Minggu, 27 Juni 2010.
Aku terduduk di teras rumahku. Rasanya benar-benar sepi. Orangtuaku sedang pergi ke pesta di desa sebelah dan kakek nenekku sedang berkebun yang letaknya lumayan jauh dari rumah ini.
Sebenarnya kakakku harusnya tengah mengurusku saat ini, namun laki-laki itu malah asyik bermain sendiri dengan anak tetangga. Benar-benar kakak yang tidak bertanggung jawab!
Aku masih kecil, umurku masih empat tahun. Harusnya aku tidak ditinggal sendirian di rumah. Kalau orangtuaku tahu mungkin kakakku akan dimarahi habis-habisan. Aku akan mengadukannya kepada ayah dan ibu! Lihat saja!
Tiba-tiba saja seorang anak laki-laki yang datang entah dari mana menghampiriku. Dia tersenyum lebar, menampilkan gigi-giginya yang rapi. "Halo, kau sendirian? Di mana teman-temanmu?" tanyanya.
Aku menyunggingkan senyum tipis. "Aku sendirian, aku tidak punya teman di sini," jawabku pelan.
Mendengar jawabanku, raut wajahnya berubah. Dia tampak kaget, namun sesaat setelahnya dia berekspresi sedih. "Ah, kau pasti sangat kesepian. Bagaimana kalau kau menjadi temanku? Kebetulan aku juga tidak punya teman."
Mataku membulat, aku merasakan pipiku memanas. Juga, aku merasa sangat senang. "Kau benar-benar mau jadi temanku?"
Laki-laki itu mengangguk, dia tersenyum sampai area sekitar matanya berkerut. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain? Kau mau main apa?"
Aku berpikir untuk menjawab pertanyaan laki-laki itu. Bingung rasanya, aku belum pernah bermain dengan orang lain selain kakakku. Bahkan di kota pun aku hanya bermain dengan saudara kandungku itu. Paling-paling hanya bermain kartu, batu-kertas-gunting, petak umpet, dan kejar-kejaran.
"Kau belum tahu mau main apa?" Dia bertanya.
Aku mengangguk menjawabnya.
"Bagaimana kalau kita membuat mahkota dari bunga? Anak-anak perempuan suka itu, 'kan?" tawarnya. Aku tidak paham apa maksudnya. Jadi aku hanya diam sambil mengernyit. Mungkin karena ekspresiku yang sangat kentara bahwa aku tak paham, dia langsung menjelaskan.
Setelah mendapat penjelasan, aku pun setuju. Kedengarannya asyik, aku dan laki-laki itu pergi ke taman bunga milik ibuku untuk mencari jenis bunga yang akan kami pakai. Di taman bunga milik ibu, ada berbagai macam bunga yang cantik-cantik.
Kata ibu, bunga-bunga di sini memang cantik, tetapi aku jauh lebih cantik daripada bunga-bunga itu.
Kami sudah berada di taman bunga. Laki-laki itu mulai mencari bunga, sedangkan aku hanya menonton karena tidak tahu bunga macam apa yang akan dipakai.
"Oh, iya!" Aku berseru, membuat laki-laki itu berhenti melakukan aktivitasnya dan menoleh padaku. "Kita belum berkenalan!"
Laki-laki itu menepuk dahinya dan meringis. "Maaf aku benar-benar lupa!"
Aku tertawa karenanya. "Hahaha! Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Geline Hanssen, kau bisa memanggilku Gee."
Laki-laki itu terdiam selama beberapa detik, sampai akhirnya dia berucap, "Namaku Jeremy Linman, kau bisa memanggilku Jee."
Kemudian kami tertawa lepas karena penyebutan nama panggilan kami yang hampir mirip.
***
Minggu, 26 Juni 2022
Hari ini suasana desa terasa damai seperti hari-hari sebelumnya. Kuhirup udara segar dalam-dalam, aromanya sangat menenangkan karena beberapa saat lalu hujan turun dari langit yang mendung.
Aku memandang taman bunga di depan rumahku. Bunga-bunga yang ditanam ibu terlihat indah di mata, warnanya beragam, juga ada beberapa kupu-kupu yang terbang di atas tanaman-tanaman itu.
ESTÁS LEYENDO
JeeGee HanMan
Historia CortaTantangan yang diberikan oleh Jeremy membuat Geline kesulitan. Tapi gadis itu pantang menyerah. Dia akan menyelesaikan tantangan konyol sahabatnya itu!
