Prolog

8 1 0
                                        

Kenangan adalah sebuah memori, seperti halnya filem yang terus berputar dalam ingatan. Seperti halnya sebuah cahaya yang masuk tanpa permisi dan hilang tanpa jejak. Bisakah kau pergi?

~Mawar~

Gadis cantik bertubuh mungil itu terus memandang langit biru yang terhampar luas. Kerudung merah hati dengan sarung berwarna senada menggambarkan bahwa ia sangat menyukai warna itu.
Ia bernama Mawar Berliana putri kerap di panggil Mawar. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara dan terlahir dari keluarga yang sederhana. Terkesan harus selalu terlihat kuat dihadapan kedua orang tua, tapi nyatanya?? Ah tak sekuat itu. Menangis adalah salah satu cara melepaskan emosi, dan segala perasaan tak menyenangkan jadi mawar lebih memilih untuk menangis tanpa suara agar segala beban yang ada dalam dirinya terlepaskan.

"Mbak kenapa nangis?" Tanya Rara sambil mengusap punggung Mawar yang bergetar.

"Heeem enggak Ra, gapapa kok."

"Gapapa gimana mbak, mbak Sampek seperti ini lho." Ucap Rara panik.

"Gapapa Ra, mbak cuma rindu sama rumah hehe."

"Oh, rindu rumah ya mbak. Pulang gih perpulangan minggu depan."

"Heem, tapi gabisa pulang, masih ada yang harus di selesaikan disini Ra."

"Ya udah mbak sabar yaa, masih bisa Vc atau Telfon orang rumah ihhh jangan sedih lagi."

"Iyaa, makasih ya Ra."

Hanya saja tak semua orang mengetahui segala hal tentang ku, tentang masa laluku dan diriku yang dulu, biarlah menjadi kenangan yang tak pernah lagi kembali, kenangan yang takkan lagi terjadi dan kenangan yang cukup terjadi satu kali dalam hidupku.

Jika banyak yang mengatakan masalalu adalah pembelajaran memang sangat benar. Tapi tak semua masalalu adalah berlian yang indah, tapi ada kalanya masalalu adalah pisau yang menancap pada uluhati yang tak terlihat.

Angin terus berhembus kencang, saat ini mawar sedang berusaha menenangkan dirinya, menyendiri tanpa ada siapapun di tempat yang terbilang ramai ini. Yaa, saat ini Mawar berada di salah satu pondok pesantren daerah Kediri. Selain menjadi santri Mawar juga menjadi Mahasiswi semester akhir tentunya sedang mengerjakan tugas akhir yaitu skripsi.

Menikmati kesepian ditengah lingkungan yang ramai tak mudah, butuh tempat khusus untuk menenangkan dirinya yaitu atas rooftof atau jendela kelas di tepi lantai menjadi tempat favorit Mawar untuk menenangkan dirinya.

"Luka apa lagi ini Ya Allah? kenapa begitu menyiksa?" Ucapnya sambil menghembuskan nafas panjang.

Sejak saat itu, mawar memutuskan untuk lebih fokus pada hafalan Al-Qur'an dan hal-hal penting yang harus ia lakukan. Tapi nyatanya sesibuk apapun itu ia tak mampu menghapus luka itu begitu saja. Butuh waktu, butuh kelapangan hati dan penerimaan diri yang ekstra untuk menyembuhkan luka itu.

"Takdir" Gumamnya lalu tersenyum lembut.

Sebab ia sangat percaya bahwa ini semua adalah rencana Nya. Segala sesuatu yang terjadi atas kehendak Nya. Tak selamanya yang terlihat menyakitkan itu yang terbaik, begitupun sebaliknya. Tapi luka ini terlalu dalam untuk di sembuhkan, membuatnya sudah tak percaya lagi apa itu cinta?

Jika mencintai adalah kesakitan, maka untuk apa cinta ada? Untuk apa cinta hadir ? dan untuk apa cinta tumbuh?
Sangat sulit mempercayai lagi. Tapi tak menutup kemungkinan cinta adalah anugerah yang dapat dirasakan oleh setiap insan. Tapi cinta juga pilihan antara di sakiti atau menyakiti tanpa sengaja, cinta sebelum menikah adalah ujian yang nyata tapi cinta setelah menikah adalah anugerah terindah.

Perempuan adalah manusia teristimewa di bumi, ia saat kecil menjadi ratu di keluarganya selalu dijaga dan di manja oleh ayahnya. Setelah dewasa ia menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya dan surgapun berada di telapak kakinya. Ungkapan jika ibu adalah kunci kehidupan bagi anaknya, sebab do'anya ibarat anak panah yang takkan pernah melesat.  Begitu istimewa bukan seorang perempuan?? Hatinya diciptakan lembut, agar penuh dengan kasih dan sayang.

Bagaimana mungkin calon ibu tak mempunyai ilmu untuk anak-anak kelak?? Bagaimana mungkin calon ibu tak mempunyai bekal dalam berumah tangga? Dan bagaimana calon ibu jika tak dapat menjaga kehormatannya?  Pertanyaan itu terus berkecamuk dalam diri mawar, sebab ia ingin memberikan yang terbaik baik untuk suami dan anaknya kelak.

Menjadi wanita terdidik adalah pilihannya, walaupun harus menerjang badai tanpa payung, menerjang ombak tanpa perahu dan menerjang hujan tanpa meneduh.
Sulit memang, tapi jalan yang Allah siapkan sungguh tak bisa dilogika.

Mawar mendapatkan beasiswa, tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun. Biaya hidupnya pun sudah ditanggung dan mondok juga geratis, kurang apa coba? Kalau bukan karena pertolongan Allah ya ngga akan bisa terjadi.  Apalagi beasiswa yang harus mempertahankan nilai Indeks prestasi Semester tentunya harus belajar lebih giat lagi untuk mensyukuri semua itu bukan??

Mawar adalah Mahasiswi semester akhir yang mengambil program studi Hukum Keluarga Islam atau biasa di sebut Al-akhwal As-syakhsiyah tentunya ia mempelajari ilmu hukum dan ilmu yang berkaitan dengan keluarga seperti halnya fiqih munakahat, hukum pidana, hukum acara pidana, hukum perdata dan hukum acara perdata dan lain sebagainya. Banyak yang sudah ia pelajari selama semester-semester awal, dan banyak pembelajaran serta pengalaman juga yang di dapat dari magang di Pengadilan Agama ataupun di Pengadilan Negri. Sangat beruntung bukan bisa belajar tentang kehidupan? Arti kehidupan dan makna kehidupan. Saat melihat segala problematika yang ada dan di hadapi di masyarakat.
Disinilah ia bertemu dengan seseorang yang berhasil merebut hatinya.

Inilah kisahku, gadis sederhana yang terlahir dari keluarga sederhana.
"MAWAR" keindahannya mampu memikat siapapun yang mengenalnya, tapi durinya sangat tajam sebab baginya duri adalah sebuah pertahanan yang nyata....

MAWAR Where stories live. Discover now