prolog

1.2K 65 9
                                        

"...tentu, itu hal yang bagus. Sampai jumpa besok, Supra"

Supra, salah satu siswa populer penyandang gelar wakil ketua osis. Hari ini ia harus pulang lebih lambat dari biasanya. Rencana osis yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi, menyita sebagian waktunya. Sebagai wakil ia juga memiliki peran penting mengurus setiap hal yang akan organisasi sekolah Star Monsta School lakukan.

Hal yang sulit, tapi tetap harus dilakukan.

"Hah..." helaan nafas lolos dari bibirnya. Koridor sekolah sangat sepi dijam segini, yang mana jam sekolah telah usai satu jam yang lalu. Sebuah keajaiban jika ada salah satu siswa lain disini, tapi dia sendirian sekarang.

Agak horor ketika mengingat cerita misteri yang ada disekolah ini, tapi hal itu segera ia tepis dan berjalan lebih cepat. Matahari sudah sangat turun hingga langit menampakan warna jingga-kemerahan miliknya.

Namun samar-samar terdengar suara seperti barang jatuh dari salah satu pertigaan koridor didepannya. Hal itu membuatnya menghentikan langkah dan menatap kedepan dengan wajah kebingungan. Jantungnya berdebar cukup kencang, namun ia memberanikan diri untuk berjalan mendekat dengan perlahan.

"Eh-eh" tiba-tiba keluar salah satu siswa yang ia kenal dari koridor tersebut. Ia keluar dengan posisi aneh, seperti habis terdorong sesuatu.

"Sopan?" panggilnya pada siswa itu.

"Oh, hehe... Supra" kekeh Sopan yang menutup wajahnya dengan kipas lipat miliknya. "Kamu belum pulang?" tanyanya kemudian.

Supra menyeritkan alisnya dan berbalik bertanya. "Harusnya gue yang tanya itu. Gue masih ada urusan, sedangkan lo–" ia menunjuk tepat didahi Sopan. "–apa urusan lo?"

"Aku ada sedikit ada urusan tentang ekstrakulikuler silat, jadi agak terlambat untuk pulang" jawab Sopan dengan senyum biasanya.

"Oh silat rupanya"

Sopan mengangguk singkat, kemudian menaruh kembali kipasnya kedalam saku celana.

"Ya udah, gue duluan" pamit Supra yang langsung berjalan pergi, namun dengan cepat Sopan menyusul langkahnya hingga mereka berdua jalan beriringan.

"Pulang bareng, ya" pinta Sopan yang memasang senyum manis miliknya, bahkan matanya ikut tersenyum.

Supra hanya membalasnya dengan gumaman saja, toh dia tidak meresa terganggu.

Kini keduanya berjalan beriringan menuju gerbang sekolah dengan tenang. Angin semilir menerpa wajah keduanya, membuat surai lembut mereka ikut berayun pelan. Angin sore kali ini cukup kencang dan sejuk, sepertinya akan turun hujan. Awan hitam juga telah berkumpul menjadi satu dilangit, membuat keadaan cukup terasa gelap.

"Aku dengar kau menyukai Glacier, Supra" celetuk Sopan tanpa menengok kearah orang yang disebut namanya.

Langkah supra terhenti dan menengok dengan cepat kearah Sopan. Matanya menyiratkan keterkejutan yang terlihat. "Lo tau dari mana?"

"Jadi benar, ya..." bukannya menjawab, Sopan hanya bergumam sambil menundukkan kepalanya. Hal itu membuat Supra semakin kebingungan dengan tingkah lakunya.

"Jangan-jangan dari Sori" tebak Supra yang membuat Sopan langsung menatap kearahnya dengan terkejut. "Tch, bener ternyata. Dasar bocah sialan, biang gosip, bisa-bisanya tuh anak bilang aneh-aneh gitu. Awas aja besok!!"

"Eh-eh, bukan. Bukan dari Sori" melihat Supra yang mulai menggerutu sambil mengatai hal buruk tentang temannya, Sopan langsung saja mengelak dengan cepat.

"Jangan bo'ong. Oh, jangan-jangan kalian berdua bersekongkol. Lo pasti nanya gitu ke gue biar lo bisa ngasih tau Sori, trus lo semua pasti nyebarin gosip itu keseluruh sekolah. Iya?!!" tuduh Supra yang menunjuk-nunjuk kedahi Sopan.

Love Game'S (Sopan x Supra)Stories to obsess over. Discover now