Dari sini bisa kulihat bahwa mendungnya malam bahkan bersinar lebih terang, lebih antusias untuk menyapaku dibanding punggung lelaki yang kukenal selama kurang lebih 7 bulan itu. Ia tak sedang memampangkan wajahnya, mungkin lampu-lampu kota yang nampak mungil dari kejauhan itu lebih menarik dibanding mataku yang hampa dan penuh keraguan, mungkin. Atau mungkin karena semuanya akan berakhir malam ini.
Lelaki itu masih betah berdiri di balkon apartment-nya bahkan setelah aku berbicara sendiri malam ini. Kedua lengan dari kemeja putihnya tergulung sampai siku, di antara jarinya tersisip sebatang rokok yang ia hisap sedaritadi.
"Mada." panggilku lagi dari dapur. Lucu rasanya karena aku tak perlu berteriak meski jarak dari dapur ke balkon lumayan jauh, karena hening di antara kita terlalu pekat membuat suara sekecil apapun terdengar jelas.
Lelaki itu tak bergeming, ia malah terus menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Mada," panggilku lagi, "please, talk to me."
Mada menghela napas kasar tepat setelah ia mematikan rokoknya. Ia berbalik dan menampakkan wajahnya yang dingin, tak bisa kulihat gurat luka di sana. Mada tak terluka sama sekali.
"I'll get you the paper within a week, Ra," kata Mada lalu berdecak setelahnya, "I'll get back to you then."
Mataku perih, biasanya ini terjadi kalau aku terkena debu atau asap tapi malam ini karena sesak di dadaku sudah tak tahu harus lari ke mana.
"You should not catch feelings, Ra. Not with me."
"I know."
"Terus kenapa?" Mada berbisik.
Kenapa? Aku juga bertanya pada diriku sendiri, kenapa? Mada hanya lelaki yang tak bisa berhenti di satu tempat, lelaki yang tak bisa percaya pada suatu hubungan, lelaki yang akan selalu meninggalkan orang lain saat ia rasa suatu hubungan tidak menguntungkannya lagi. Mada hanya lelaki brengsek yang mahir mempermainkan perasaan orang lain dengan sikap manis dan perasaan palsu yang hampir terlihat seperti cinta. Konklusinya, Mada hanyalah lelaki yang hidupnya ia dedikasikan untuk show and games.
"You know it's just for a show. You know all we did was for the show," ujar Mada setengah berbisik, frustasi dengan keadaan kini. Kurasa seharusnya situasi ini tak perlu membuatnya frustasi, ia pasti sudah melewatinya berkali-kali dengan perempuan lain.
"Lo sebenci itu ya, Mad, sama gue? Sampe lo nolak gue segininya," aku berdecak sambil tertawa miris, "gue bahkan gak minta lo bales perasaan gue. Gue bahkan confess secara gak langsung, lo bahkan gak tau langsung dari gue dan langsung ngambil jarak dari gue. This is so humiliating to me, you know?"
Mendengarnya Mada langsung menggelengkan kepalanya lalu membiarkan jemarinya berlari cepat di atas rambutnya, Mada berjalan mendekatiku ke dapur dan berhenti tepat di depanku.
Dari sini baru bisa kulihat tatap Mada yang selalu kusuka karena hangat, yang selalu kurindu karena teduh. Tatap palsu yang seharusnya tak ia isi oleh kehangatan, tak perlu ia sisipkan teduh, supaya aku tidak betah tuk hanyut di situ. Aku bahkan tak bisa lagi membedakan apa tatapan itu tatapan tulusnya dan ia sedang bersungguh-sungguh, atau ia sedang bermain peran lagi kali ini.
"I don't hate you, Ditara. Good God... How could I?" kedua alis Mada bertaut, bibirnya yang berwarna merah muda itu saling menekan satu sama lain. "Cuma... Ra, seharusnya bukan gue. Jangan gue, Ra."
Aku berdecak sambil membuang muka, kali ini aku yang frustasi mendengar perkataan omong kosong Mada.
"Look, you know who I am. What kind of person I am. I will only hurt you, Ra. You deserve someone better and I know it's not me."
Jeda yang ada di antaraku dan Mada cukup lama, aku harus menahan tangisku untuk menyiapkan satu pertanyaan yang akan menjadi akhir untukku mengambil keputusan malam ini. Aku kembali mendongak untuk menatap mata Mada, dengan tegas dan lekat. "Tapi lo sayang sama gue?"
Ditanya seperti itu, kulihat Mada hanya menatapku dengan beberapa kali terjapan di matanya.
"Jawab, Mada." aku bersikeras.
Mada menarik napas lalu menggelengkan kepalanya, menjawab, "I never did."
Mataku kini benar-benar sudah dipenuhi air mata dan kubiarkan mereka mengalir di pipiku, senyuman pahit muncul dari wajahku lalu aku mengangguk. "It's loud and clear. But that's better."
Aku mengambil tasku dari meja dapur dan melangkahkan kaki menjauh dari Mada.
"Ra," Mada membuntutiku, "Ditara."
"Thank you, Mada."
"Hubungin gue ya kalau kontraknya udah ready." kataku sambil membuka pintu apartment Mada dan meninggalkan Mada yang mematung tak jauh dari situ.
YOU ARE READING
November | Kim Mingyu
FanfictionI've eaten your silence and begun to figure out that this silence is how you respond to the love that maybe, maybe, was not ours to begin with.
