Luka melangkah menuju rumah besar hingga berada di depan pintu rumah.
"Semoga kali ini, aku bisa bahagian ayah." Kata nya berharap.
Clek....
Pintu terbuka menampakkan sepasang suami istri duduk di atas kursi.
" Sayang.. kau sudah pulang nak?" Tanya meriana kepada putranya lembut.
Lukan memegang sertifikat dan piala didepan dadanya.sementara ayahnya hanya menatap jengah putranya itu.
"Ayah, tahun ini aku dapat juara..."
"Silat?" Ucapnya sembari membaca koran nya lagi.
Lukan mengangguk antusias.
"Cuma silat kan! Ayah juga bisa!" Lanjutnya tanpa mengalihkan perhatian nya pada koran .
"Tapi ini sekabupaten loh yah! " Bela ibunya bangga, sembari menempuh pundak anak nya.
"AYAH GAK PEDULI. SELAGI BELUM DAPAT KOMPETENSI SAINS, ITU SEMUA HAL KECIL BAGI KU!!" kata Barta menggebrak meja.
"Ayah, jangan gitu dong... Dia kan udah berusaha yah. .." bela meriana iba.
"Dia tetap sama seperti ibunya" cetus Barta. Lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Lukan tidak berharap lebih karena sebetulnya dia sudah tau apa yang yang akan ayahnya katakan.
"Sudahlah bunda, kita hanya akan membuang waktu saja, lagi pula dari dulu dia tetap seperti itu." Kata lukan frustrasi lalu meninggalkan ibunya menuju kamar.
"Lukan!"sahut ibunya
Lukan menghentikan langkahnya sejenak.
"Tentang ayah mu itu, jangan kau masukkan kedalam hati" lanjut ibunya lalu menatap punggung anak nya yang semakin menjauh.
Lukan menutup kamar nya sembari bernafas berat. Ia membuka lemari khusus nya yg berwarna abu-abu itu, menaruh sertifikat nya bersama dengan kumpulan buku lainya. Lalu pialanya diletakkan di atas lemari.
Lukan kembali menghela nafas panjang. Melempar kan tubuh nya ke ranjang kasur berwarna hitam dengan spray berwarna abu.
Ingatan kelam saat masa lalunya menghantuinya.
Kau anak yang buruk!!!
Sial!!!
Kau malah mirip ibumu!!!
Dasar pengecut!!!!
*Aku takut ayah....!!!*
Diam!!!! Kau harus bisa!!!!
*Aku tak mampu.....*
Kau harus mampu karena kau anakku!
*Apa dengan menjadi anak ayah, aku harus bisa Dengan apa yang ayah bisa?*
Tentu saja !!!!
repotasi ku akan hangus!!!
Dan aku akan menyalahkan mu saat itu!!!
Shlakh...
Sebuah cambukan memecut di punggungnya. Lukan bisa merasakan rasa sakit pilu disana.
______
9 tahun lalu. Meriana saat itu sedang kontrol ke rumah sakit Bhayangkara. Saat itu, ia melihat seorang anak kecil yang ceria mengunjungi rumah sakit dan bertanya pada suster
" Apa profesor dokter Barta samudra Luis ada?" Kata anak kecil itu sembari tersenyum ceria
"Waw!!! Kau menyebutnya lengkap sekali nak"kata suster itu mencoba menyetarakan tingginya dengan pria kecil itu.
"Tentu saja!!! Dia ayah ku" kata lukan kecil bangga.
Semua karyawan disana dan beberapa pasien lain spontan menoleh ke anak itu.
"Waw!!! Kau memegang piagam sepertinya kau juga anak berprestasi sepertinya." Tanya seorang pasien.
"Tentu," kata anak kecil itu tersenyum manis.
Mariana mendekat mencubit pipi anak itu gemas. Bukan tanpa alasan, ia sangat menyukai anak kecil. Andai ia juga bisa memiliki anak seperti nya.
"Apa prestasi yang kau peroleh nak,?" Kata Mariana lembut.
"Bola basket kecil... Aku hanya juara 4 harapan" jawaban lukan membuat para suster saling menatap.
Derap langkah kaki barta berderap gagah. Menuju kerumunan. Ia baru saja diberi tahu rekannya bahwa anaknya itu mengunjunginya ke rumah sakit.
"semoga anak menyebalkan itu tak membuat kegaduhan!" Batinya gelisah
"Aku memenangkannya bersama beberapa temanku." Kata lukan pamer, anak itu sangat menggemaskan.
Barta memecah kerumunan. Anak itu spontan langsung memeluknya.
"Ayah...."
Seorang dokter perempuan mendongak menatapnya remeh. Sedangkan Barta, ia hanya merasa risih dengan dekapan anaknya itu.
"Ayah... Aku kangen bersama ayah" adu lukan
"Lepaskan aku lukan! pakaian ku bisa kusut" celetus ayah nya.
Mendengar itu,lukan cepat'melepaskan dekapannya. Lalu tersenyum manis.
"Ayah, aku habis juara basket!! Juara empat harapan. "Katanya bangga
Barta menepuk jidatnya.
"Lihatlah itu Barta, anakmu juara saja tak bisa?" Oceh dokter perempuan itu.
"Padahal dulunya kau adalah raja olimpiade" sambungnya
"Aku akan menyusul nya" kata lukan polos
"Cih.. kau? Ayahmu dulu raja olimpiade SAINS tingkat nasional. Dan kau? Hanya menjadi atlet kecil yang tak mampu meraih tiga besar! Bagaimana kau bisa menyusul nya?
"Dia ahli dalam mengobati, medis, dan penyembuhan. Dan kau" dokter itu tertawa.
" Bukankah mencegah lebih baik dari mengobati?" Balas lukan tak terduga.
Tawa dokter itu kembali pecah
"Hahaha... Kau. Kau mulai sok pintar seperti ayah mu."
Barta yang sedari tadi berada di antara mereka membentak "cukup!!!!!. Kau tak perlu membahas anakku"
Barta menarik anaknya kasar. Kebelakang parkiran. Mariana mengikutinya di belakang. Tempat itu benar benar sepi. Dan satu hal lagi, tempat ini tak disorot cctv. Barta yang sudah lama bekerja disana tentu tahu itu.
Dimarahinya lukan habis habisan. Dia di jewer sampai merah. Namun anehnya anak itu tak menjerit dan hanya meringis kesakitan. Lalu setelahnya anak itu berusaha tersenyum
"Kau membuatku malu lagi anak bodoh!!!!!!!"
"Kau sangat hina seperti ibumu."
"Ibu?"tanya lukan
" Yah, ibumu hina. Sama juga seperti mu"
"Kenapa ayah benyebut ibu hina. Dia isterimu kan?" Jawab luka sedikit menaikan nada
Ayah mendekatkan mukanya, hingga muka ayah dan anak itu hanya berjarak tak lebih sejengkal saja. Itu membuat anak itu sedikit mundur.
" Bukan, Dia hanya alat untuk mendapatkan mu!" Kata barta lalu menampar anak itu habis habisan.
.
.
.
Ini hari pertama ya. Author akan berusaha membuat alur cerita yg sangat menarik.
Dada🤭
YOU ARE READING
Lukansa
Teen Fiction"Melihat senyum ayah adalah kebahagiaan bagiku." "Apa benar, kau mengorbankan dirimu sendiri untuk itu.!" "Ya! Itulah kebahagiaanku. Itulah caraku untuk bahagia" Raga menepuk bahunya, ia tau temanya itu suka bicara sendiri. "Apapun yang Lo lakuin d...
