"oh ayolah paman, sudah berapa kali kubilang jangan memanggilku begitu"

Sang pelayan sedikit tersenyum lalu menundukan kepalanya tak menjawab sang tuan.

Sang pria muda mengerutkan keningnya bingung, sedikit curiga.

"Apa ayah ada di rumah?"

Sang pelayan menganggukan kepalanya pelan, lalu membungkukan sedikit tubuhnya untuk pamit dari sana.

"Silahkan beristirahat tuan Wooyoung, saya sudah menyiapkan air hangat dan kopi kesukaan tuan di kamar"

"Saya permisi sekarang, karena takut tuan Seonghwa membutuhkan sesuatu"

Sang pria muda mengangguk paham lalu tersenyum pada sang pelayan "terimakasih paman"

Sang pelayan membalas senyumannya lalu dengan cepat berlalu dari sana kembali memasuki mansion luas itu.

"hhh, benar-benar hari yang melelahkan"

....

Dengan langkah yang gontai, sang pria muda memasuki mansion melalui pintu utama, ia membuka dan menutup pintu besar itu dengan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan kebisingan.

Sepi

Tidak ada manusia sejauh mata memandang.

Sudah menjadi pemandangan sehari-harinya setiap ia kembali memasuki mansion ini tengah malam mengjelang pagi.

Lagipula bagaimana tidak sepi? Mansion yang awalnya yang dihuni 4 orang tuan kini berkurang menjadi 3 orang, semenjak kematian kaka perempuannya.

Tapi walau begitu, dirinya tak pernah merasa kesepian hidup di sangkar emas ini, karena ada satu malaikat kecil yang selalu berlarian menyambutnya.

"PAPAAAAAAAA!!!!"

suara melengking itu cukup mengejutkan si pria muda. Dengan cepat ia menoleh ke sumber suara keras itu.

Terlihat seorang anak laki-laki berlarian dengan memeluk sebuah boneka shiber dan seorang pria muda lainnya yang terlihat sangat panik ikut berlarian mengejarnya menuruni tangga mansion.

Chasing The Darkness | Sanwoo/WoosanStories to obsess over. Discover now