Kali ini aku akan kembali memulai bercerita. Bercerita tentang masa SMA yang entah itu adalah hal yang indah atau hanya sesuatu yang perlu dikenang tanpa harus mengenang. Aku tidak tahu.
Masa dimana saat aku hanya bisa mengagumi tanpa perlu diketahui. Mengagumi seorang siswa dengan aura ketampanan yang begitu terpancar. Apalagi siswa itu adalah siswa yang rajin, pandai, dan dia selalu rendah hati kepada siapapun. Jangan melupakan senyum dia yang manis juga.
Katakan padaku, siapa yang tidak akan jatuh cinta kepada seseorang dengan karakter seperti itu?
Apa yang kukatakan memang benar adanya. Aku tidak melebih-lebihkan itu. Buktinya kini seluruh siswi sekolahku mengagumi dia juga. Tidak hanya sepantaran, adik kelas bahkan kakak kelas pun banyak yang mengaguminya. Ada yang secara terang-terangan dan ada pula secara sembunyi-sembunyi sama sepertiku.
Beruntungnya aku. Aku bisa menjadi teman sekelasnya dan bahkan tempat duduk kami pun bersebelahan. Itu akan memudahkan aku untuk lebih dekat dengannya. Rasanya memang akan mudah. Nyatanya aku sama sekali belum memulai satu percakapan pun dengannya. Mengawali perbincangan dengan seseorang yang aku kagumi memang tidak semudah ketika kita bersenda gurau dengan seseorang yang bukan siapa-siapa.
Aku mengangguminya entah bermula karena apa. Yang jelas bukan karena paras. Jika dikatakan dengan jujur dia memang tampan. Tapi, dia bukanlah yang tertampan.
Entah sejak kapan pula aku mulai berbicara dengannya. Rasanya akan terdengar aneh jika teman dari kelas lain tahu, aku belum pernah berbicara dengan dia yang statusnya sebagai teman sekelasku. Ada rasa aneh menggelitik pada perut dikala aku dan dia berbicara. Lebih menggelitik lagi jika hanya kita berdua yang berada dalam obrolan. Seakan dunia hanya milik kita berdua.
Rasa kagum ini apa bisa menjadi rasa cinta? Mencintai seseorang yang mungkin terlalu jauh untuk aku raih. Aku bukan siapa-siapa sedangkan dia di setiap langkahnya saja selalu terdengar seruan orang lain memanggil namanya. Tidak apa jika mereka sejenis dengannya tapi, ini lawan jenis. Aku cemburu.
Siapa aku berhak cemburu terhadap dia? Dianggap teman saja belum tentu iya. Sudah sok-sokan merasa cemburu. Bahkan di kelas saja aku terhalang oleh teman dekatnya, teman perempuannya. Bukan benar-benar menghalangi, hanya tidak memberi cela untuk aku mulai melangkah memasuki siklus pertemanan dengan dia.
Aku terlalu malu untuk meminta mereka membantu. Aku terlalu pesimis tentang apa yang akan mereka pikir tentang diriku. Dan aku yang terlalu banyak pikir takut mereka tidak sesuai dengan harapanku. Padahal aku tidak tahu apa mereka seseorang yang ramah? Karena aku belum pernah berbicara dengannya juga. Aku terlalu pendiam untuk memulai pembicaraan dengan dia bahkan teman yang lain.
Apa aku bisa menjadi lebih dari sekedar teman jika untuk berteman saja belum aku mulai?
∘°❉°∘
Terima kasih telah membaca hingga akhir. Tunggu update-an terbarunya, Ya.
Salam manis dari Lima Indian Alfa. ✨
YOU ARE READING
Kamu Adalah Mimpi Yang Tak Nyata
Teen FictionAku mengagumi dirimu bahkan mulai tumbuh rasa cinta. Hanya saja dirimu tidak mudah untuk aku gapai. Menjadi temanmu saja aku sangat bahagia. Namun, aku tidak ingin hanya menjadi teman. Aku ingin lebih. Aku egois. Biarlah! Hanya tentang dirimu lah ak...
