Mentari Wulandari nama yang tergolong sangat indah, namun tidak seindah perjalanan hidupnya. Mentari terlahir, dari keluarga yang kurang berkecukupan. Orang tuanya bekerja sehari-hari menanam sayur di ladang dan akan menjualnya ke pasar, jika sayur tersebut sudah saatnya untuk panen. Mentari merupakan anak yang pintar dan selalu mendapatkan beasiswa di sekolahnya, sehingga ia diterima di sekolah SMA yang super elit tempat perkumpulan anak orang kaya kelas atas. Namun karena dirinya terlahir dari keluarga miskin, teman sekelasnya selalu membully dan merendahkan dirinya di depan orang banyak.
" Dasar anak miskin, lo itu nggak pantas bersekolah di sini." Dengan rambutnya yang terus ditarik, wajah ditampar, dan tasnya di tendang sesuka hati oleh siswi lainnya. Air mata tidak henti-hentinya mengalir deras, di mata besar mentari.
" Ya bener banget, lo itu seharusnya sadar! Manusia potongan kayak lo, nggak pantes sekolah bareng kita disini," timpal lainnya.
Air mata terus mengalir di pipinya yang sudah terlihat memar karena pembullyan terus saja di terima oleh Mentari, itu pun sudah menjadi makanan sehari-harinya di sekolah. Mentari terus saja merutuki nasibnya, dan menganggap Tuhan tidak adil kepadanya.
" Tuhan, mengapa engkau memberikan hamba musibah seperti ini. Hamba sudah tidak tahan lagi dengan derita yang engkau berikan kepada hamba ini." Air mata tidak henti-hentinya mengalir di pipi Mentari. setelah sampai di rumahnya. Kedua orang tua Mentari sangat terkejut melihat keadaan anaknya penuh dengan memar di bagian wajah dan lengannya.
" Anakku, mengapa setiap kali pulang sekolah. Wajah manismu ini selalu ada luka memar dan bekas tamparan yang sangat jelas." Kata Ibunya dengan wajah yang cemas.
" Ini semua karena kita hidup miskin ibu, Mentari selalu dibully, dicaci maki, ditampar, dan dipukul seenaknya."
" Kita tidak boleh menyalahkan nasib anakku, Tuhan sudah memberikan kita hidup yang sangat layak.."
" Bapak bilang apa? Layak? Hidup kayak gini di bilang layak. Mentari capek hidup miskin bapak, ibu. Mentari pengen ngerasain jadi orang kaya yang selalu makan enak dan hidup serba mewah."
"Astaghfirullah anakku, kita seharusnya bersyukur karena Tuhan masih mengizinkan kita untuk merasakan kenikmatannya yang sangat luar biasa kepada kita." Kata ibunya dengan nada suara yang terdengar sangat sedih
Tiba-tiba Mentari terdiam seribu bahasa, air mata yang tadinya telah berhenti mengalir, kini kembali membanjiri kedua matanya.
" Dan ingat anakku, di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita dari kita. Tetapi mereka tetap bersyukur dan berterimakasih karena Tuhan masih mengizinkan mereka untuk bernafas di dunia ini."
Mentari merasa sangat bersalah, karena telah merutuki nasib dan mengeluh kepada Tuhan. Ia pun tersadar atas apa yang dilakukannya saat ini membuat Tuhan murka. Apalagi ia telah menyayat hati kedua orang tuanya, dan berhasil membuat kedua orang tuanya mengeluarkan butiran-butiran bening membasahi wajah yang sudah terlihat semakin menua.
" Maafin Mentari bapak, ibu. Mentari sadar dengan apa yang sudah mentari katakan tadi membuat Tuhan sangat marah, dan mentari sangat menyesal karena telah berhasil membuat bapak dan ibu menangis."
Mentari langsung memeluk kedua orang tuanya dengan tangisan penyesalan yang terus mengalir deras di pipinya.
Tuhan memberikan ujian tidak melebihi batas kemampuan hambanya, jadi kita harus tetap bersyukur bagaimana pun keadaan yang sedang kita jalani saat ini.
YOU ARE READING
cerpen singkat
Short Story⚠️ Jangan lupa follow sebelum membaca cerita ini🤗 ini hasil imajinasi sendiri, sekedar cerpen!⚠️
