i. introduksi

22 2 0
                                        

"Hai, tanpa tiket juga?"

...

Penulis cerita ini tidak tahu apakah kamu pernah menyukai seseorang hanya karena terlibat dalam suatu kebetulan, dalam satu ruang, dan di waktu yang sama. Beberapa orang terlalu berlebihan dengan mengatakan dadanya berdebar atau ingatannya terpatok pada pertemuan sederhana sebagai sebuah hiperbola; hal-hal luar biasa. Seluruhnya dibesar-besarkan dan kamu bahkan tidak tahu apakah dia mengatakan yang sebenarnya. Beberapa yang lain meyakini bahwa itu seperti dalam sinematik yang mereka lihat di beberapa kesempatan, hanya pertemuan tidak sengaja, atau semacam tabrakan bahu, dan tidak akan terulang untuk kedua kalinya.

Dalam beberapa intro atau sebut saja prolog, kamu seharusnya bisa menemukan kesan yang memikat hatimu. Tapi, penulis cerita ini terlalu ragu untuk meyakini dirinya sendiri. Beberapa karakter di tulisan ini cukup gila, terutama tokoh utama laki-laki yang terlalu sering melihat dirinya sendiri sebagai pusat dari jagad raya. Dia hanya sering mengiyakan identifikasi dan deskripsi orang lain mengenai dirinya sebagai yang paling baik di antara yang terbaik. Semua orang memang tidak membencinya, tapi tidak semua orang menyukainya.

Jika kamu mengenal nama Raya sebagai interpretasi jenis kelamin dan identitas gender sebagai perempuan, itu salah besar. Penulis cerita ini sering terhenyak dan merenung tentang betapa nama Raya adalah salah satu nama terindah yang ingin dia sematkan pada namanya sendiri--walau memang akan sangat sulit karena pertentangan keluarga di masa itu nanti. Tapi, serius, Raya tidak seperti yang kamu bayangkan.

Raya, laki-laki tulen yang seringkali disebut ganteng itu benar-benar tahu bagaimana cara untuk membaur di berbagai macam kelas sosial dan usia. Bapaknya terbiasa merepotkan diri dalam kegiatan warga sejak Raya mulai mengerti bagaimana cara membedakan rasa asi asli dengan susu bubuk ber-dot di masa sapih. Rumah mereka yang megah terlalu luas untuk ditempati bertiga, sehingga seringkali Bapaknya yang masih muda dan perkasa itu ke luar, memarkir sepeda pancal tua kakeknya di pos ronda atau angkringan khas Jogja--dengan pemilik yang sering menyebut dirinya Sang Ahli Teh Solo. Tidak, tidak, Raya tidak dibawa serta Bapaknya karena dianggap terlalu banyak bercerita, dia dibawa Ibunya ke majelis pengajian atau ke kelompok arisan.

Kamu pasti sering mendengar pendidikan awal anak adalah dari keluarga. Tidak ada yang kurang dari keluarga Raya, sebagaimana pembawaan dan kepribadian orang tuanya yang memandang manusia sebagai berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Raya terbiasa mendengar candaan orang tua dan mengimplementasikannya sebagai candaan yang situasional. Setiap orang tua di lingkungannya pun menyodorkan anak-anak mereka untuk berteman dengan anak kecil tampan itu tanpa syarat.

Raya mendapat porsi yang bijaksana dari orang tuanya tentang belajar dan bermain. Dia tidak terlalu pandai dan bisa belajar dengan mendalam, tapi taktis dan tangkis pada semua hal. Mayoritas anak memang menyukainya, tapi minoritas dari mereka tidak membencinya. Anak-anak tumbuh dengan pikiran mereka sendiri dan Raya salah satu di antaranya.

Perjalanannya dalam aspek pertemanan tidak dapat diragukan. Raya itu figur kupu-kupu sosial sejati dan anak-anak badung sampai bunga dinding kelas, bahkan sekelas staff TU--yang dikenal galak begitu menyukainya. Nilainya tidak selalu sembilan puluh ke atas, tapi tidak pernah sampai tujuh puluh ke bawah; tidak pernah terlihat buruk. Kelompok dengan anggota buangan bahkan bisa menunjukkan taring mereka, saat Raya dengan disengaja dimasukkan ke dalam kelompok di detik-detik akhir. Raya begitu luar biasa, tapi pada dasarnya berada di garis rata-rata.

"Kuliah yang asik di mana, ya?"

Itu pertanyaan Raya di suatu sore, saat bersantai dengan kedua orang tua yang mengapitnya, saat hujan turun tidak lagi dengan rintik gerimis, melainkan deras yang membuat suaramu redam di dalamnya. Beberapa anak yang lain sangat sibuk dengan nilai-nilai mereka, termasuk pada persiapan utbk yang selalu saja memiliki pembaruan di tiap tahunnya. Tapi, berbeda dengan mereka, di akhir tahun kelas dua belasnya Raya tidak mempersiapkan apa-apa. Dia tidak mengikuti kelas intensif padahal termasuk dalam klasifikasi kelas eksklusif, meskipun terbawah. Tidak pula sibuk mengurus persiapan tes try out gratisan atau berbayar.

"Bandung dingin terus mending ke tempat yang panas saja, ya nggak, Buk?" Bapak Raya hanya berseloroh sementara giginya terus menggilas kacang mede dari toples yang dipangku istrinya. " Kamu sekolah yang agak jauh sana, tapi masih di Jawa saja soalnya biar gampang nyamperin kalau kenapa-napa."

Raya tidak pernah melihat dunia dengan pandangan kompetitif destruktif. Pembicaraan tentang kuliah saat itu hanya terjadi kurang dari satu menit dan berakhir dengan penutup Raya mengangsurkan ponselnya yang memperlihatkan feed Instagram sebuah kampus di Surabaya. Ibunya melihat itu dengan sekilas, bersirobok dengan suaminya, lalu mengangguk bersama. Sebelum Raya pamit untuk masuk ke dalam karena kedua orang tuanya sepertinya enggan untuk berhenti melihat air hujan, sepasang dialog ini akan membuatmu sedikit iri dengannya.

"UTBK-nya kapan, Raya?"

"Satu bulan lagi."

...




Takarir RisakWhere stories live. Discover now