Bab 1 (Kenapa Dia Ada di Sini?)

354 43 6
                                        

Yang blom follow baru nemu cerita ini. Follow ya, biartahu info update.

Baskara perlahan tenggelam, jumantara pun berubah orange kala Zizi sampai di depan rumah dengan halaman luas yang ditumbuhi pepohonan.

Sekuat tenaga dia berusaha mengumpulkan energi untuk memasuki rumah itu. Pelan dan penuh kehati-hatian dia mendorong pagar besi bercat hitam, lalu meletakkan travel bag tidak jauh dari pintu utama.

Debaran di dadanya makin kuat mengalahkan bunyi pintu yang diketuknya. Napas Zizi tercekat, kakinya mundur beberapa langkah setelah tahu bibinya yang membuka pintu. Tatapan wanita itu membuat Zizi rapuh. Zizi mengikuti arah pandang wanita itu. Tatapan itu berhenti tepat kepada bayi dalam dekapannya.

Zizi makin mengeratkan pelukannya, mendekatkan bayi itu lebih dekat ke jantungnya yang berdebar lebih cepat.

"Assalammualaikum, Bi," sapa Zizi. Suaranya pelan, lebih mirip bisikan.

"Waalaikum salam."

Zizi tidak berani menatap wanita yang membesarkannya sejak kepergian ibunya. Tatapan itu mengintimidasi meski bibirnya tidak bertanya.

Hingga pada akhirnya, sebuah pertanyaan terlontar dari bibir itu. "Itu bayi siapa, Zi?" Kalimatnya tidak ada intonasi penekanan, tetapi penuh selidik.

"Siapa Zi?" tanya Bibi lagi dengan nada tidak sabar.

"Maafkan Zizi, Bi ...," kata Zizi.

Situasi seperti ini sudah dipredikisi oleh Zizi dari awal. Seharusnya, dia tinggalkan saja bayi itu di panti asuhan tanpa harus mengambil risiko seperti ini. Namun mengapa, raut mungil yang selalu tersenyum membuatnya mengubah pikiran.

"Jangan bilang itu bayi kamu."

Zizi menegakkan kepala, menggigit bibir bawah, dan mencoba memberanikan diri menatap wanita di hadapannya.

"Ini bayi Zizi," kata Zizi dengan suara parau.

"Apa?" Mata wanita itu membulat, mengorek telinga kalau saja salah mendengar.

"Ini bayi Zizi" Ucapan Zizi yang kedua laksana petir pada siang hari. Bumi yang dipijak Bibi mendadak seperti akan lenyap.

Zizi tidak dapat berbuat apa-apa, menerima apa pun yang dilakukan bibinya sebagai penebus rasa bersalahnya saat tubuh wanita yang seperti ditunggangi ratusan setan dengan kalap dan membabi buta meluapkan semua amarahnya diiringi omelan kecewa dan kesal.

Zizi berusaha melindungi bayi dalam dekapan. Tidak mengapa baginya merasakan sakit pada tubuhnya dan perih kulit kepala, asal tidak melukai bayi dalam dekapannya.

Zizi bernapas lega saat mendengar orang datang. Dia menegakan kepala. Mata Bibi begitu murka menatapnya dengan napas memburu dan dadanya turun naik saat seorang pria seumuran dengan Bibi menahan lengan Bibi untuk tidak memukulnya.

"Ibu kenapa?" kata pria itu. "Kayak orang kesurupan."

"Istighfar, Bu," kata pria muda, dia ikut menenangkan Bibi dengan mengusap pergelangan.

Zizi mengusap bulir bening yang mengalir di pipi tirusnya seraya menggoyangkan tubuh agar tangis bayinya berhenti.

"Siapa ayahnya!" tanya wanita itu. Dua pria di hadapan Zizi menatap zizi dan Bibi bergantian.

"Siapa Teh?" tanya Adnan, pria muda. "Nanti, Adnan samperin."

"Sudah, jangan dipaksa menjawab. Kita tenangin dulu tangis bayinya," kata Om Danang bijak. "Sudah azan juga. Yuk! Kita masuk."

Zizi berbalik hendak mengambil tas yang tadi diletakannya. Namun, dia tertegun, debar jantung yang kencang perlahan melambat ada rasa yang tidak dapat dia terjemahkan kala menatap pria menjulang, rambut hitamnya berantakan, mengenakan celana panjang santai, dan kaus. Gayanya tanpa cela meski berpenampilan tidak seperti biasanya, rapi dan maskulin.

Entah sudah berapa lama pria itu ada di belakangnya, menonton pertunjukan dirinya dan bibinya. Tatapan pria itu masih sama. Dingin dan penuh kebencian. Mungkin sekarang pria itu makin muak melihat Zizi dengan rambut berantakan dan menggendong bayi.

"Kenapa dia ada di sini," Zizi membatin.

"Biar Adnan aja yang bawa. Teh Zizi masuk saja. Kayaknya bayinya haus," kata Adnan seraya mengangkat travel bag.

"Oh ya kenalin, itu Mas Bisma, keponakan Bapak. Sudah dua bulan tinggal di sini," lanjut Adnan.

Zizi memaksa seulas senyum ramah, seakan-akan mereka baru pertama kali bertemu. Namun, Bisma tidak menyambut senyum ramah Zizi.

"Bis, cepat mandi, kita sholat Maghrib di masjid," kata Om Danang sebelum masuk rumah. Pria itu mengangguk pelan, lalu masuk rumah melalui pintu samping.

****

Zizi duduk di teras rumah sambil memegang botol susu yang kosong. Matanya tidak lepas memandang Om Danang yang menggendong bayinya. Berbeda dengan sikap Bibi, Om Danang lebih bijak menerima bayi Zizi. Sementara sang bibi sejak mengamuk tidak keluar kamar.

Zizi memaklumi sikap bibinya. Perasaan Bibi mana yang tidak terluka melihat keponakan yang dianggap anak sendiri melakukan hal fatal. Mempunyai anak, tetapi tidak menikah dan tidak punya suami. Dia masih bersyukur sang bibi tidak mengusirnya.

Zizi menoleh ketika merasakan seseorang mendekatinya. Di sampingnya berdiri pria yang beberapa jam yang lalu berantakan. Kini pria itu sudah rapi mengenakan koko. Zizi mencium aroma khas pria itu, lembut tidak menusuk.

Zizi menatap tidak percaya ketika Bisma mengulurkan tangan, memberinya karet gelang dan salep luka.

"Bersihkan badanmu, lalu obati lukanya. Sepertinya Bibi belum sempat memotong kukunya," ucap Bisma tanpa senyum.

"Makasih, Mas." Zizi meraba pipi bagian kiri. Mungkin rasa perih itu dari sana. Kemudian Zizi meraih karet gelang dan salep. Lalu, mengikat asal rambutnya yang tebal dengan karet.

"Siapa ayahnya?" tanya Bisma.

Zizi tidak menjawab. Dia melihat pria itu menggeleng, seakan-akan sedang mengatakan Zizi bodoh.

"Setidaknya pakailah pengaman kalau kamu tidak ingin kejadian seperti ini. Atau ...."

"Gugurkan?" Zizi memotong ucapan Bisma. "Mungkin di mata Mas Bisma, aku bodoh. Tapi aku masih punya nurani untuk jadi seorang pembunuh."

"Kamu pikir membesarkan anak itu mudah? Mengurus diri sendiri aja belum benar."

"Ini urusanku, aku dapat membesarkan Zira meski sendiri," kata Zizi tidak mau kalah, dibalas Bisma berdecak

"Teh, Zira sudah tidur. Kata Bapak, bawa ke kamar Teteh. Trus, abis sholat Maghib, Teteh siapin makan malam. Ibu kayaknya nggak akan keluar kamar sampai besok pagi."

Zira mengangguk, lalu bangkit dari duduknya.

"Mas, dia tetehku, cantik, kan, meski sudah beranak. Jangan coba-coba ganggu dia." Bisma memutar bola mata mendengar ucapan Adnan.

Makasih yang sudah mampir💕💕

Jan lupa votenya yaa😄😄😄

cinta dan LukaWhere stories live. Discover now