Baca disini dan dengarkan di Spotify Rintik Sedu ya
https://open.spotify.com/episode/6VxcllkDLnHGFmIber0CmJ
=====
Biru. Laki-laki yang tangguh sekaligus rapuh. Pelaut yang tidak kenal jalan pulang. Kecuali pada masa kelam yang masih sering menghantuinya. Yang kadang datang sebagai mimpi buruk, kadang pula sebagai rasa takut.
Sebenarnya, Biru sudah lebih dulu dikenal lewat sebuah buku berjudul KATA. Tetapi sosok paling tidak nyata itu justru jadi cahaya yang membuat KATA akhirnya tercipta. Tidak. Cahaya itu tidak terbentuk dari senang dan tenang saja. Malah sebaliknya. Kegelapan, keterpurukan, kehilangan, jadi alasan pelaut yang selalu ingin menciptakan peta buta itu, berhasil melanjutkan perjalanannya.
Selalu ada cerita sebelum bab pertama. Selalu ada rahasia di balik judul cerita. Dan kini, kamu akan mengetahui halaman-halaman kosong yang tidak hadir di dalam buku itu. Kamu tidak hanya akan mengenal Biru. Kamu juga akan menemukan bagian dari dirimu pada masa lalunya.
=====
Biru dan Jani sudah berteman sejak kecil. Seperti yang kita tahu, Jani memiliki seorang Ibu yang mengidap gangguan kejiwaan akibat trauma masa lalunya. Saat itu, Biru memang tidak mengerti banyak hal. Tapi ia tahu, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah meninggalkan Jani.
Rumah mereka berdekatan. Meski tidak bersebelahan, tetapi masih dalam satu komplek yang sama. Ayah Biru selalu mengantar mereka berdua ke sekolah. Tidak lupa bekal makan siang yang Jani terima dari Bundanya Biru.
Sejak sang Ayah pergi meninggalkannya, Jani memang hidup di dalam lubang yang gelap. Tetapi alam raya menghadirkan Biru dan keluarganya. Membuat sedikit demi sedikit harapan baru masuk ke dalam hidupnya.
=====
"Biru, kamu kalo udah besar mau jadi apa?" Tanya Jani.
"Pelaut" jawab Biru dengan tegas.
"Pelaut? Hmmm anak-anak di kelas nggak ada yang jawab itu."
"Kenapa nggak dokter? Atau astronot, pilot, atau polisi? Kenapa harus pelaut?" Tanya Jani lagi.
"Jani, pilihannya kan nggak cuma yang ada di kelas. Emangnya kamu mau pilih salah satu di antara itu?" Biru bertanya balik.
"Mau jadi dokter? Kamu takut darah. Mau jadi astronot? Disana nggak ada cheese burger. Mau jadi pilot? Kamu takut ketinggian. Jadi polisi? Hah itu apalagi"
"Bener juga ya. Hmm aku jadi apa ya Biru? Jadi... kura-kura saja!"
"Hei, kamu cuma bisa ngomong itu denganku. Kalo kamu kasih tahu Bu Guru cita-citamu adalah jadi kura-kura, pasti Bu Guru berpikir ada yang salah sama otakmu"
"Terus gimana dong, Biru? Gimana supaya aku bisa ngomong ke orang lain? Masa aku ngomongnya sama kamu terus?"
"Ini adalah teka-teki yang musti kita pecahkan Jani. Kita harus mencari cita-cita yang membuatmu jadi bisa bicara ke semua orang, bahkan satu dunia"
"Yah, susah dong Biru. Kalo harus kayak gitu, yang namanya cita-cita jadi mustahil. Ngomong ke kamu aja udah susah, apalagi kesatu dunia. Mana mungkin dunia mau dengerin aku"
Dari situlah akhirnya Biru memahami bahwa sahabat kesayangannya harus bisa menaklukkan rasa takutnya untuk berkomunikasi. Itu sebabnya, ketika lulus SMA, Jani memutuskan untuk mengambil jurusan komunikasi. Tidak lain tidak bukan karena Biru.
Biru banyak ikut campur terhadap tiap langkah dalam kehidupan Jani. Jani pun lebih banyak setuju daripada berdebat dengannya. Iya. Tanpa Jani sadari, ia sudah banyak menggantungkan titik harapannya kepada Biru, dan sebaliknya.
Anak laki-laki yang masih berusia sembilan tahun itu percaya, bilamana dirinya adalah pohon yang kokoh. Ia yakin betul kalau Jani akan selalu ada di dalam genggamannya. Lantas untuk apa masa lalu Biru diceritakan kembali disini? Bukankah Senja itu sudah menemukan langitnya?
=====
Seperti laut yang tenang namun sering mengorbankan dirinya untuk memeluk pantai. Seperti itulah Biru terhadap Jani.
Tidak mudah. Tidak mudah untuk menjadi tokoh yang dibenci semua orang. Tidak jadi hal yang sederhana untuk mencintai seseorang tetapi harus melepaskannya. Untuk menginginkan ini dan itu namun tidak bisa melakukan apa-apa.
Dan Biru menerima itu semua. Meski sebenarnya ia tidak sanggup. Tidak akan pernah sanggup. Bukan. Bukan karena ia sanggup untuk selalu mengorbankan dan dikorbankan. Tetapi karena hanya Jani lah yang tersisa di hidupnya.
=====
"Biru, apa tuh di tangan kamu?" Tanya Jani melihat Biru membawa sesuatu. "Peta ya? Ngapain bawa peta segala?"
"Ini? Oh, bukan. Ini bukan sembarang peta, Jani" jawab Biru
"Ah, apaan. Sama aja kayak yang di perpustakaan"
"Kali ini percayalah denganku"
"Memang kapan aku tidak percaya?"
"Aku tidak bilang kamu tidak percaya, Jani. Aku cuma tahu kalo kamu tidak yakin"
"Huh, jadi apa yang bisa kubantu?"
"Cat warna putih. Sebanyak yang kamu punya"
"Hah? Buat apa?"
"Sudah aku bilang percayalah denganku"
Jani hanya bisa menggelengkan kepalanya. Semua hal yang ia tahu dari Biru rasanya seperti sihir. Jani selalu ragu kalau Biru benar manusia yang sama seperti dirinya. Ia yakin ada serbuk-serbuk ajaib yang Biru gunakan untuk membuat hal menakjubkan setiap harinya.
Suara langkah kaki terdengar. Jani keluar membawa beberapa cat warna putih yang dimilikinya.
"Nih, aku cuma punya segini"
"Ini sempurna"
Biru mulai menjalankan aksinya. Ia menimpa semua nama tempat yang ada di dalam peta itu dengan cat warna putih. Lagi-lagi hal ajaib lainnya dari Biru. Tanpa perlu berlama-lama, Biru segera meminta pertolongan berikutnya.
"Kenapa diam?"
"Hmm? Emangnya aku harus apa Biru?"
"Kamu lihatnya aku sedang apa Jani?"
"Mengecat semua nama yang ada di peta"
"Bukan mengecat Jani, tetapi menghapus"
"Berarti... jadi peta tanpa nama?"
"Bukan Jani. Ini dunia baru. Ini dunia Biru dan Jani"
Peta buta. Disanalah harapan Biru berada. Disana Biru menaruh gambaran masa depannya bersama Jani. Sebuah rumah yang tidak tercatat di peta, tetapi ada dan nyata. Sebuah mimpi yang sempurna, meski tidak pasti seperti apa wujudnya.
Jani sudah berkali-kali bilang padanya, "Biru, kamu yakin? Emangnya gampang apa buat dunia sendiri?"
"Ya... kalo gampang, namanya balapan lari sama kamu"
"Hmm? Terus kalo udah tau susah ngapain maksa?"
"Karena susah dan mustahil adalah dua hal yang berbeda"
"Beneran Biru? Kamu yakin?"
"Tidak pernah seyakin ini"
Biru benar yakin dengan rencananya membangun dunia. Namun, ia lupa dengan dunia yang sedang ia pijak sekarang. Ia lupa bahwa dunia itu bisa mengubah bahkan menghancurkan semua pandangannya terhadap masa depan. Dan... itulah yang terjadi berikutnya.
=====
YOU ARE READING
BLUE [Completed]
Non-FictionBiru yang sebelum Kata, yang tidak pernah diceritakan. Ditulis ulang dari podcast Rintik Sedu di Spotify.
![BLUE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/355678565-64-k604498.jpg)