Deburan ombak membasahi kaki nya, ia berdiri dengan pandangan kosong. Mata nya sayu, bahkan kantung mata nya pun masih nampak.
"SAYANG! SAYANG! AKU DISINI! PEGANG TANGAN KU!."
Bayang-bayang dari kejadian itu terus nenghantui nya. Membuat batin nya tersiksa.
"HELMA! HELMA! KAMU DIMANA HELMA?!."
"HELMAA!!."
Ia kehilangan separuh jiwa nya.
Sosok yang begitu ia cintai, kini telah pergi untuk selama nya. Pergi tanpa berpamit, membuat hati nya sangat-sangat hancur.
"Helma.. HELMA!! AKU DISINI HELMA!! JAWAB AKU!!."
Ia memjamkan mata, membiarkan angin pantai menerpa wajah nya. Hingga perlahan, air mata nya menetes dan membasahi pipi nya.
"Bagaimana aku bisa ikhlas jika jasad mu saja tidak ada hel? Kau sengaja menyikasa ku dengan cara seperti ini ya?."
Kaki nya mendadak melemas, hingga membuat tubuh nya jatuh terduduk dengan keadaan yang cukup kacau.
"Helma... andai saja hari itu aku tak menjauh dari mu... andai hari itu aku tetap duduk bersama mu... andai hari itu, kita tak pergi kemari."
Helma...
Kau begitu tega membuat kekasih mu tersiksa seperti ini.
Jika kau bisa melihat nya, kau lihat keadaan gadis mu Helma. Gadis mu sangat kacau.
Tubuh nya gemetaran hebat. Tak peduli jika Senja mulai berganti Malam, tak peduli jika kini tubuh nya mulai kedinginan karena air laut yang memasahi sebagian badan nya.
"Bagaimana bisa aku mengikhlas kan mu, helma?."
~•
YOU ARE READING
I'm alone.
Romance'Helma, kemana aku harus pulang? Rumah ku sudah hilang.' 'Semua orang menyuruhku untuk ikhlas, tapi bagaimana bisa aku ikhlas jika jasad mu saja aku tak tau ada di mana.' 'Tidak mudah untuk mengikhlas kan mu, helma.'
