Does a happy ending really exist?

18 1 0
                                        

"Kita tidak dapat bersama tuan Aira," Beberapa patah kata singkat itu terucap jelas pada pemilik bibir mungil yang merah dari gadis berdarah biru, Hiiro Amagi.

Aira mendengus kecil, "maafkan saya tuan putri, saya memang pelayan rendahan tidak tahu diri yang pastinya tidak pantas berada di sisi anda. Takdir itu mutlak, tetapi saya yang rendahan ini terlalu naif ingin merubahnya."

Kekecewaan yang amat dalan menyelimuti perasaan dihatinya, kekecewaan yang amat besar itu tak disangka memberikan luka yang begitu dalam, walaupun ia mengetahui bagaimana akhir dari tindakannya tetapi tetap saja, manusia lumrahnya memiliki harapan sekecil apapun itu walaupun sekecil butiran debu, manusa tidak pernah puas dan akan selalu meminta dan berharap, begitu pula dengan Aira Shiratori seorang insan berupa pelayan rendahan yang memiliki harapan kecil agar ia dapat hidup bahagia bersama orang terkasihnya.

Ingin sekali rasanya ia menjerit sekeras-kerasnya sehingga seluruh dunia dapat mendengarkan kepiluan hatinya. Tetapi untuk apa? Didunia ini hanya memiliki pilihan antara bertahan hidup atau mati, jawaban mutlak iya atau tidak. Ia hanya mendapatkan jawaban tidak, sedangkan diluar sana masih banyak orang yang lebih menderita dari dirinya, seseorang yang ditinggal mati kekasihnya, maupun seseorang yang dikhianati dan disakiti oleh orang terkasihnya.

Aira Shiratori hanyalah seorang pelayan setia dari bangsawan keluarga Amagi sejak dahulu bahkan dari para leluhurnya, bertindak seenaknya dengan mengambil langkah kecil, terlebih lagi menyatakan perasaan terdalamnya merupakan hal tidak wajar yang telah melampaui batas bagi seorang pelayan setia kepada majikannya.

Ia tak tahan selama ini hubungan keduanya hanyalah sebatas pelayan dan majikan.

Telah tinggal bersama sejak lama, belakang kini ia selalu mendapati keanehan dan kejangalan dalam sikap sangat majikan, Hiiro Amagi, terhadap dirinya. Aira dengan lancang menyimpulkan bahwa dirinya -sang majikan- memiliki perasaan yang sama terhadapnya, kesimpulan yang memang sungguh sembrono pikirnya.

Dengan tekad yang kuat yang berasal dalam dirinya Aira Shiratori memutuskan bulat-bulat untuk mengambil langkah awal mengakhiri hubungan sebatas pelayan dan majikan itu namun apa yang diharapkan dari itu? Takdir tidak dapat dirubah, dengan perbedaan kasta yang sungguh berbanding terbalik, merubah takdir pun adalah hal yang mustahil, mengharapkan sesuatu yang tidak pasti tentu saja menyakitkan.

Sedangkan ia adalah pendosa.

Pendosa sepertinya yang sudah sepatutnya dihakimi oleh alam, dihapuskan dari dunia.

'Aira Shiratori adalah manusia kejam! Seorang pembunuh!'

'Pengkhianat keluarga Amagi! Pembawa teror dikediaman yang tentram!'

'Musnahkan dia!' seruan dari kerumunan orang-orang dikediaman.

Aira Shiratori seorang manusia kejam yang membunuh manusia untuk kepuasan?

Bagaimana mungkin seorang pelayan lemah bisa melakukan hal seperti itu?

Semua itu tidak benar, Aira Shiratori orang yang bersih tak bersalah, apa yang ia lakukan sampai berakhir seperti itu?

Tidak ada.

Ia tidak pernah membunuh, melayangkan sebuah pukulan saja tidak tega.

Mulut manusia memang menyeramkan, cerita dari mulut ke mulut selalu memiliki berbagai variasi baru setiap akan berpindah pada telinga orang lain.

Karakter yang telah terbuat dari rumor itu membuat pelayan tak berdaya di masukkan ke dalam jeruji besi yang kokoh, dikurung secara paksa tanpa keadilan dan kebenaran.

Disinilah ia, di balik ruangan dengan jeruji besi yang dingin selagi berlutut dihadapan tuan putri dari keluarga Amagi yang berada di seberangnya, menatap pemilik mata sebiru lautan itu, kulit seputih susu yang pucat, serta bibir semerah mawar, persis seperti boneka cantik yang berjalan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 18, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Wilted LilyWhere stories live. Discover now