1. That Day

5 1 0
                                        

Setiap orang memiliki nasib dan jalannya masing-masing. Ada yang beruntung di dalam semua aspek mulai dari akademik, pertemanan, bahkan sampai percintaan. Ada yang kurang beruntung dalam aspek pendidikan, namun beruntung dalam aspek pertemanan dan percintaan. Ada juga yang beruntung dalam akademik dan pertemanan, namun kurang beruntung dalam percintaan. Ada juga orang yang kurang beruntung dalam ketiga aspek tersebut. Jika dikategorikan, Sora termasuk orang yang ada pada kategori ketiga.

Pilihan kedua adalah gelar yang kerap disandang olehnya. Sora tidak pernah langsung ditolak ketika mengungkapkan perasaannya. Ia selalu dipertimbangkan, namun sayangnya, ia tak pernah dijadikan pilihan pertama. Pilihan pertama selalu didapatkan oleh sahabatnya, Renjana.

Renjana bahkan tak perlu mencoba dan memiliki keinginan untuk mendapatkannya. Tak seperti dirinya yang sudah mencoba, namun tetap gagal mendapatkannya. Kendati demikian, Sora tak pernah marah ataupun dendam pada Renjana. Mengapa? Hal tersebut bukanlah suatu hal yang dapat ia dan Renjana kendalikan. Toh, Sora telah menjalani semua ini selama 6 tahun lamanya. Ia sudah terbiasa. Lagipula, percintaan bukan prioritas utamanya untuk saat ini. Sebagai gantinya, Sora sangat gemar membaca dan menonton cerita romansa.

Second lead selalu menjadi karakter kesayangan Sora. Entah karena rasa satu nasib atau hanya kebetulan saja, Sora selalu memilih second lead sebagai karakter kesayangannya. Tak hanya itu, Sora bahkan sangat berempati pada karakter tersebut. Ia seolah ikut merasakan apa yang karakter itu rasakan. Seperti sekarang ini, ketika karakter tersebut mati secara mengenaskan dalam novel favoritnya, Sora menangis tersedu. Ia bahkan tak sadar masih berada di laboratorium kampus.

"Sora, lo kenapa?"

Orang itu pun segera menghampiri Sora ketika mendengarnya tiba-tiba tersedu. Hanya ia dan Sora orang yang tersisa di ruangan ini. Tentu saja ia panik, takut dikira macam-macam.

Sora tak kunjung menyahut dan justru semakin terisak kala membaca epilog dari novel tersebut. Orang itu pun semakin panik dan refleks mengelus bahu Sora untuk menenangkan gadis itu. Saat gadis itu berangsur membaik, ia pun baru memanggilnya lagi.

"Sora?"

Sora yang baru tersadar tentu terkejut. Tubuhnya pun dengan spontan menjauh.

"Sorry refleks, lo tiba-tiba nangis kejer."

"Ah, maaf—"

"Santai, nangis aja kalo emang bikin lega. Gak ada yang larang."

"T-thanks."

Sora sungguh merasa malu sekarang. Ia yakin wajahnya saat ini sedang ada dalam tampilan yang sangat buruk dan sialnya orang yang melihatnya adalah Kastara. Sora dengan tergesa mencari tisu untuk membersihkan wajahnya.

"Udah mendingan?"

Sora hanya dapat mengangguk untuk menaggapi. Masih berusaha mencari selembar tisu, namun nihil. Tisu yang biasa ia bawa tak ada dalam tasnya. Di tengah kebingungannya, selembar sapu tangan sudah berada di tangannya.

"Santai, Sor. Semua orang kalo nangis juga gitu."

"Y—ya tapi aneh aja."

"Aneh gimana?"

"Aneh, tapi gue gak bisa gak nangisin itu."

"Nangisin apa?"

"Karakter fiksi."

Hening seketika. Sora pun merutuki dirinya karena membeberkan fakta yang tak perlu orang ketahui tentang dirinya. Ah, mengapa ia tidak diam saja sih tadi?

"Gapapa. Gak ada yang larang."

Sora kira obrolan mereka akan berakhir, namun siapa sangka Kastara kembali berbicara dan berusaha menenangkannya. Tak pernah terpikir sekali pun dalam benak Sora bahwa ia akan berada di situasi sekarang dengan Kastara.

"Makasih banyak, Tara."

"Sama-sama."

Drrttt.

Drrttt.

Telepon Kastara tiba-tiba bergetar. Kastara pun segera mengangkatnya.

"Halo?"

"Saya masih di lab pak."

"Baik pak, sebentar lagi saya ke sana."

Tut.

"Pak Andi ngajak gue ketemu. Lo gapapa ditinggal?"

"Eh, gapapa. Sekali lagi makasih ya, Tar."

"Sama-sama, gue duluan, Sor."

"Okay, hati-hati."

Sora membenturkan wajahnya ke meja tepat setelah lelaki itu pergi. Sungguh ia merasa malu sampai hendak menenggelamkan diri ke rawa-rawa saking malunya. Ah, kalau tahu begini lebih baik ia membaca kelanjutan cerita ini di rumah saja.

————
TBC

Note:
Selamat membaca guys! Hope u like it^^

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 11, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Point of ViewStories to obsess over. Discover now