Setiap orang punya alasan, punya dorongan, punya kisah masing-masing kenapa akhirnya menulis. Aku menulis sejak jaman berkembangnya gerakan semua orang bisa menulis. Tapi aku tak pernah bergabung. Butuh waktu aku sampai tergerak menulis. Aku menulis untuk menyegarkan diri, membuang sampah pikiranku. Kala itu tak ada teknologi seperti sekarang. Setiap karya butuh penikmati. Kala itu fotokopi terasa mahal, print out apalagi. Kalau toh akhirnya dicetak supaya bisa dinikmati orang lain, ternyata penikmati lokal tentu saja berwawasan lokal, bercitarasa sama. Kalau itu asin, semua cenderung asin. Kalau itu manis, semua cenderung manis. Kalau itu pahit semua cenderung pahit. Aku ingin hasil kerjaku dinikmati. Seperti kita kerja cari duit, nggak seru uangnya ditandon di bank doang, bukan kita yang bekerja keras yang pakai, pihak lain yang memanfaatkan semaksimal mungkin. Pengen dinikmati lebih luas.
Ke penerbitan??? Tentu wajar penerbit sangat selektif, tak semudah itu. Cetak berarti biaya cetak, transportasi untuk mengedarkan dan banyak lain. Cost besar. Tak mau resiko. Wajar sekali.
Seorang teman pernah suatau hari bilang, ada penerbit kecil yang membeli karya senilai lima juta. Hak milik berpindah. Tentu karya kita menjadi milik mereka. Wow... Jaman segitu buat beli sepeda bekas yang masih baru saja enggak cukup. Tapi tak apalah. Masalahnya. Karya kita akan jadi milik mereka. Dan kita gak tahu apa-apa selain uang lima juta. Woww.... Aku lebih pilih kebebasanku.
Bertahun-tahun kemudian, seorang saudara muda merintis menulis di era digital dan memulai lebih dulu, cukup jauh, cukup menghasilkan. Dia tidak hanya banyak bercerita, juga banyak memotivasi. Tapi aku tak tergoda. Masih banyak kesibukan. Lalu suatu hari memikirkan laptop yang jarang dipakai lagi, dan internet tak semahal dulu. Aku mulai memperhatikan platform digital. Aku mulai dari yang paling bebas. Kemudian aku coba platform-platform lain. Alasannya sederhana. Di platform pertama, bak hutan belantara, di platform-platform lain, aku merasa lebih terlindungi. Enggak mudah jadi sasaran jiplakan. Entah seperti apa kongkritnya. Nyatanya seperti itulah aku berfikir waktu itu.
Plagiarisme, Menginsipari, dan Terinspirasi
Ketika naskah kita dipajang di sebuah platform, dibaca banyak orang, kemungkinan yang terjadi bisa banyak hal. Dinikmati, disukai, menggugah. Menggugah singa tidur dalam diri sang pembaca.
Antara terinspirasi dan menjiplak itu jelas dua hal berbeda. Originalitas tetap akan berjejak dalam karya yang dihasilkan karna tergugah atau terinspirasi dari pihak lain. Jejak plagiat juga akan tetap bisa ditelusuri. Seorang peniru hanya memahami kembang api yang menyala indah, tapi tak memahami bagaimana kembang api itu bisa menyala. Seorang peniru hanya mengerti bagian yang mempesona dirinya, tanpa memahami ruh, makna di balik pesona itu. Peniru canggih sekali pun, maksudnya dengan potensi kecerdasan tingginya, jika benar dia meniru juga akan tetap sama saja. Bak tong kosong nyaring bunyinya. Jika benar potensinya tinggi, maka dia tidak akan menjiplak. Dia terinspirasi dan dengan potensi tingginya akan menghasilkan karya yang berbeda. Baik secara karakter, penokohan, alur, konflik, elemen-elemen kecil dan besar lain.
Aku bahas paling awal tentang plagiarisme karna itu hakekat paling dasar dari integritas seorang. Mau jadi penulis atau bukan. Janganlah mencuri. Jelas mencuri itu tetaplah mencuri. Walau itu sekedar tulisan. Kenyataannya itu mencuri, merusak integritas diri sendiri.
Aku bahas paling awal karna originalitas itu sangat penting, Originalitas menunjukkan banyak hal tentang kita. Menunjukkan integritas kita. Siapa kita sebenarnya. Dan jika ternyata hasil jiplakan menghasilkan, akhirnya itu serupa dengan pencuri motor, pencuri uang rakyat dan pencuri-pencuri yang lain.
Integritas itu penting. Bagian nyaman dari menikmati hidup untuk diri kita sendiri. Bagian dari partisipasi menciptakan kenyamanan hidup. Kenyamanan batin akan membantu diri kita sebagai pribadi berkembang secara positif dan dengan cara positif. Maka karya-karya berikutnya pasti seirama dengan mekar indahnya kita sebagai penulis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perjalanan Penulis
AcakKamu penulis? Peduli itu baik. Kamu pembaca? Peduli itu baik. Baik sebuah kata sederhana yang seringkali tak diterjemahkan panjang kali lebar hingga kehilangan makna nyata signifikan sebenarnya. Menjadikan kebaikan menjadi sesederhana kata baik yang...
