Sepasang kaki mungil nampak terburu-buru turun menapaki anak tangga, sepertinya pagi ini ia terlambat? Atau mungkin tidak?
"Mimaaa!! Taruh! Tidak, tidak ada jus jeruk untuk sarapan."
"Tapi Piii ih haus!"
"Ini, susu nya sudah cukup dingin. Cepat habiskan sarapanmu."
"Iya Pi. Eung? Papi mau kemanaaaa? Piii tunggu bahkan sarapanku-"
"Maaf ya, hari ini papi tidak bisa mengantarmu berangkat sekolah. Nanti kamu akan diantar oleh Kak Gavi ya? Dihabiskan ya sayang? Papi berangkat dulu."
Seperginya sang Papi, pria manis itu mengunyah roti isi nya dengan kasar, seakan menampilkan bahwa ia sedang emosi. Sepertinya hal tadi cukup mempengaruhi mood pria mungil berseragam lengkap itu pagi ini, Kecupan sebelum berpisah dari sang Papi juga tidak berdampak banyak.
"Jemi?"
Ia menoleh karena merasa dirinya dipanggil oleh seseorang. Beruntung piring miliknya sudahlah tandas, yang mengartikan bahwa ia telah selesai sarapan. Langkah penuh tekanan sehingga hentakan cukup terdengar bagi kedua insan dalam satu ruangan itu. Ia mengambil tas yang tadi tersampir di sofa lalu berjalan menghampiri pria lainnya yang berdiri di depan pintu. Baiklah, sepertinya pria mungil ini masih dalam suasana hati yang buruk.
"Kak Gavi, seharusnya kakak jangan mau disuruh-suruh oleh Papi! Papi melarangku untuk meminum jus jeruk pagi ini, lalu dia pergi begitu saja! Huh! Aku benar-benar kesal, Kak!" Keluhnya dengan cukup menggebu. Tanpa merespon satupun kata yang dikeluhkan Jemima, pria yang nampak lebih dewasa itu meraih tangan mungil Jemima dan kemudian menariknya perlahan keluar dari rumah menuju mobil yang sudah terparkir di depan. "Ayo, sebentar lagi Iyan menyusul." Ajaknya, walaupun nampak enggan, tetapi Jemima tetap menuruti apa yang pria itu katakan. Padahal ia merencanakan membolos, sayangnya pria yang mendorong pelan punggungnya itu sudah paham apa yang Jemima rencanakan.
"Mimaaaa! Akhirnya kita berangkat bersama! Hehe" seorang pria seusia Jemima berlari menghampiri keduanya. Haiyan, adik dari pemuda tampan yang menjemput Jemima. Jemima sekelas dengan Haiyan, hal ini memudahkan Gavier untuk mengantar mereka sekaligus.
"Berisik! Aku sedang kesal asal kau tahu! Papi sangat sangat menyebalkan pagi ini." Jika dilihat, nampaknya Jemima akan mengadukan pada siapapun yang membuat dirinya kesal, terutama pagi ini.
"Sudahlah, hari ini kita berangkat bersama dan seharusnya kau memberikanku senyuman hangat serta pelukan! Lihatlah! apa ini? Apa kau juga berencana merusak pagi ku?" Apa yang dikatakan oleh Haiyan cukup membuat Jemima tertunduk. Bukan itu hal yang dia inginkan, tidak! Bukan itu! Ia hanya ingin mengadu saja.
"Maafkan aku." Masih dengan kepala tertunduk, Jemima mengatakan hal itu, nampak seperti menggerutu memang. Haiyan kembali tersenyum riang, saat Jemima meminta maaf. "Baiklah tuan-tuan, apakah kita sudah boleh pergi sekarang? Kita masih memiliki beberapa menit lagi jika kalian masih ingin berdebat." Jemima dan Haiyan sedikit tersentak oleh celetukan itu. Ngomong-ngomong, ketiganya sudah di dalam mobil, Gavier sedaritadi hanya memperhatikan apa yang dilakukan dan dibahas mereka berdua.
"Hehe, sebentar kak!" Gavier menaikkan satu alis nya, heran akan perintah adik mungilnya. "Tentu! Tentu akan ku maafkan, tapi dengan satu syarat!" Haiyan tiba-tiba mengatakannya dengan nada sedikit serius kepada Jemima, membuat Jemima menarik sudut bibir nya dan mengangguk semangat seakan menerima apa saja syarat yang mungkin saja aneh? Ntahlah, walaupun ia sedikit curiga pada saudara manis nya itu.
"Terimakasih Iyaann! Katakan. Apa syaratnya?" Mereka bertiga terdiam cukup lama, menunggu syarat yang diajukan Haiyan.
"Apa fisika mu sudah selesai semua? Wah, menurutku kali ini PR kita cukup sulit. Terutama nomor 2,3,4 dan 5! Apa kau mau membantuku? Sepertinya jika kau mengajarkanku itu akan memakan waktu lama bukan? Jadi bagaimana kalau kau meminjamkan ku PR mu? Ku jamin saat kita sampai di sekolah, aku sudah selesai menyalinnya! Bagaimana? Ingat, kau tidak bisa menolaknya karena ini adalah syarat."
YOU ARE READING
How about us?
FanfictionBagaimana dengan kita? awalnya semua itu tidaklah rumit, namun ntah permainan takdir seperti apa yang menanti mereka di depan sana, rasanya cukup lelah. Ini tentang Gavier yang terjebak dalam sebuah situasi bersama adik sepupu nya. Akankah takdir b...
