"HEII!! TIDAK BISA KAH KAU SEPERTI ADIK MU, JANGAN HANYA BISA MEMBUAT MALU NAMA KELUARGA SAJA" bentak seorang pria yang sudah kepala 4,kepada pemuda yang baru saja menginjakkan kaki ke rumahnya?.
"Aku tidak salah yah, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan" Bantah pemudah 17 tahun itu.
"Dengan memalukan adik mu di sekolah?"
"Dia bukan adik ku, bahkan umurnya saja lebih tua dari ku, mengapa ayah selalu mengatakan kalau dia adik ku!" Ucap nya sambil dengan menunjuk seorang remaja wanita yang sedang menangis di pelukan abang? ke tiganya.
"Aku tidak mempunyai adik dan aku juga tidak menginginkannya!"
PLAKK
"Sudah berani kau meninggikan suaramu kepada orang tua"
Bukan, bukan ayahnya? yang menampar nya melainkan abang? pertamanya.
"Lalu apa aku akan diam saja dan tidak melawannya, dan jika aku tidak melawannya, maka aku yang akan di permalukan oleh omong kosongnya, dan apakah ayah dan abang akan menghukum nya seperti kalian menghukum ku?!"
"TIDAK BUKAN?!"
"Seret dia ke gudang" Ucap abang? pertama nya.
"HEII AKU TIDAK MAU!! " Teriaknya dengan berusaha melepaskan diri dari bawahan abangnya.
"Biar ayah yang mengurusnya"
Gudang..
Tak
Tak
Tak
(Anggap aja langkah kaki)
"Tidak puas kah kamu dengan hukuman yang selalu kau dapatkan" Ucap pria baya tersebut.
Pemuda itu mendongak melihat pria baya yang sayangnya adalah ayah kandungnya, yang sedang berjalan perlahan mendekat ke arahnya dengan membawa sebuah kotak yang berukuran sedang.
Pemuda itu hanya menatap datar pria tua itu, ia tau kotak apa itu, itu adalah kotak yang berisikan hadiah untuk dirinya yang membuat kesalahan.
"Hitung" Ucap pria baya itu dengan nada dingin sambil mengeluarkan sebuah cambukan.
Ctakk
"Eghhh"
"Hitung."
Ctakk
"S-satu"
Ctakk
"D-dua"
Cambukan itu terus berbunyi saat bersentuhan dengan tubuh pemuda itu.
"Lih-maa puhh-luhh"
BRAKK.
Ambruk sudah tubuh memuda itu saat dirinya tidak bisa lagi menopangkan lagi dirinya sendiri.
Tak
Tak
(Anggap langkah kaki)
Suara langkah kaki terdengar mendekat, dengan sedikit tanaga pemuda itu mendongak dan hanya terlihat bibir pria baya tersebut.
Srettt
Dengan sekali tarikan di rambutnya memuda itu bisa melihat bagaimana wajah rupa Ayahnya?.
"Hari ini aku akan mengampunimu, jika kau melakukan itu lagi" Ucapan nya berhenti dan menatap pemuda tersebut dengan datar.
"Aku yang akan membunuhmu" Lanjutannya dengan menekan semua kata tersebut.
Brakkk
Dengan kasarnya pria baya melemparkannya dengan sekali hentakan dan tampah sadar Kepala pemuda tersebut terbentur oleh dinding yang di belakangnya.
"Sehh-lamh-aat tingh-galh ah-yahh"
"A-aku sungguh me-mbe-nci mu"
Hanya itu kata kata terakhir sebelum sebelum matanya tertutup rapat.
Degg
YOU ARE READING
Takdir?
Historical FictionPemuda yang sering mendapatkan kekerasan dari ayahnya beserta beberapa abangnya. Tidak, tidak hanya di rumah, bahkan di sekolah pemuda tersebut sering kerap di bully karna tuduhan kakak pungut nya yang tidak ingin di panggil kakak Akankah pemuda ter...
