1

0 0 0
                                        

Pergantian malam tahun baru adalah momen  yang paling dinantikan oleh banyak orang, tidak terkecuali oleh Suci dan Daren. Dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, hampir 2 tahun lamanya mereka berdua menjadi sepasang kekasih, meski hubungan mereka backstreet, tetapi hal itu tidak bisa memadamkan api cinta yang berkobar di dalam hati keduanya.

Suci merupakan seorang gadis kelas 2 madrasah aliyah yang berasal dari Desa Repok, satu-satunya anak gadis dari Bapak H. Bahar yang merupakan seorang guru PAI di salah satu sekolah swasta di Desa Repok tersebut.

Suci dikenal sebagai sosok remaja cantik yang pandai menjaga kehormatannya, ia selalu berpakaian layaknya seorang muslimah. 

Selalu memakai  gamis lebar menutupi mata kaki, kerudung panjang menjuntai hingga lutut serta tidak ketinggalan kaos kaki yang menghiasi kaki jenjangnya, sehingga tidak ada celah bagi lelaki ajnabi untuk menikmati keindahan lekuk tubuh gadis remaja berlesung pipi menawan itu.

Saat berjalanpun ia selalu menundukkan pandangannya tetapi ia tidak pernah lupa untuk bersikap ramah pada setiap orang yang dijumpainya,  sehingga banyak lelaki yang jatuh hati pada gadis secantik Suci, sayangnya Suci yang cantik nan shalihah itu tidak sesuci namanya seperti yang orang-orang kira selama ini.

Sementara Daren merupakan kakak kelas Suci, beberapa bulan lagi ia akan menyelesaikan pendidikannya di bangku kelas 3. Sebenarnya Daren bukanlah orang asli Desa Repok, tetapi asli orang Kalimantan blasteran Amsterdam, Belanda.

Ia dan kedua orang tuanya pindah ke Desa Repok sekitar 3 tahun yang lalu, alasan pekerjaanlah yang membuat keluarga campuran itu bermukim di desa tempat Suci dilahirkan. Ayah Daren dipindahtugaskan bekerja di salah satu perusahaan lokal yang ada di Lombok Timur. 

Dari segi fisik Daren dan Suci memang cocok jika disandingkan, karena keduanya sama-sama memiliki paras yang rupawan.

Tepat pukul 00.00 WITA, ratusan kembang api dinyalakan secara bersamaan, riuh suara terompet menggema di udara. Semua orang yang berada di Lapangan Menteng Bangka bersorak gembira menyaksikan gemerlap kembang api yang bertaburan di angkasa.

 “Happy new years, Umi. Semoga cinta kita tetap abadi sampai kita menikah nanti” ujar Daren sambil mencoba meraih jemari lentik Suci.

Suci sempat terkejut dengan apa yang dilakukan Daren, ia mengedarkan pandangannya gusar, sepertinya Suci merasa takut kalau ada yang melihat mereka sedang bersentuhan.

“Tidak akan ada yang menyadari kita Umi,  semua orang di sini pasti mengira kita adalah pasangan suami istri,” bisik Daren.

Tetapi tetap saja Suci tidak tenang ia menjauhkan tangannya dari jangkauan Daren.

“Umi” Daren tersenyum manis sambil menatap Suci penuh cinta.

Entah mengapa melihat bola mata coklat yang teduh serta senyuman memikat yang dimiliki Daren membuat Suci merasa tenang, ia tidak lagi gusar seperti tadi.

Kali ini ia membiarkan Daren untuk menyentuh tangannya, bukan hanya sekedar menyentuh tetapi juga menggenggam erat tangan halusnya. 

Semburat merah jambu menyembul dari kedua pipi mulus Suci, tubuhnya terasa seperti tersengat listrik ketika kulit mereka bersentuhan. Ini pertama kalinya mereka bersentuhan, sebelumnya Daren tidak pernah berani menyentuh Suci, bahkan lelaki itu begitu menghormati dan menjaga Suci dari hal-hal yang bisa menjerumuskan mereka ke lembah dosa.

Rasanya ribuan kupu-kupu berterbangan keluar dari dalam perut Suci ketika tangan Daren tiba-tiba berpindah ke bagian pinggang Suci, mereka nyaris tidak berjarak. 

“Biarkan Abi menyentuh Umi kali ini saja, Abi ingin merekam momen ini di ingatan Abi agar hanya ada Umi yang ada di hati dan pikiran Abi,” ujar Daren lalu mendaratkan kecupan hangat di kening Suci. “Abi mencintaimu, Umi” 

“Umi juga mencintaimu, Abi” 

Abi-Umi… Begitulah panggilan sayang Suci dan Daren pasangan tidak halal yang sedang terjerat perangkap si iblis musuh manusia yang begitu nyata adanya.

Tanpa rasa malu, Suci menyandarkan kepalanya yang berbalut kerudung merah maroon itu di bahu Daren. Sepertinya Suci telah lupa akan prinsip hidup yang selama ini ia pegang teguh, cinta sesaat membuat ia lupa diri. 

Reaksi Suci tentu saja membuat Daren senang bukan kepalang. Tangan lelaki itu semakin berani berpindah posisi, kali ini kedua tangannya memeluk Suci sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Sepertinya Daren memang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang menurutnya sangat langka ini. Mungkin bagi Daren kapan lagi ia bisa menyentuh gadis sesuci Suci.

Lagi-lagi Suci tidak mengelak bahkan ia tidak merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Daren adalah hal yang salah dan berlebihan, ia menikmati pelukan hangat yang diberikan oleh lelaki berhidung mancung tersebut dan  mungkin juga berhidung belang. Senyuman bahagia dikala Daren semakin mengeratkan pelukannya begitu jelas tercetak di wajah cantik Suci.

Kali ini saja ya Allah, hamba janji setelah ini tidak akan ada sentuhan yang lainnya lagi.

Suci mengedarkan pandangannya ke segala arah seperti sedang mencari sesuatu. “Bi, Intan sama Riko mana, ya?” 

“Oh mereka. . . Tadi Riko ngechat Abi, katanya mereka mau pergi ke suatu tempat, mereka mau saling membuktikan cinta mereka, Umi” jawab Daren  

Suci mengerutkan keningnya. “Mau membuktikan cinta? Emang harus ke tempat lain, ya? Emang nggak bisa di sini?” tanya Suci polos. 

“Ya nggak bisa lah Umi kalau di sini” jawab Daren santai.

Suci melirik benda berwarna biru tua yang melingkar manis di pergelangan tangannya, jarum yang ada di dalamnya menunjukkan jam 01.30 dini hari. 

“Bi, pulang yuk! Udah jam segini, anterin Umi ke rumahnya Intan, ya!” Suci mengurai pelukannya dengan Daren, rasanya Daren masih belum rela berhenti memeluk tubuh yang sejak lama ingin ia peluk, meski dengan berat hati Daren bersedia mengantar Suci untuk pulang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 31, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

EMBUN DARA CINTAWhere stories live. Discover now