1. Tak cukup

14 3 0
                                        

Sebenarnya aku sudah enggan untuk menjalin sebuah hubungan, karna saat menjalaninya selalu aku yang lebih mencintai, selalu aku yang lebih berjuang dan selalu aku yang dirugikan. Selalu saja.

Saat ini aku mendengar dia berbicara dengan lembut pada seseorang di seberang telepon sana, aku yakin itu adalah seseorang yang sangat spesial. Sesuatu yang cukup menjadi pukulan telak, yang menyatakan bahwa aku benar benar harus mundur sekarang.

Bukan tak mau, aku ingin mundur, hanya saja aku tidak tahu bagaimana caranya.

Banyak hal yang terjadi di masalalu yang seharusnya menjadi pelajaran hidup yang sangat penting bagiku, namun entahlah, sepertinya hal itu tidak cukup untuk membuat aku menutup seluruh akses masuk bagi beberapa orang yang berpotensi menyakitiku di masa depan.

Pelajaran itu hanya membuat aku menyadari dan bertanya tanya,

apakah aku tidak pantas untuk dicintai?

apakah banyak hal yang tidak menyenangkan dariku?

Sejak lama aku sudah paham, bahwa cinta, rasa nyaman dan seseorang yang benar benar memenuhi tipe ideal yang aku idam-idamkan tidak akan cukup untuk menjalin sebuah hubungan yang serius. Dengan ceroboh, aku melupakan suatu hal lain yang sangat penting.

Penerimaan.

Untuk bahagia, kita harus bersama seseorang yang mau dan bisa menerima kita, bukan hanya sebagian yang menyenangkan-nya saja tetapi secara keseluruhan.

Sekali lagi aku harus memahami, cinta saja benar benar tidak cukup.

Setelah sekian lama duduk di sofa depan kamar seseorang yang baru saja aku dengarkan obrolan-nya, aku bangkit untuk pulang, bersama dengan segala perasaan campur aduk yang ikut aku kemas.

Malik IzzudinStories to obsess over. Discover now