Part 1 ( Perpisahan )

39 2 14
                                        


10 Juni 2010, Rotterdam, Netherland.

Stevanus Edgar membuka matanya yang terasa berat, lalu ia mengangkat tangan menutupi mata dan mengerang pelan. Sinar matahari yang menembus jendela kamar tidur menyilaukan matanya. Ia menguap lebar sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku, berguling dari tempat tidurnya, berjalan dengan langkah agak diseret-seret ke pintu kamarnya, dan keluar menuju lantai satu.

Hari ini adalah hari kepulangan Edgar ke Indonesia. Lusy, Ibunya, yang sedari tadi menyibukan diri memasak makanan kesukaan Edgar, sekarang tersenyum kepadanya sambil memegang wajan dengan satu tangan dan spatula di tangan lainnya.

" Goedemorgen, Ma' " sapa Edgar sambil menuju kursi di ruang makan.

" Ja, zitten hier " ajak Ibunya sambil mengisi piring makan.

" Waar nu, Kevin? "

" Buiten, nu eten! " ajak Ibunya.

Ia pun makan dengan lahap Lasagna buatan Ibunya. Sesuap demi sesuap ia rasakan kenikmatan masakan Ibunya untuk terakhkir kalinya. Setelah selesai makan, ia memuji masakan Ibunya. Edgar berdiri dari kursi tempat dia duduk dan berjalan perlahan menuju beranda rumah, membuka pintu dengan gontai. Terlihat Kevin, adiknya, sedang berjongkok kebingungan. Mengais-ngais rumput untuk mencari kelereng birunya yang hilang.

" Verdwenen waar? " kata Edgar. Sambil mencoba mencari di semak-semak.

" Hier! " sambil menunjuk ketempat Kevin berada, yaitu di dekat lampu taman berbentuk lollipop. " Gevonden! " teriaknya kesenagan.

Edgar menghampirinya dengan senyuman, mengacak-acak rambut Kevin dengan gemas. Tinggi Kevin setara dengan dada Edgar yang mempunyai tinggi badan 170 cm, dengan rambut hitam, kulit putih dan mata sipitnya yang khas.

" Nanti siang aku akan pergi, kamu jaga mama dan Oma ya, tentu jaga dirimu baik-baik juga." Pinta Edgar dengan parau.

" Apakah kakak benar-benar akan pergi?, aku akan sangat rindu. Kita tidak bisa bermain di taman lagi. " balas Kevin sambil terisak.

" Maafkan aku, tapi kita bisa Skype, kan?". Balas Edgar meyakinkan. " Aku tidak akan bosan menelfon mu." Tukasnya sambil mengacak-acak rambut Kevin Kembali. " Ja, afspraak! " janji Edgar.

FLASHBACK

November 2005, Rotterdam, Netherland.

Siang itu sangat kacau, suara teriak memaki membangunkan Edgar dari tidurnya. Ia pun berjalan gontai keluar kamar dan menuju dapur. Ia menguping pembicaraan Ayah dengan Ibunya yang sedang beradu mulut. Ia mengambil kesimpulan bahwa Ayah dan Ibunya sudah tidak bisa bersatu lagi dan menyebabkan Ayahnya ingin bercerai dengan Ibunya. Tetapi yang di perdebatkan sekarang bukanlah hal itu, melainkan hak pengasuhan anak.
Dengan perasaan sedih Edgar pun kembali kekamarnya. Menggulung diri didalam selimut tebalnya dan memaksakan untuk tidur.

Lima hari sesudah kekacauan itu akhirnya Ayah dan Ibunya bercerai, masalah hak asuh sudah ditetapkan dan Marshel, Kakaknya, akan tinggal dengan Ayahnya di Indonesia dan Edgar akan menyusul setelah ia cukup umur. Permasalahan yang menghancurkan segalanya. Membuat Kakaknya berubah 180 derajat menjadi pendiam.

FLASHBACK OFF

Suara panggilan Ibunya membuyarkan lamunan Edgar. Ya, sudah 5 tahun sejak kejadian itu, ia tidak bisa memutar balikan waktu. Dan hidup terus berjalan. Ia sekarang sedang membereskan baju, buku, dan semua barang-barang yang akan dibawanya ke Indonesia. Dikemasnya rapi kedalam koper perseginya, setelah tiga puluh menit mengepak barang.

" Al Allens? bawa seperlunya saja, yang lain akan Mama kirim lewat pengantar kilat! " tukas Ibunya sambil melihat ke sekeliling kamar.

" Ja, Ma'. " balas Edgar, berjalan menghampiri Ibunya dan memeluknya erat.

- Bandara -

Ibu Edgar mengantarnya sampai bandara, sedangkan Kevin tinggal di rumah bersama Omanya yang sedang sakit.

" Ayahmu, nanti akan menunggu di bandara." tukas Ibunya.

" Ja, ik hou van je, Ma'. " balasnya sambil memeluknya sekali lagi dengan erat.

Waktu keberangkatanya sudah tinggal 10 menit lagi. Dia pun bersiap-siap pergi dan berpamitan kepada Ibunya.

Edgar pun pergi.

11 Juni 2010, Bandara Soekarno-hatta, Indonesia.

Mentari pagi menyambut Edgar dengan hangat. Mengintip cerah di jendela pesawat. Saat Edgar melihat ke depan kaca jendela dan dilihatnya laut biru nan indah terhampar luas dengan pulau-pulau bertebaran di bawahnya. Dia Sudah sampai di Indonesia.

Edgar pun mencari papan nama yang bertuliskan namanya, Stevanus Edgar. Dia meneliti setiap orang yang berada di kanan dan kirinya. Tak ada. Dia pun berjalan lebih dalam lagi, dan tak sengaja melihat papan namanya dipegang oleh laki-laki berbaju polo merah dengan Jins biru dongker. Dia sangat tinggi, berkulit putih seperti Edgar dengan rambut coklat kekuningan. Ya betul, itu Marshel, Kakanya. Dengan senang Edgar pun menghampiri Marshel.

" Goedemorgen! " tukas Edgar.

" Ja, come on! ". ajak Marshel seraya berjalan pelan-pelan ke arah pintu keluar.

" Berbeda " itulah kata pertama yang terlintas dibenaknya. Kini Marshel bukan seperti Kakaknya yang dulu. Dia lebih seperti orang lain, yang ia tak kenal siapa. " Atau mungkin ini hanya karena kami baru bertemu ". jawabnya pada dirinya sendiri. Ia pun sampai di depan bandara.
Ternyata mereka dijemput oleh laki-laki separuh baya yang memakai setelan biru dongker dan laki-laki itu langsung terburu-buru membukakan pintu mobil untuk mereka.

Selama perjalanan tak ada percakapan yang berarti diantara Edgar dan Marshel. Mereka berdua lebih banyak diam dan sibuk pada Gadged-nya masing-masing.

Setelah 2 jam perjalanan karna macet. Mereka pun sampai di Pondok Indah. Rumah kediaman Ayah Edgar memang cukup besar dibadingkan rumah mereka yang di Belanda. Rumah ini ber-arsitektur minimalis dengan campuran warna hijau muda, Abu-Abu, dan biru. terkesan luas dengan kolam renang yang besar di samping rumah. Tak bayak ornamen yang menghiasi kebun di rumah itu. Hanya semak dan pohon-pohon yang tertata apik.

" Kita sudah sampai. Masuk dan pilih kamarmu. Nanti barang-barang Pak Ujang yang bawakan. " tukas Marshel dan berlalu ke dalam rumah duluan.

Edgar pun masuk ke dalam rumah. Tak banyak perabotan di dalam rumah. Di ruang tamu tepatnya, hanya ada seperangkat sofa hijau rumput, lemari barang antik, dan lukisan. Edgar pun meneliti lebih jauh lagi dan sekarang dia berada di ruang tv, ada sofa, beberapa bantal duduk dan tv 42 inc yg tertempel di tembok serta lemari-lemari yang tak sempat Edgar lihat isinya.

Ia pun langsung menuju tangga dan naik ke lantai dua. Disana terdapat 6 kamar kosong dan satu kamar dengan pintu berstiker yang bertuliskan " Dont Distrub !", sudah dapat diketahui itu adalah kamar Marshel.

Edgar pun memilih kamar paling pojok dekat dengan jendela lebar. Kamar yang luas dengan kamar mandi di dalam. Sudah terisi dengan tempat tidur bertingkat yang bawahnya kosong dan diisi dengan bantal duduk serta tv 30 inch yang tertempel di dinding tepat di bawah tempat tidur. Serta lemari pakaian dan meja belajar di sampaing tempat tidur. Ia pasti akan segera Beradaptasi.

------------------------------------------------------
Multimedia :
- Freddie Highmore as Stevanus Edgar
- William as Kevin Cho
- Dr. Lee as Marshel cho

Part selanjutnya akan di update jika viewers melebihi 150 :).. jangan lupa memberikan Comment dan vote untuk penyemangat membuat cerita ini ya :)

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 28, 2015 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

His StoryWhere stories live. Discover now