❝We kept choosing goodbye, while fate kept choosing us.❞
Percaya dengan teori benang merah? Sebuah perumpamaan bagi dua jiwa yang selalu saling menarik diri untuk saling mendekat sejauh apapun mereka berpisah dan dipisahkan.
Violetta tidak, begitupu...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
-Our last year, April 2018.
Sekolah sudah tampak sepi saat seorang gadis muda yang cantik dengan tas ransel cokelat yang dilampirkan di bahu kirinya itu berjalan celingak-celinguk di sepanjang lorong koridor.
Matanya mencoba menelisik, siapa tau seseorang yang Ia cari sedari tadi berhasil tertangkap oleh pengelihatannya. Dan benar saja, sekitar beberapa langkah dari tempatnya, seorang lelaki jangkung kini melambaikan tangan sembari tersenyum lebar dan berlari kecil menghampirinya.
"Letta!"
Gadis yang dipanggil Letta-ujung kata dari nama Violetta itu, menatap sosok dihadapannya dengan seksama dan serius.
"Kamu dari mana aja?" Tanyanya.
"Baru kelar latihan basket Ta." Lelaki itu tersenyum tipis dan menunjukkan dua tiket film yang tayang bioskop sore ini kepada sosok didepannya, "Ayo kita nonton hari ini."
"Ankara." Alih-alih menggubris topik menonton, gadis itu malah menghela nafasnya pelan, "Gak mau jelasin sesuatu?"
"Jelasin apa Letta?"
"Kamu sama sekali gak nganggep aku penting dalam hidup kamu kan Ka? Makanya kalo ada apa-apa kamu gak pernah bilang sama aku."
"Bilang apa Letta, emangnya kita ada masalah apa?"
Mendengar pertanyaan polos itu, Letta mendengus, "Mungkin emang begini ya siklusnya? Kamu selalu menjauh tiap kali ada sesuatu, dan balik lagi seolah-olah gak terjadi apapun selama ini, jujur aja, aku emang gak ada artinya ya? Kamu emang gak sayang sama aku ya Ka?"
Kontan, lelaki jangkung dengan ukiran wajah yang hampir sempurna itu mengerutkan keningnya bingung dan tak terima, "Tunggu, maksudnya apa Letta? Apa yang kamu bilang barusan?"
Pada hakikatnya, saat ini, dua orang yang merubah suasana hangat jadi bersitegang di lorong koridor sekolah yang sudah tampak sepi itu memang adalah tontonan yang menarik serta menegangkan.
Namun sayangnya saksi perdebatan mereka hanyalah semilir angin musim semi dipertengahan bulan april yang cerah di tahun dua ribu delapan belas kala itu.
Gadis cantik dengan rambut yang dikuncir kuda serta tas ransel yang masih tersampir dibahunya itu menarik nafas berkali-kali untuk menetralkan perasaannya. Sedangkan lelaki dihadapannya sepertinya juga mulai merasakan emosi yang bercampur aduk karena ucapan sang lawan bicara.
"Coba ulang." Ujar lelaki itu lagi.
Letta itu menaikkan alisnya dan kembali mengulangi ucapannya, "Gue bilang, lo gak sayang sama gue?"
"Lo? Gue? Jangan sembarangan ngomong, Letta. Kenapa kamu berani bilang kalo aku gak sayang sama kamu?" Sosok lelaki dihadapannya itu mengepalkan tangannya disamping saku celana, "Kamu bener-bener bikin aku marah sekarang."
"Lalu?" Gadis yang dipanggil Letta itu terkekeh sumbang, "Kalo kamu sayang sama aku, kita gak akan jadi begini Devanka."
"Violetta, bagian mana yang bisa membuat kamu menyimpulkan kayak gitu? Apa yang bikin kamu jadi begini?"