🗣️ :: Masalah

3 0 0
                                        

"Yang benar saja kamu! Bisa-bisanya terpikirkan untuk mengadopsi anak di tempat ini?!"

"Apalagi mereka sudah remaja, kembar pula, memangnya kalian sanggup?!"

"Johar, Dahlia, kalian jangan main-main ini adalah hidup dua anak yang nantinya harus kalian tanggung dan besarkan."

Baik orang tua maupun mertua sangat menentang keputusan sepasang suami-istri yang masih muda untuk mengadopsi anak kembar yang sudah memasuki sekolah menengah pertama. Padahal kedua anak itu tinggal bersama kakek beserta nenek yang sudah renta.

Dahlia hampir saja menangis karena orang tuanya menentang dengan keras. Padahal itu adalah keputusannya sendiri bersama sang suami, sementara tangan Johar, suaminya. Bertengger di pinggangnya, dan berpindah menggenggam tangannya untuk memberikan dukungan moral.

"Sayang, ibu tahu kalau kamu memang menginginkan anak, tetapi kenapa harus yang sudah remaja? Laki-laki semua pula. Kamu itu masih muda, hidup kamu masih panjang," kata ibu Dahlia.

"Kalau hidup aku masih panjang, gak mungkin ibu sama ayah nge jodohin aku, kan? Gak mungkin sekarang aku tinggal sama Johar," saat mengatakannya, Dahlia sengaja menarik Johar ke arahnya untuk memperlihatkan kalau dirinya tidak menyesal dijodohkan dengan pria itu.

Semua orang di dalam ruangan itu membisu. Tak ada yang menjawab karena balasan untuk pertanyaan itu tidak pernah terpikirkan oleh mereka. Johar menatap mata istrinya, berusaha untuk tetap menguatkan wanitanya.

Mertua Dahlia mencoba memahami pikiran menantu serta putranya. Mereka memutuskan untuk mendukung, sementara orang tua Dahlia masih keras kepala bahkan sampai hari menjadi semakin malam.

Adam dan Naomi memberitahu putranya kalau mereka juga akan membantunya membujuk Camelia dan Danang, mertuanya.

Di ruang tengah. Ke empat orang itu duduk berhadapan. Seolah sedang mengadakan rapat untuk memutuskan apakah mereka akan setuju atau tidak. Walaupun keputusan akhir berada di tangan Dahlia dan Johar sendiri yang akan membesarkan anak-anak itu nantinya.

Di kamar Dahlia dan Johar. Keduanya diam memandangi jendela yang sama, memperlihatkan langit malam yang cukup tenang. Dahlia mulai mengingat bagaimana dirinya dulu harus beradaptasi dengan pria yang ada di sampingnya itu. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi dua anak sekaligus.

"Johar," panggilnya pelan. Nadanya menunjukkan betapa Dahlia mengagumi suaminya serta menyayanginya.

"Ya, sayang? Kamu butuh sesuatu?" tanya Johar yang khawatir tanpa sebab.

"Enggak, aku cuma mau ngingetin ke mereka. Aku juga anak angkat, kenapa mereka gak setuju sama sekali padahal dulu juga ngadopsi aku?"

"Itu beda sayang, dulu kan orang tua kamu yang ngerawat, kalau ini kan kita."

"Kita udah dewasa. Lagian ngapain dulu ngejodohin kita kalau gak percaya sama apa yang kita pilih?"

"Pernikahan ini, contohnya?"

"Tapi aku seneng sama keputusan itu, kamu tahu, kan?"

"Iya sayang, aku tahu. Kita cuma perlu yakinin ayah sama ibu kamu aja."

"Iya."



Kembali ke masa lalu. Kali ini adalah ke lima belas ibu Johar dipanggil ke sekolah karena anaknya membuat masalah. Pertemuan dengan kepala sekolah seolah menjadi rutinitas baru bagi ibunya yang kini sudah sampai di sekolah mengenakan pakaian formal yang seolah pakaian kerja untuknya disini.

"Kamu itu bisa gak sih gak bikin ibu kesini lagi? Kalau dapet prestasi sih ibu seneng, ini ke ruangan kepala sekolah harus dengerin tingkah kamu yang nakal ini," bahkan sebelum sampai ke ruangan ibu Johar telah mengomelinya panjang lebar. Tentu teman-teman yang melihat interaksi itu bisa menebak kenapa Johar bersama dengan ibunya ke sekolah.

Mr and Mrs Insanity Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora