malam hari yang tenang ditemani bintang bintang yang membuat langit menjadi sangat indah, Nindya Arselia Halim tengah duduk dibangku taman ditemani oleh sang kekasih Marselio Ardenata menikmati semilir angin malam.
"kak marsel masih sayang ga sama aku?" pertanyaan terucap dibibir mungil Nindya membuat Marsel menengok kearah gadis disebelahnya dengan alis yang dinaikkan satu seolah bertanya apa maksudnya.
Nindya tersenyum sampai menampakkan bentuk bulan sabit dimatanya.
"lo ngomong apaan si Nin? kalo ga sayang ngapain gue masih ada disini sama lo?" ujar Marsel
"hehe gapapa sih kak aku cuma mau nanya aja, tapi boleh ga kakak janji sesuatu sama aku?" lagi lagi Marsel dibuat bingung oleh gadisnya itu.
"apaan?"
Nindya sempat terdiam sebentar.
"kakak janji ga akan lupain aku apapun kondisinya"
bukannya menjawab Marsel malah melirik jam tangannya, "pantes, udah jam 11", ujarnya.
bingung dengan jawaban Marsel yang lewat dari pertanyaannya.
"maksud kakak?"
"iya udah jam 11, makannya pertanyaan lo ngawur terus", Nindya yang mendengar hal itu seketika menggaruk lehernya yang tidak gatal sembari tertawa kecil.
"udah kita pulang aja, udah malem gue takut kakak lo nyari"
setelah mengucapkan hal itu, Marsel segera bangkit dari duduknya lalu melengos pergi kearah parkiran tanpa memperdulikan Nindya yang tertinggal.
Nindya hanya bisa menghela nafasnya berat, selalu begitu-batinnya.
diperjalanan pulang hanya ada keheningan diantara mereka, Marsel yang fokus menyetir dan Nindya yang fokus menikmati jalanan sepi. saat melewati penjual kebab yang masih buka Nindya meminta Marsel berhenti sejenak.
"ribet banget si lo" ucap Marsel ketika Nindya selesai membeli kebab kesukaannya itu.
"hehe aku lagi pengen banget kebab kak, soalnya pas pulang sekolah kelupaan beli. mumpung masih ada yang buka juga" Marsel memutarkan bola matanya malas.
"ck, udah cepet. gue mau pulang" Nindya menganggukkan kepalanya dan kembali naik keatas motor Marsel.
sesampainya dirumah Nindya, gadis itu segera turun dan tanpa basa basi lagi Marsel melenggangkan motornya meninggalkan pekarangan rumah Nindya.
gadis itu hanya bisa tersenyum,"hati hati kak" ujarnya pelan lalu berjalan masuk kedalam rumah.
"abis darimana kamu?" suara tersebut menghentikan langkah kaki Nindya.
setelah Nindya tau siapa pemilik suara seketika mematung ditempat. "kak Galen?" ujarnya secara terbata bata dan sembari menunduk.
Galen perlahan menghampiri Nindya yang tengah tertunduk,"bagus perempuan pulang tengah malem gini?" tanya nya dengan tegas.
Nindya hanya mampu terdiam ditempat, ia lebih takut kepada kakaknya ketika marah ketimbang ayahnya ketika marah. karena Galen adalah orang paling overprotective jika menyangkut kedua adiknya.
"kakak tanya Nindya Arselia Halim. abis dari mana kamu?" ulangnya.
dengan suara lirih Nindya menjawab," abis dari taman sama kak Marsel, tapi bukan salah kak Marsel kok Kak. aku yang minta kak Marsel jalan jalan dulu sebentar sebelum pulang, makannya kemaleman. maaf kak"
raut wajah Galen sudah tidak bisa terbaca olehnya, perlahan ia menghela nafas, "seminggu kedepan, kamu kakak larang udah ga boleh keluar dari jam 5 sore. kalau kamu sampai ngelanggar, kakak bakal potong uang jajan kamu dan blokir semua kartu atm kamu. faham?"
YOU ARE READING
Hari ini Esok atau Nanti
Teen Fictionhai, ini cerita berdasarkan imajinasi dan hasil pikiran aku sendiri yaa hope you like it!
