Nana berjalan sambil mengapit lengan Jordan di keramaian. Kakinya yang tidak sepanjang kaki Jordan menyulitkan Nana mensejajarkan langkahnya dengan langkah lebar Abangnya itu. Matanya berkeliaran memperhatikan beberapa pajangan di berbagai toko. Sesekali Nana merapatkan sweater yang sedang dia kenakan karena selain hari sudah sore, di tambah mendung, di dalam mall juga dingin karena AC yang ada di setiap sudut. Keduanya sudah sejak siang tadi berada di tempat ini. Mampir untuk main di timezone dan juga makan siang sekalian mampir di stand es krim.
Nana dan Jordan berbelok ke sebuah market. Mereka akan belanja beberapa keperluan rumah. Nana langsung melepaskan lengan Jordan dan mulai memisahkan diri dari pria itu. Dia mengambil beberapa makanan instan dan juga beberapa yang lainnya, seperti mie instan, telur, sereal dan beberapa yang lainnya lagi. Tangan gadis itu penuh, bodohnya dia lupa mengambil trolli. Badannya berbalik hendak mencari keberadaan trolli, tapi dirinya terkejut saat membalikkan badan, ada Jordan yang sedang mendorong trolli dengan dua karung beras di bagian paling bawah.
"Makanya jangan buru-buru." Jordan mengambil beberapa barang di tangan Nana untuk membantunya meletakkan di trolli. Nana hanya tersenyum lebar dan mengapit tangan Jordan lagi. Keduanya berjalan beriringan dengan Jordan yang masih mendorong trolli dan Nana yang memilih beberapa keperluan dapur.
Beberapa saat kemudian, Nana menoleh lagi untuk meletakkan beberapa kotak susu dan juga madu. Sayangnya, Jordan sudah tak ada. Trolli itu teronggok begitu saja di belakang Nana. Alhasil dia harus mendorong trolli berat itu sendirian.
"Eh, sini." Nana mendongak, Jordan sudah kembali dengan banyaknya bungkus cemilan di tangannya. Mata Nana mendelik melihat hal itu.
"Abang! Boros banget!" Jordan hanya menatap adiknya itu sekilas dan mengediikan bahu acuh.
"Gue juga yang bayar, Na." Nana mendengus kesal. Ada benarnya juga, sih. Jordan juga tak lupa mengambil minuman bersoda dalam jumlah yang banyak. Nana tahu hal itu karena rumah Jordan selalu menjadi markas untuk teman-temannya. Setelah dirasa sudah tak ada lagi yang akan Nana atau Jordan beli, keduanya memutuskan untuk membayar ke kasir. Ini masih awal bulan, di kasir berderet dengan antrian panjang orang-orang yang sedang membayar belanjaan mereka, sepertinya sama dengan Nana untuk memenuhi kebutuhan bulanan dapur dan juga kulkas.
"Antri dulu, ya? Gue mau beli sesuatu," ucap Jordan sambil terus menatap ponselnya. Nana hanya mengangguk meskipun entah Abangnya itu dapat melihat atau tidak. Setelahnya Jordan pergi meninggalkan Nana sendirian. Sambil menunggu antrian, Nana membuka ponselnya. Melihat beberapa notifikasi yang masuk.
Iqbaal
Jangan lupa belajar, besok ulangan harian Bahasa Indonesia
Haikal
Untung di ingetin
Joy
Gue mah tinggal noleh ke belakang
Raka
Asal gak di gaplok aja sama sebelahnya.
Joy
Gak bakalan komentar ini kok
Haikal
belum tau aja lu
Joy
Mentok-mentok paling ya melotot.
Fadli
Gue bisa baca, ya.
Nana cekikikan membaca chat dari teman-temannya. Yang di maksud Joy sudah pasti Nana karena di belakang bangku Joy dan Haikal adalah bangku Nana yang duduk dengan Fadli. Di belakangnya lagi ada Raka dan juga Iqbaal.
"Maju," ucap seseorang yang membuat Nana sedikit terlonjak kaget dan segera mendorong trolli sekuat tenaga. Itu adalah Jordan yang baru saja kembali dengan sebungkus rokok dan juga batu baterai yang baru.
"Anak kos nitip," ujarnya tanpa Nana bertanya. Nana hanya mengangguk dan mulai menurunkan barang-barang dari trolli untuk di total, Jordan dengan sigap mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Dia menyerahkan tiga lembar uang kertas berwarna merah kepada Nana.
"Gue tunggu di luar, kembaliannya buat lo jajan aja." Nana tersenyum lebar dan mengangguk menyaksikan kepergian Abangnya keluar dari market. Motto Nana adalah satu. Bang Jordan adalah sebaik-baiknya ATM berjalan miliknya.
Keduanya berjalan beriringan setelah Nana selesai membayar. Nana masih setia mengapit lengan Jordan agar pria itu tidak berjalan lebih cepat. Rasanya cepat lelah jika Nana mengikuti langkah kaki Jordan.
"Ke kos dulu, ya?" ucap Jordan saat keduanya sudah tiba di parkiran untuk masuk kedalam mobil. Nana lagi-lagi mengangguk dan mulai masuk ke dalam mobil, duduk di samping Jordan. Lelah sekali rasanya, Nana yang jarang keluar rumah jika hari libur, kali ini harus menuruti kemauan Abangnya untuk bermain. Mungkin Abangnya juga bosan. Biasanya hari libur dia akan pergi dengan ketujuh temannya, sayangnya pagi tadi mereka hanya bermain PS dan juga menonton film di rumah Nana dengan banyaknya cemilan dan juga makanan berat yang mereka bawa.
Nana mengikuti langkah Jordan turun dari mobil dengan membawa rokok dan juga batu baterai yang sebelumnya sudah Nana pisahkan dengan belanjaannya yang lain. Sebelum keduanya benar-benar masuk ke dalam gedung dengan banyaknya bilik kamar itu, Jordan mengambil alih benda yang Nana pegang.
"Ze, Ada Jo sama Nana!" Nana tersenyum kearah Danil yang sedang mencuci motornya di halaman samping kos.
"Gue nungguin dari tadi," ucap seseorang yang baru saja muncul dari dalam kos, Angga dengan membawa kipas berukuran kecil. Jordan menyerahkan baterai itu kepada Angga. Setahu Nana, kos ini di lengkapi kipas di setiap bilik kamar, bahkan juga di ruang tamu dan juga dapur. Karena tidak hanya sekali Nana datang berkunjung ke tempat ini.
"Itu kipas dia bawa-bawa mulu ke kampus," bisik seseorang yang membuat Nana terlonjak kaget. Dirinya menoleh dan mendapati Zean sudah disampingnya, mengambil rokok yang Jordan belikan. Nana tahu bahwa Zean merokok, tapi tidak sering, karena itu dia juga jarang membeli rokok.
"Sini, Na." Jordan menepuk kursi di sebelahnya agar Nana duduk di sana. Nana menurut dan duduk di samping Jordan. Zean sudah tidak ada lagi, sepertinya masuk ke dalam. Entah, Nana juga tak ambil pusing. Tak lama, suara deru motor terdengar memasuki halaman dan berhenti di depan kos. Nana melongok melihat siapa yang datang, itu adalah Oza. Padahal Oza bukanlah penghuni kos.
"Nginep lagi, dia?" tanya Jordan kepada Angga yang masih berusaha memperbaiki kipas mini yang ada di tangannya. Angga mendongak, melongok sebentar keluar untuk melihat Oza yang sedang berbincang dengan Danil.
"Hah? Oh, iya. Gak tau aja, Jo. Uring-uringan mulu tu anak. Kita juga bingung hiburnya," ucap Angga sambil terus fokus pada kipasnya.
"Jangan di hibur, dia butuh waktu sendiri." Angga menatap Jordan sebentar, lalu menunduk lagi dan menyelesaikan pekerjaannya. "Satria mana?"
"Gak tau, keluar dari siang tadi." Angga terlihat acuh. Nana hendak bertanya apa yang sedang terjadi pada Oza, tapi dia urungkan saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Eh, ada Nana? Dari tadi?" Nana tersenyum mendengar sapaan Oza.
"Baru kok, Bang." Oza mengangguk paham, dia bergegas masuk ke dalam saat Jordan menahannya.
"Za, jangan lari. Lu laki, gue tau posisi lu lagi rumit, kacau, tapi mau sampai kapan?" ucap Jordan dengan serius. Nana hampir tak berkedip mendengar ucapan Jordan. Terdengar sangat bijak, meskipun sedikit berhantaman dengan wajah tengilnya. Angga hanya berdiam diri, dengan wajah tak enak, menatap Oza dan Jordan bergantian.
"Iya, Jo." Hanya itu tanggapan Oza. Setelahnya dia masuk ke dalam. Entah hal sulit apa yang sedang di hadapi pria itu. Nana hanya bisa menyimpan rasa penasarannya dalam hati. Gerimis mulai turun, Nana segera mengajak Jordan untuk pulang karena sebentar lagi juga akan masuk waktu maghrib.
YOU ARE READING
Sweet Brother ✔ [TERBIT]
Teen FictionFOLLOW DULU SEBELUM BACA ;) BELUM REVISI Bagi Nana, kebahagiaan itu adalah Jordan. Sang abang yang tak pernah membiarkannya kekurangan kasih sayang sedikitpun meskipun kedua orang tuanya telah lama tiada. Jordan mampu menjadi apapun dan memberikan a...
![Sweet Brother ✔ [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/232780288-64-k103608.jpg)