Neraka Yang Sebenarnya

24 1 1
                                        

Hari itu sekitar jam 3 petang, aku dan sahabatku berjalan menyusuri daerah Kayutangan seraya menikmati hiruk-pikuk orang-orang yang berlalu-lalang di area gang yang sempit itu. Aku sibuk dengan kamera gawaiku untuk memenuhi hobi yang telah lama ku pelajari, yaitu fotografi. Sementara di sisi lain dia membuntutiku dari belakang dengan tatapan sinisnya. Baginya perjalanan yang tujuannya untuk menjernihkan pikiran tidak seharusnya melibatkan gawai yang sudah setiap hari kita pegang itu. "Bodo amat" pikirku. Pemikirannya memang sangat kuno. Sepanjang perjalanan kami tidak banyak berbagi kata. Karena memang tujuan perjalanan ini untuk menghilangkan rasa bosan kami yang hampir setiap hari di kamar kos sebab menghemat pengeluaran. 

Aku, mahasiswa semester akhir yang masih berjuang untuk lulus dengan hasil jerih payahku sendiri. Orang tuaku tak mampu membiayai kuliahku, namun berbagai cara kucoba  untuk tetap kuliah. Karena bagiku pendidikan amat penting. Walau pada kenyataannya karena 'gengsi' semata. Aku dan sahabatku telah bersama sedari kecil. Dan ya, kami senasib. Kami sama-sama bekerja keras untuk meraih mimpi. 

Hingga akhirnya kami sadar telah berjalan terlalu lama, kami memutuskan untuk pulang.suasana begitu hening, Bahkan di perjalanan pulang pun, dia tak mengeluarkan sepatah kata sekalipun.

"Gawat", pikirku. Tidak biasanya dia diam seribu bahasa. Atau dia sangat menikmati perjalanan tadi ? 

Sesampainya di kos, kami segera membersihkan diri masing-masing sebelum tidur. Di kamar kosku yang hening, kami tidur berbaring bersebelahan menghadap langit-langit kamar berwarna putih polos yang mulai bersemayam sarang laba-laba menghiasi setiap sisi kamar. 

"Apakah kau tau?", ucapnya memecah keheningan. Akhirnya dia mengeluarkan kata dari mulutnya. "Tau apa?", balasku setengah kesal karena ia bertanya tanpa konteks. Hal yang sering ia lakukan. Namun tetap saja kutanggapi sebab pemikiran-pemikirannya yang sangat menarik dan di luar dugaan. Seperti pembahasan kali ini.

"Kupikir dunia ini merupakan neraka yang sebenarnya". Pemikiran absurdnya lagi-lagi membuatku mengernyitkan dahi. Lalu tanpa menunggu responku, dia melanjutkan.

"Manusia-manusia di dunia ini semakin terlihat bahwa sebagian besarnya merupakan jelmaan iblis", ucapnya datar. "Apa maksudmu?", tanyaku bingung. Tiba-tiba ia bangun dan duduk menghadapku. Inilah dia saat dimana akan keluar 1001 celotehannya. 

"Kau tau alasan dibalik para koruptor di Indonesia masih bisa tersenyum di depan awak media setelah menerima hukuman dari hakim?"

Aku diam menggelengkan kepala, bingung. Kemudian ia melanjutkan, “Mereka masih bisa tersenyum bahkan tertawa lepas setelah melakukan tindak kriminal karena mereka tahu akan segera bebas! Selama apapun hukumannya, mereka akan tetap mendapatkan potongan hukuman dari pemimpin negara berupa remisi, Dan mereka telah menikmati hasil kerakusannya sendiri. Lantas apalagi alasan mereka untuk bersedih?”.  Aku hanya bisa terdiam. Benar juga. Selama ini aku yang apatis—sebab bagiku masalahku sendiri sudah rumit dan berkelit, untuk apa mengurusi hidup orang yang bahkan aku sendiri tak mengenalinya—ternyata membuatku tidak berpikir kritis. Gila, uang yang selama ini diusahakan orang tuaku sampai banting tulang ternyata hasil pajaknya digerogoti oleh tikus-tikus kantor itu. Melihatku yang sedang berpikir keras, ia makin bersemangat melanjutkan pembicaraan ini. 

“Sementara di suatu daerah terdapat kasus seorang nenek yang menebang pohon di lahannya sendiri untuk menghidupi cucu-cucunya karena sang suami telah tiada, justru dihukum pidana sebab dituduh mencuri pohon milik perusahaan negara. Dan lucunya lagi saksi mata dari pihak nenek tersebut tidak diterima di pengadilan. Proses pengadilan pun tergolong cepat. Coba kau baca-baca dan pahami kasus korupsi. Kebanyakan proses pengadilannya berjalan sampai berjilid-jilid bahkan hilang bagai ditelan bumi!”. Paras mukanya terlihat makin menggebu-gebu. Hal inilah yang membuatku betah mendengarkan pemikiran-pemikirannya walau seringkali batas pikiranku yang pendek ini tak sampai untuk memahaminya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 14, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Neraka Yang SebenarnyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang