Tersesat
Bab I
Meskipun kota-kota besar kini dipenuhi gedung menjulang dan hiruk-pikuk yang tak pernah reda, masih ada sudut-sudut dunia yang menyimpan keheningan purba. Hutan-hutan tua, berdiri seakan menantang waktu, dengan pepohonan raksasa yang akar-akarnya seperti mencengkeram bumi. Tidak semua orang berani memasukinya.
Bagi sebagian orang, hutan hanyalah tempat liar yang membingungkan. Namun, bagi entitas tak kasat mata yang bersemayam di dalamnya, manusia-manusia nekat itu tak lebih dari tamu polos yang mudah untuk dipermainkan.
Seperti sekarang, misalnya.
---
Seorang pemuda berusia sembilan belas tahun berdiri di tepi hutan. Ransel gunung menjuntai di pundaknya, wajahnya segar penuh semangat petualangan. Baru saja dia tiba bersama rombongan kemahnya, namun di saat yang lain sibuk menata tenda dan menyalakan api unggun, pemuda itu terpikat oleh sesuatu yang berbeda.
Ada bisikan samar yang tak bisa dijelaskan. Seperti suara halus yang memanggil, mengajaknya melangkah lebih dalam ke pelukan pepohonan hijau.
Tanpa ragu, ia meninggalkan keramaian teman-temannya dan melangkah masuk. Nafasnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena gairah petualangan yang membuncah.
Awalnya, segalanya terasa menakjubkan. Ranting-ranting bergoyang dihembus angin, aroma tanah basah menyapa, dan sinar matahari menyelinap malu-malu di sela dedaunan. Namun perlahan, suasana itu berubah menjadi ganjil.
Setiap ia mencoba menandai jalan dengan goresan di batang pohon atau susunan batu kecil di persimpangan, ia mendapati dirinya kembali ke titik yang sama. Seakan-akan hutan itu berputar, menelan langkah-langkahnya.
Bingung dan lelah, ia akhirnya menjatuhkan diri di atas sebongkah batu besar di tepi sungai. Suara gemericik air membuat matanya berat, hingga tanpa sadar ia terlelap.
---
Ketika terbangun, dunia seakan berubah.
Di hadapannya berdiri seorang gadis muda. Rambutnya pendek dan rapi, matanya cokelat teduh, menyimpan kehangatan yang anehnya terasa begitu dekat. Angin hutan berembus, membawa aroma harum yang halus-campuran bunga liar dan segar dedaunan basah.
Gadis itu mengenakan kebaya hijau sederhana, menambah pesona anggun yang seakan tak wajar di tengah belantara. Di tangannya tergenggam sebuah keranjang berisi pakaian basah.
"Tersesat?" tanyanya lembut. Suaranya jernih, seakan bergema di antara pepohonan.
Pemuda itu hanya mengangguk. Perasaan lega merambat dalam dirinya-seolah gadis itu adalah jawaban yang ia nanti.
"Iya... apa kamu tahu jalan ke perbatasan hutan?" tanyanya, sedikit canggung.
Sang gadis mendekat. Dari dalam keranjang, ia mengambil sebuah batu kecil, lalu menyerahkannya. Pemuda itu menerimanya tanpa banyak bertanya, meski ia segera tahu benda itu bukan sekadar batu. Ada energi samar yang berdenyut di genggamannya.
"Berjalanlah lurus. Jangan menoleh, jangan menjawab apa pun yang memanggilmu setelah keluar dari sini," pesannya sambil menunduk, membasuh pakaian di aliran sungai.
"Terima kasih... bisakah aku tahu namamu?"
"Runera Arcana."
---
Pemuda itu sempat memberikan camilan kecil sebagai tanda terima kasih, lalu menuruti arahan gadis itu. Anehnya, kali ini jalan terasa jelas, dan ia akhirnya menemukan kembali perkemahannya.
Malam pun turun. Dari dalam tenda, ia merogoh saku celananya. Batu itu masih utuh. Menatapnya, ia berbisik pelan, "Sepertinya besok baru hancur."
Kelelahan membuatnya tertidur. Dan benar saja, saat pagi menjelang, batu itu telah berubah menjadi debu halus.
Ia termenung sejenak, lalu bergumam, "Untunglah... tidak ketempelan."
Senyumnya tipis, penuh rasa syukur.
"Ini harus kuberitahu pada yang lain..."
---
(Selesai - Bab I)
---
YOU ARE READING
Where?
AdventureArca memiliki kemampuan melihat energi yang dimiliki oleh setiap orang. Dia hidup di dalam hutan, membuat nya kadang bertemu dengan beberapa orang yang tersesat. Terkadang juga, orang-orang yang tersesat itu punya kisah hidup yang unik untuk diketah...
