Kala itu, mentari membiaskan cahayanya dengan samar-samar menyembul dibalik awan keabu-abuan yang menutup sengat cahayanya yang biasa terik. Gemuruh petir serta angin kencang bersahutan, terdengar menakutkan, ditambah dengan ramalan cuaca buruk yang ikut meramaikan kondisi yang tidak mengenakkan.
JDER!!
"AAA!!!"
Nyaris tidak ada yang tidak berhenti kaget sembari menutup telinga kala suara Sambaran petir keras memekakkan adalah suara paling dominan yang memenuhi gendang telinga.
Nging~
Seluruh atensi menengadah pada letak speaker disudut ruangan masing-masing kelas.
"Perhatian untuk seluruh siswa sekolah menengah atas diharap tidak meninggalkan ruang kelas masing-masing"
"Sekali lagi, kepada siswa siswi sekolah menengah atas diharap tidak meninggalka ruang kelas masing-masing, terima kasih"
Demikian suara speaker tersebut didengungkan, membuat hampir seluruh siswa mengeluh mendengar perintah yang diyakini merupakan bersumber dari ketua OSIS mereka.
"Jaringan habis, lagi~" desah salah satu siswa di tengah tengah keheningan. Berhasil membuat beberapa siswa disekitarnya ikut mengecek ponsel masing masing.
"Sebenarnya ini kenapa sih__cuk" tanya seorang siswa bernama tag Justine Nathaniel pada teman bangkunya yang terlihat mengedarkan pandangan pada teman kelasnya yang lain.
"Ngga tahu, katanya sih bakalan ada badai hujan mendadak" ujar Kevin menjawab pertanyaan Justine.
"Bakalan nginep deh keknya" uca Sam terlihat sangat tidak bersemangat.
Hening kembali melanda, dingin seolah siap menggerogoti tulang. Tidak ada satupun yang mampu bersuara, bahkan Justine pun yang merupakan siswa petakilan dibuat bungkam oleh suasana mencekam diluar kelas mereka.
Satu dua tiga detik kemudian suara turun hujan lebat beserta petirnya terdengar diluar kelas.
Justine bangkit dari duduknya beranjak kearah jendela kelas menyibak tirai yang tertutup sedari tadi.
Mulutnya menganga lebar menatap kekacauan diluar kelas mereka yang disebabkan oleh badai hujan.
Bumi total gelap. Bahkan tidak seorangpun berani membuka tirai jendela hanya untuk memastikan keadaan diluar kelas seperti yang dilakukan Justine saat ini.
Bumi, total gelap. Dan itu menakutkan.
JDER!
Semua orang terlonjak kaget, lebih lebih Justine yang berada tepat didepan jendela. Jendela ukuran sebatas dada remaja rata rata itu jelas menampilkan semburat merah dilangit dibarengi dengan hujan yang semakin lebat disertai angin kencang.
Justine menelan ludah susah payah dengan netra yang membelalak lebar saat dengan tidak elitnya ia malah mendapati siluet sosok bermata kebiruan diatas gedung Prodi Sains, menatap kearahnya.
Untuk sementara, jantung Justine seolah berhenti berdetak, otaknya seolah berhenti berproses.
Memang ada ya... manusia yang berani berdiri diatas rooftop saat badai hujan tanpa bermodal pengaman dan___
Srak!
Justine menoleh kearah Kevin tampak tergesa menutup tirai jendela.
"Ameli Acrophobia bodoh!"
Astaga! Justine lupa!!
Pandangan Justine jatuh pada sosok ameli yang dikerubungi siswa siswa yang lain termasuk Kevin. Justine ngebug sebentar kala tubuh ringkih ameli dibawa keluar kelas menuju UKS
O-oke, otak Justine bercabang sekarang.
Tentang ameli yang tiba tiba pingsan karena phobianya serta penampakan sosok bermata merah yang ia lihat tadi.
Justine tidak mungkin salah lihat kan?
_________
TBC
YOU ARE READING
Level Up
FanfictionBagaimana jadinya jika eksistensi dunia paralel yang masih abu-abu tiba-tiba muncul kepermukaan dan membuat kehancuran dimana-mana. Bagaimana jadinya jika ternyata kehancuran itu memang direncanakan jauh-jauh hari oleh salah satu pihak? Javier Nath...
