Bab 1 : Pertemuan⁽⁠ଘଓ⁠⁾

2 0 0
                                        

"Langit yang cerah, ibu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Langit yang cerah, ibu. apa aku boleh main di halaman belakang?"

"Pakaian mu bisa kotor kamu pasti akan bermain tanah lagi kan"

"Ibu aku berjanji tidak akan membuat pakaian nya kotor aku hanya ingin memetik mangga yang aku tandai"

"Sweety. Ingat! perempuan tidak boleh memanjat pohon pakaian mu nanti kena noda"

"Ibu aku bosan tidak punya teman" rengeknya.

" aku akan memakai pakaian yang sangat jelek jadi ibu tidak perlu mencucinya" berusaha merayu.

"Kau ini pandai bicara " terkekeh.

"Apakah boleh bu" dengan mata berbinar.

"Ya sudah ingat untuk memanggil ibu jika kau kesulitan"

"Emm..ibu memang yang terbaik" sambil memeluk sang ibu dengan erat.

****


"Hummpt" berusaha menggapai buah mangga yang terlihat hijau kekuningan.

"Wahh!! Besar sekali " sambil menggosok ke baju yang ia kenakan.

"Huhh..siapa itu yang masuk?" Mengamati pemandangan di sekitar.

Alsava menuruni pohon tersebut lalu bergegas menemui ibunya.

"Ibuu..!!" Teriaknya.

"Aku melihat ada yang masuk ke rumah kosong disamping rumah kita" menjelaskan.

"Kenapa pipimu ikut kotor juga" sambil mengelap pipi Alsava dengan lembut.

"Ibu aku melihat mereka bersama anak kecil. Ibu apakah sekarang aku punya teman bermain" ucapnya dengan semangat.

"Rupanya sweety ku ini sangat kesepian jika kamu mau bermain dengan nya kita harus menemui mereka"

"Ibu ayo kita main dengan anak kecil itu"

"Tapi sebelum itu kamu harus mandi dulu kita harus menyambut tetangga baru sweety ku harus terlihat rapi"

"Emm. Ibu jangan lupa mencuci rambut ku juga!"

****


" Selamat siang, apakah anda baru saja pindah ke sini?" Ucap ibu Alsava.

"Ohh...iya salam kenal saya baru saja pindah pagi ini, mohon bantuannya"

"Tidak perlu sungkan anggap saja kita saudara"

"Sweety ayok beri salam" titahnya.

"Halo, bibi. Saya punya nama tapi bukan sweety nama saya Alsava bibi apakah membawa teman bermain untuk ku?"

"Lucu sekali kamu sangat menggemaskan tapi apakah sweety ini ingin sekali bermain dengan anak bibi?"

"Emm..aku selalu kesepian ibu bilang tidak boleh main jauh. Aku sangat bosan aku ingin teman" keluhnya.

"Sweety jangan memaksa. Bibi baru saja pindah dia masih sibuk menata ruangan" ibu Alsava tidak enak.

"Tidak apa-apa ibu sweety. Aku sudah hampir selesai ayok masuk dan nikmati secangkir teh bersama" ajaknya.

Merekapun bergegas memasuki rumah itu terlihat seorang anak laki-laki yang sedang duduk sambil membaca buku.

"Apakah pertumbuhan otak mu terlalu cepat kamu membaca buku seperti orang dewasa" ucap Alsava dengan polos.

Anak laki-laki itu hanya memandang Alsava kebingungan dari mana anak perempuan ini berasal.

"Apakah kamu tidak mendengar ku? Kamu terlihat seperti ku. Kita masih kecil tidak perlu bersikeras belajar kita masih bisa bermain" usulnya.

"Siapa kamu?" Tanya anak laki-laki itu.

"Namaku Alsava tapi ibu ku sering memanggilku sweety"

"Sweety? Itu hanya sebutan untuk bayi"

"Aku bukan bayi aku hanya belum dewasa ibu ku bilang aku akan tumbuh perlahan" kilahnya.

"Berapa usiamu?"

"Usia ku enam tahun. Ibu bilang di hari ulang tahun ku nanti aku akan masuk sekolah "

"Sepertinya kau tidak bertumbuh enam tahun harusnya sudah bisa menggapai buku itu" anak laki-laki itu menunjuk ke sebuah benda yang berada di atas rak buku miliknya.

"Aku bisa!" Dengan penuh percaya diri.

Alsava berusa mengambilnya namun nihil ia sampai kewalahan karena jarak yang di tuju tidak sesuai dengan tinggi badan nya.

"Dasar cebol" ejeknya.

"Aku bukan cebol !! HUAAAAA!!!"

Alsava menangis sekencang kencangnya nya membuat ibu dan si pemilik rumah menghampiri mereka.

"Kenapa kamu menangis begitu kencang. Apa yang terjadi sweety?" Tanya ibu nya pelan.

"Aku ingin pulang dia sungguh menyebalkan" Alsava mengadu.

"Maaf kan Rezi ibu sweety dia memang seperti itu" ucap bibi tidak enak.

"Jangan terlalu di pikirkan anak-anak memang seperti itu" meredakan.

"Dasar cengeng" ucap anak laki-laki itu dengan pelan.

"Dasar cengeng" ucap anak laki-laki itu dengan pelan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hanya Dengan KuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang