Ruang sempit dan pengap, aku duduk tanpa alas, dinginnya lantai menusuk tulangku. Aku duduk di samping orang yang berbaring berhimpitan seperti ikan di dalam keranjang.
Aku duduk dengan memeluk lutut dibalik kain sarung berwarna coklat dengan motif kotak-kotak yang diberikan ibuku saat menengokku di tempat hina yang tidak pernah aku bayangkan seumur hidupku.
Aku tenggelamkan kepalaku di antara lutut, suara bisikan di telinga membuat aku tertawa lucu. Tawa terkekeh yang begitu saja meluncur dari mulutku yang kemudian membuat aku sadar.
"Aku sudah gila."
Seminggu yang lalu, aku baru saja sadar dan terbaring di kamar rumah sakit, bau obat khas rumah sakit menembus indra penciumanku, sepi dan sunyi hanya suara orang yang bicara di kejauhan. Aku buka mataku perlahan, sedikit buram, lamat-lamat dapat aku lihat dengan jelas di mana aku berada.
Terasa tangan kiriku kebas dan pegal, aku angkat secara perlahan karena terasa ngilu.
"Argh." Aku mengerang.
Ada rasa sakit di bagian perut kiriku saat aku mencoba mengangkat tanganku tadi, aku hendak menggunakan tangan kananku untuk menyentuh rasa sakit itu tapi ternyata terkait suatu benda, ada borgol yang menahan tanganku.
Aku atur napasku karena nyeri di bagian kiri, aku mencoba mengingat apa yang terjadi dan mengapa ada luka di sana.
Tidak terasa air mataku mulai mengembang, luka ini hasil tangan istriku yang menancapkan sebuah pisau dapur ke perutku. Aku jadi terisak karena aku juga dengan sadis menikam istriku karena derai tawa yang menakutkan keluar dari mulutnya, tidak ada rasa sakit saat aku menghujam pisau ke tubuhnya, hanya tawa bahagia.
"Ya tuhan."
Aku sudah tidak bisa lagi menahan kesedihan, aku menangis sejadi-jadinya sampai seorang perawat masuk ke dalam kamarku.
"Pak Doni, ada apa? Apa ada yang sakit?"
Aku tidak menjawab, aku hanya menangis memanggil istriku, aku menarik tanganku yang terbelenggu sebuah borgol yang mengait di ranjang.
"Dimana Maya!"
Aku mencari-cari istriku, tidak mungkin aku telah membunuh istriku sendiri, istri yang sangat aku cintai.
Istriku yang periang berubah diam seribu bahasa, ia sering terbangun di malam hari dan berbicara sendiri berhadapan dengan cermin, membuat aku merasa istriku dalam masalah.
Maya aku nikahi setelah lima bulan menjalani hubungan asmara, aku mengenalnya dari sahabatku Robi. Tidak ada yang aneh darinya, dia selayaknya wanita pada umumnya.
Tapi, setahun pernikahan kami, Allah belum juga mempercayakan kami untuk di titipkan seorang anak di dalam rahim Maya.
Maya selalu mengeluh padaku kalau dirinya di bilang mandul, tidak hanya dari orang lain tetapi dari keluargaku sendiri.
Hinaan itu ternyata menyakitkan hati istriku, ia jadi mudah marah dan tidak suka dengan anak-anak, bahkan Maya jadi cuek jika melihat keponakan kami berselisih paham, bukan seperti Maya istriku dulu yang seringkali melerai dan mengajak bermain anak-anak.
Pernah suatu pagi, Maya keluar pagar rumah dan memanggil kucing peliharaan kami. "Putih!"
"Belum pulang juga si putih?" Tanyaku.
"Belum, Mas." Maya berkeliling keluar rumah dan berjalan di lahan sebelah yang penuh dengan tanaman liar karena rumah yang berdiri di samping rumah kami tidak berpenghuni dan hampir hancur.
"Kyaaa!!" Maya menjerit keras membuat aku keluar dan melihatnya.
"Ada apa, May?"
Maya malah menangis berjongkok, semua orang berdatangan karena suara jeritan Maya, apalagi lingkungan rumah kami yang padat.
Aku menghampiri istriku di barengi beberapa orang karena rasa penasaran mereka.
"Kyaaa!" Seorang ibu di sebelahku menjerit karena ngeri melihat putih berlumuran darah serta tubuh yang terkoyak.
"Putih?!" Aku pun panik dan menarik tubuh istriku untuk berdiri, Maya menangis sejadi-jadinya melihat putih mati mengenaskan.
Aku menguburkan putih setelah menenangkan Maya. Aneh, tiba-tiba Maya seperti tidak berpikir tatapannya kosong, ia terdiam seharian di kamar, ia benar-benar sangat kehilangan.
Keesokkan harinya, aku membeli satu ekor kucing lagi pengganti putih, supaya istriku senang. Aku tidak salah, ia terlihat senang dan bahagia.
Akan tetapi malam itu, Maya keluar kamar sendirian, aku memanggil namanya tapi ia tidak menoleh, aku ikuti secara diam-diam menuju dapur, aku terkejut ketika ia membawa pisau di tangannya, aku yang merasa heran terus mengikuti kemana istriku pergi.
Aku tercekat hingga menahan mulutku dengan tangan, aku menyaksikan Maya menikam kucing dengan tanpa perasaan sembari mengoceh.
"Mampus kalian, aku tidak mandul, matilah kau."
"Jangan-jangan putih?" ucapku dalam hati.
Maya menggigit bahkan meminum darah kucing baru kami, membuat aku merasa mual dan muntah yang kemudian Maya mengetahui keberadaan diriku yang diam-diam sembunyi seraya memperhatikannya.
Maya berdiri dengan mengacungkan pisau di tangannya ke arahku dengan darah kucing yang baru saja ditikamnya, wajahnya tersenyum lebar terlihat mengerikan.
"Maya, ini aku. Suamimu."
Maya terus melangkah maju, dengan pisau yang mengarah kepadaku, aku melangkah mundur perlahan, matanya melebar berlari kecil menghampiriku.
"Argh." Sakit, perih ketika Maya menekan pisau itu di perut kiriku.
"Aku tidak mandul, kalian harus mati," ucapnya berat seperti menahan amarah.
Maya menarik pisau di perutku hingga darah menyembur keluar, aku meringis sakit, bahkan aku limbung karena lemas, takut dan terkejut menjadi satu.
"Maya." Suaraku bergetar. Tapi, ia justru terkekeh lagi.
Ia kembali mengeratkan kepalan pisau di tangannya siap menyerang kembali, aku dengan reflek menepis pisau itu hingga terlempar entah kemana.
"Sayang, sadarlah!"
"Kalian harus mati." Maya berucap sembari tersenyum.
Maya menyerang bahkan memukul perutku yang berlumuran darah, Maya benar-benar sadis tidak berperasaan. Dari ocehannya terdengar kalau Maya merasa kesal padaku yang tidak pernah membelanya saat keluarga menghinanya.
"Sayang, maafkan aku. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi kamu," ucapku menenangkan dirinya sembari menahan sakit di perutku.
Tapi, aku salah. Ia terus menyerang perutku hingga aku tersungkur dan tanganku meraih pisau yang terjatuh tadi.
Tanganku reflek menyerang istriku, pisau menancap di perutnya juga, wajahnya meringis karena rasa sakit tetapi ada seringai tawa di sudut bibirnya membuat aku ketakutan.
Aku mundur dengan pisau yang masih tertancap di perutnya. Tetapi Maya terkekeh dan menarik kembali pisau yang ada di perutnya.
Entah apa yang merasuki jiwaku, aku hanya takut Maya akan menyerang aku lagi, aku berlari ke arahnya kembali menusukkan pisau itu ke perutnya seraya berteriak. "Tolong, tolong!!"
Sepertinya suaraku cukup kencang sehingga beberapa orang mulai terdengar langkah kakinya. Setelah aku melihat tetanggaku datang, dan melihat Maya terkulai lemas di lantai aku sudah tidak ingat apa-apa lagi, kakiku lemas dan terjatuh duduk ke lantai.
