Ini Asin, jujur, setelah sekian lama hampir melupakan cerita ini dan lembaran kertas usang berisi alur ceritanya (hilang kertasnya ಥ‿ಥ).
Aku merasa pengen lanjutin lagi, meskipun dengan ingatan yang terfragmentasi setidaknya beberapa garis besar yang penting di cerita ini masih ada di otakku.
Prolog di akun satunya aku males copy, jadi aku revisi dan ngilangin judul prolog langsung chapter satu aja, bikin prolog ribet makanya di sana pendek.
Ngomong-ngomong, kalian ngerasa familiar gak sih sama Gerinda, kayak pernah dengar gitu tapi ga tau apa, soalnya aku kek gitu, dulu aku bikin ini biar keliatan unik dan rare gitu loh, tapi kok lama-lama jadi aneh gitu, aku bimbang pengen ganti, tapi males nyari yang keliatan ada aura arogan dan bossy gitu.
Ada saran?
Untuk sementara, namanya aku ganti jadi Merida, karena Gerinda bikin hati ganjel
Asin-
***
Merida menyesal datang ke kantor dengan berjalan kaki, dia ingin menggunakan mobil tapi pasti niatnya untuk pergi akan dihentikan oleh keluarganya.
Gara-gara dia lupa membawa sebuah dokumen berisi laporan yang akan digunakan untuk pertemuan antar direktur perusahaan besok pagi.
Dalam hati dia menyumpah serapah apapun yang terpikirkan oleh otaknya.
Sebenarnya, meski laporan itu terlambat diselesaikan, dia hanya akan mendapatkan teguran, lagipula salah satu direktur adalah bibinya.
Tapi hal itu akan menodai sifat perfeksionisme dalam dirinya, di kantor, gadis itu dikenal sebagai orang yang selalu mengerjakan dengan sempurna tugas-tugasnya itulah penyebab kenapa Merida memilih untuk nekat pergi ke kantor meski jam 11 hampir dekat.
Ditengah pikiran dan lamunannya, handphone dalam kantong baju berdering, dia mengecek ponselnya, dering pesan terdengar nyaring efek diamnya malam.
Pesan tersebut tertulis, 'Rida, tadi aku pergi ke peramal, lho. Terus, aku kepikiran tentang mimpi kamu itu, jadi aku tanya, deh, si peramalnya bilang kalau (sejatinya, mimpi adalah sesuatu yang pudar), gitu, peramalnya ngomong setengah-setengah, aku minta jelasin, tapi dia diem, yaudah aku pergi aja.' Dari Sera.
"Ck! Apa-apaan coba?! Hari gini percaya peramal," gumam Merida, langkah kakinya dan mengeratkan mantel tidak berkancing tersebut.
Jubah yang mencapai lutut itu sedikit berkibar di bagian bawah karena langkah kaki Merida yang besar, gadis itu ingin berlari, sayangnya bawahan yang dia pakai adalah rok ketat.
Gadis dengan rambut bergelombang berwarna coklat kemerahan tersebut mengecek jam tangannya secara berulang, khawatir melewati jam malam, begini-begini dia masih patuh aturan yang ditetapkan pemerintah meski dia tidak percaya mitos, neneknya kan—
Tap!
Suara langkah kaki lain membuyarkan lamunan Merida, bodohnya dia, yang bukannya melanjutkan kakinya untuk berjalan malah berpaling berniat menegur dan ... Ah b*ngsat!
Mitos di dongeng Selestinus nyata!
Dia melihat siluet tubuh yang tingginya tidak masuk di akal mendekatinya saat dia sedang berpikir bahwa mitos tersebut hanyalah mitos.
Merida tidak yakin, sejujurnya dia parno saja makanya langsung lari. Padahal mungkin saja cuma tiang.
Merida berlari dengan kecepatan penuh mengabaikan rok ketat, larinya sedikit terseok-seok, 5 menit lagi jam 11 sedangkan dia belum sampai ke rumah, perfeksionisme sialan, batinnya.
Padahal kan belum jam 11, kenapa iblisnya sudah keluar? Ishh tidak ada orang yang se-perfeksionis Merida, lagipula itu bukan jam kantor, terserah si iblis mau on time atau lebih awal.
Dia berbelok ke gang, jalan pintas menuju pintu belakang rumahnya, tiga rumah lagi maka ia sampai. Dalam hati terus berdoa agar waktu diperlambat sedikit.
"Se ... Les ... Ti ... Nus." Suara serak berserakan dan putus-putus tersebut terdengar mengerikan ketika didengar di kesunyian malam, napas yang Merida tarik hanya secuil, dia harus lari lagi, tapi kakinya sudah terasa seperti jelly. Ah! Sial! Iblis pakai teleportasi, ya? Kenapa cepat sekali?!
"Anj*ng memang," gumamnya sebelum tengkuknya terkena benda tumpul, dia mengerjapkan matanya memfokuskan iris emerald tersebut, skuter? Merida menyeringai—hampir seperti meringis—dia merenung, iblis modern kah?
***
Sejak fajar menyingsing, polisi tak henti-hentinya patroli di sekitar komplek perumahan kediaman Morne, lakban kuning menyertai gapura komplek tersebut.
Anak perempuan mereka hilang tanpa jejak, para wartawan berhamburan di dekat lakban kuning tersebut menunggu keluarnya orang-orang yang bersangkutan dengan kasus ini. Sedangkan kediaman Morne tampak sunyi senyap, polisi dan detektif yang dikerahkan tidak datang ke sana melainkan hanya mengecek CCTV di jalan tersebut.
Anggota keluarga Morne yang terdiri dari nenek Merida, orangtuanya, dan paman serta bibi diketahui pergi ke tempat beribadah menemui pemuka agama, berdoa untuk keselamatan Gerinda.
"Berita hari ini. ... Pemirsa, Merida Morne cucu dari walikota Morne dikabarkan menghilang tanpa jejak. Namun, telah ditemukan sebuah skuter berwarna merah di samping gerbang rumah milik walikota, detektif dan polisi terbaik telah dikerahkan untuk menyelidiki kaitan antar skuter tersebut dengan hilangnya Merida.
Pemirsa, apabila melihat suatu hal abnormal pada malam sebelumnya, diharapkan untuk menghubungi nomor di bawah ini.
Saat ini, mari kita berdoa agar Merida Morne dapat ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Sampai jumpa lagi diberita berikutnya."
Berikut berita yang diliput oleh wartawan saat berada di depan kediaman Morne.
Tbc ....
(ᗒᗩᗕ)Aduhhhh ga dapet feel-nya aku.
YOU ARE READING
SELESTINUS
Mystery / ThrillerPukul 10:30 malam, Gerinda harus kembali ke kantor dikarenakan salah satu map laporan yang harus dia selesaikan besok tertinggal di sana. Di kota tempatnya tinggal, kota akan sunyi senyap sebelum jam 11 malam, ini karena dongeng Selestinus yang enta...
