"Mama, papa!" Berteriak seorang laki laki kecil yang melihat orang tuanya diseret oleh segelintir orang asing berkostum besi canggih menuju pesawat yang sedang terparkir didepan rumahnya. Ia terus saja memberontak, tapi usahanya tidak berbuah apa apa, orang yang membekapnya sangat kuat.
Anak itu bernama mateo, rambutnya hitam berkilau, matanya coklat ada pantulan berwarna biru, kulitnya pun putih bersih.
"voi ragazzi siete malvagi! Lascia andare i miei genitori!" Mateo menggigit lengan orang yang membekapnya hingga orang itu melepas bekapannya. Mateo berlari kearah orang tuanya, namun 2 orang jahat menghadangnya. Mateo mencoba melawan lagi. seseorang memukul bagian kepala belakang mateo hingga tersungkur.
"madre padre..." Ucap mateo. Ia terbaring ditanah. Semakin lama, ia merasakan sakit yang tidak tertahan, pandangan nya semakin kabur, ia melihat seseorang yang memukulnya tapi tidak jelas terlihat, ia menopang pentungan besar. Telinganya mendengar sayup sayup orang tertawa. Ia pun tak sadarkan diri.
"what do you want to do with this child?" Ucap seorang prajurit kepada yang memukul mateo.
"Take him to the plane, I have other plan." Jawab orang yang memukul mateo sambil tersenyum licik.
"yes captain." Prajurit itu pun langsung mengiyakan perintah orang itu, dan memasang posisi hormat.
Di tengah lapangan terbuka yang luas, awan hitam yang tebal bergulung-gulung di langit, memancarkan ancaman akan hujan deras yang akan segera turun. Angin berhembus kencang, mengibaskan rumput-rumput di sekitar lapangan dengan gemuruh yang menegangkan. Suasana menjadi semakin tegang ketika kilatan petir menyambar dari awan ke tanah, menyinari langit dengan cahaya yang menyilaukan. Suara gemuruh guntur yang menggelegar menggetarkan tanah di bawah kaki, menciptakan suasana yang penuh ketegangan.
Pesawat sudah mulai dinyalakan mesinnya, sang kapten pun berjalan kearah pesawat yang mengeluarkan suara yang nyaring. Meninggalkan rumah yang tua dan lapuk.
Dimana Mateo akan dibawa pergi berserta ibu ayahnya?
