Different Realm: Prolog

5 2 0
                                        

Hari melelahkan lain akhirnya telah terlewati Ezi, hari ini adalah hari pertamanya menjadi anak magang di salah satu perusahaan besar bernama Takashi Group.

Dia di suruh oleh para atasannya tanpa henti dan di perlalukan bak budak rendahan. Untungnya ia memiliki teman seperjuanganya bernama Adel.

Adel adalah anak perempuan manis nan feminin yang memiliki hati lembut. Rambut Adel selalu nampak rapi karena rambut panjangnya selalu anggun terjepit. Adel sendiri memiliki kulit kuning langsat, tubuhnya ramping ideal. Adel benar-benar sempurna.

Sementara Ezi, dia berkulit kecoklatan memiliki tubuh hourglass dan pinggang kecil. Namun cara berpakaianya sangat sembarono sehingga tak menunjukan daya tarik apapun. Di tambah lagi Ezi menggunakan kacamata minus, membuatnya jadi tak punya daya tarik sama sekali. Ezi juga bukan anak periang yang gampang bergaul seperti Adel. Dua sahabat itu memang sangat berbeda.

Di hari melelahkan itu, Adel mengajak Ezi ke toko buku terdekat. Dengan maksud untuk menghibur Ezi.

"Ez, katanya disini ada toko buku baru buka loh." -Ujar Adel antusias.

"Hah.? Masa.?" -Ezi berkata dengan datar sembari melepas sebelah headsetnya.

"Iya, katanya lagi ada diskon 40% loh. Lumayan banget ga sih.?"

"Mayan si, tapi gue ga suka baca."

"Alah, giliran baca status orang aja sampe mau keluar tuh biji mata lu."

"Hehe, ya abisnya greget aja gitu."

"Ye, elu." -Ucap Adel sembari menoyor kepala sahabatnya itu.

"Hehe, emang nya lu mau beli buku apaan si.? Bukanya buku lu udah se gudang ye.?"

"Udah abis, gue udah baca semua."

"Buset.! Itu lu baca ape lu makan.? Bisa cepet gitu kelarnye." -Ezi tertawa heran.

"Ya.., namanya juga pecinta buku."

"Sekalian aje, lu kawinin itu buku. Biar beranak ntar." -Ujar Ezi dengan agak sewot sebelum kembali memasang headset nya.

Adel hanya menggeleng sembari terkekeh melihat sahabatnya itu.

Tak lama kemudian, Adel dan Ezi akhirnya sampai di toko buku tersebut.

***

Sesampainya disana, Adel tiba-tiba saja langsung meninggalkan Ezi begitu saja dan menuju ke salah satu rak buku disana.

Ezi pun mencari keberadaaan Adel di rak terdekat, namun tetap tak kunjubg menemukanya. Akhirnya Ezi memutuskan untuk melihat-lihat.

Tiba-tiba saja Ezi sudah berada jauh di lantai 2 bagian tengah. Disana adalah rak bagian buku romansa, Ezi menelusuri buku demi buku, judul demi judul, sampul demi sampul hingga matanya tertuju pada suatu buku monolog berjudul 'Lonely Prince.'

"Buku monolog Lonely Prince.? Ini maksudnya gimana dah.? Masa iya satu buku novel tebel gini, isinya satu tokoh doang, satu alur doang. Kan nggak mungkin ya.?" -Ucap Ezi terheran-heran sembari membolak-balikkan buku monolog itu.

Ezi kemudian membaca prolog buku tersebut, disana tertulis.

"Tentang seorang Pangeran bernama Fumiya yang hidupnya ia habisakan untuk menyendiri, meneliti dan membayangkan hidup sebagai manusia dalam dunia nyata sembari menjalani hidupnya sesuai prinsip dan kemauanya."

Membaca prolog tersebut, Ezi merasa termotivasi namun juga agak bingung.

"Kok bisa ya buku motivasi gini keselip di buku romansa.? Apa mungkin employee nya salah tata.?" -Tanya Ezi pada dirinya sendiri sembari membuka buku sample.

Saat ia membuka halaman pengantar ketiga, disana tertulis, "Tempat keluh kesah untuk kamu para gadis introvert."

"Hah.? Maksudnya.? Tempat keluh kesah gimane.?"

Ezi pun mulai membuka halaman pertama, dimana cerita monolog itu di mulai. Bab itu berjudul 'Isi hati seorang Prince Fumiya.'

"Hai anak gadis manis, bagaimana hari ini.? Apakah hari ini, dunia kejam lagi padamu.? Seperti apa rasanya hidup di dunia nyata.? Aku dengar dunia nyata sangat meyeramkan, apa itu benar.?" -Baca Ezi dengan suara berbisik.

"Hah.? Isinya kok gini ya.? Agak gak biasa dari buku novel biasanya."

"Apa kau tahu.? Di dunia penuh tinta ini, aku juga merasakan hal serupa. Aku merasa ingin menjadi manusia karena dunia tinta terlalu kejam. Aku memang di buat tampan sedemikian rupa, namun itu justru memberiku tekanan batin untuk selalu menjadi sempurna. Aku di tuntut untuk menjadi Pangeran tampan yang penuh pesona dan kebijakan. Aku tak diizinkan istirahat. Aku ingin keluar dari dunia tinta dan menjadi manusia."

"Ucap Pangeran tampan, bertubuh tinggi nan gagah itu." -Baca Ezi sebelum akhirnya ia menerima telepon dari Adel.

"Ez, lo dimana.? Ini gue udah di depan toko buku." -Tanya Adel lewat telepon.

"Gue di lantai dua, tunggu ya."

"Oke, cepet ya. Udah mulai gelap nih, takut gua."

"Iya bawel." -Ucap Ezi sebelum mematikan telepon.

Ezi kemudian menaruh buku sample itu lalu mengambil gambil buku segel.

Ezi dengan secepat kilat pergi ke kasir untuk membayar sebelum akhirnya menyusul Adel di depan toko.

***

Adel dan Ezi akhirnya berpisah ke rumah masing-masing.

Di kamar, Ezi langsung mengunci pintu dan membuka novel monolog barunya.

"Oke, sekarang aku bakal lanjutin baca. Kira-kira ini buku ending nya bakal kayak apa ya.?"

Ezi membuka halaman bacaan terakhirnya.

"Aku tak peduli jika menjadi manusia itu sulit, tapi manusia bebas berkehendak atas kemauanya sendiri. Meskipun aku dengar hidup mereka juga di tentukan oleh sosok bernama 'Tuhan.' Tapi setidaknya sosok itu tak menuntut manusia untuk selalu sempurna seperti yang di lakukan penulisku padaku."

"Aku tak bisa jadi apa-apa jika aku tak memenuhi haluan penulisku. Aku juga tak bisa memohon apa-apa. Aku iri dengan manusia." -Baca Ezi sembari mengakhiri lembar pertama di bab 1.

Ezi pun termenung sejenak, ia kemudian mencerna isi hati Pangeran Fumiya perlahan.

"Hmm, benar juga ya. Manusia sering kali masuk ke utopia novel saat dunia sedang kejam-kejamnya. Ternyata tuntutan utopia itu berat juga."

"Kira-kira, kehidupan dunia tinta saat tak ada pembaca akan seperti apa ya.?" - Tanya Ezi pada dirinya sendiri sebelum menutup buku dan menyiapkan diri untuk esok.

***

Sementara itu di dunia tinta, sosok Pangeran Fumiya menatap lembut sosok Ezi.

"Apakah dia dapat membantuku untuk menjadi manusia.?"

"Aku harus memastikanya besok, saat kita sama-sama terbangun   dan dia membacaku lagi. " -Ujar Fumiya dengan mantap pada dirinya sendiri sebelum kembali tidur.

Dear LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang