Kota Mervin adalah kota kecil yang terkenal sebagai kota pertanian, wilayahnya memang tidak begitu luas namun memiliki tanah yang subur. Pagi ini cuaca Kota Mervin begitu cerah disertai dengan udara yang segar, Jovi seorang gadis muda berusia 20 tahun sedang mengayuh sepedanya untuk menuju ke tempat kerjanya.
Setelah memarkir sepedanya di tempat parkir khusus karyawan yang sudah disediakan oleh tempatnya bekerja, Jovi berjalan menuju ke dalam sebuah bangunan supermarket. Jovi berkerja sebagai pelayan di sebuah supermarket, satu-satunya supermarket yang ada di kota kecil ini.
“Selamat pagi Nyonya Imelda” sapa Jovi kepada Nyonya Imelda sang menejer supermarket sambil tersenyum ramah.
“Selamat pagi Jovi” balas Nyonya Imelda yang juga tersenyum.
Jovi sedang memindahkan beberapa barang yang akan menjadi produk promosi ke tempat yang sudah di siapkan. Mulai hari ini sampai tiga hari kedepan toko sedang mengadakan promo diskon untuk beberapa produk tertentu, untungnya hanya kurang sedikit lagi produk promosi yang perlu di pindahkan sebelum toko buka 30 menit lagi.
“Hati-hati Jovi, jangan terlalu banyak membawa barang kau bisa kesulitan” kata Nyonya Imelda yang melihat Jovi membawa satu kardus berukuran cukup besar yang berisi penuh dengan produk pewangi pakaian.
“Aku baik-baik saja Nyonya Imelda. Aku sudah sarapan tadi sebelum berangkat, tenagaku penuh pagi ini” jawab Jovi tersenyum meyakinkan Nyonya Imelda.
“Aku hanya khawatir padamu sayang” balas Nyonya Imelda lembut
“Aku tahu, terimakasih” balas Jovi lalu berjalan lagi menuju stan promosi.
Jovi sedang menyusun produk promosi di etalase ketika teman kerjanya Maria datang dan ikut menata produk promosi di sebelahnya.
“Apa acaramu nanti malam?” tanya Maria pada Jovi dengan tangannya yang tetap bekerja menyusun produk sabun cuci pakaian yang dia bawa.
“Nanti malam? Hmmm....sepertinya aku tidak ada acara apa pun” jawab Jovi, produk pewangi pakaian yang dia susun sudah hampir selesai.
“ Bagus, aku sudah menduga kalau kau tidak akan punya acara apa pun. Orang sepertimu yang tidak punya teman selain aku mana mungkin punya acara” jawab Maria sambil tertawa kecil menggoda Jovi.
Jovi menyenggol bahu Maria dengan bahunya dan memasang wajah pura-pura marah.
“Jovi, nanti malam bisakah kau ikut denganku? Malam ini aku akan melamar Marco, aku sudah pesan tempat di restoran Nyonya Laura”
“Apa? Kau akan melamar Marco?” Jovi berkata sedikit lebih keras karena kaget mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Maria
“Ssstttt.....” kata Maria sambil meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya dan matanya melihat sekitar
“Kenapa kau harus melamar Marco, bukankah seharusnya Marco yang melamarmu?” tanya Jovi
“Jovi, jaman sekarang tidak harus laki-laki yang melamar lebih dulu. Aku dan Marco sudah berhubungan cukup lama, aku benar-benar serius dengan hubungan ini”
“Bukankah katamu Marco sedang berada di luar kota untuk beberapa saat karena urusan pekerjaannya”
“Iya kau benar dan justru karena itulah aku akan melamarnya malam ini. Hari ini Marco pulang tapi dia tidak bisa pulang lama, semalam Marco meneleponku dan dia akan di tugaskan di kota Adema dia dipindahkan ke kantor pusat”
“Oh Maria..” kata Jovi sambil memeluk Maria
“Aku tidak tahu kapan aku bisa menikah dengan Marco dan apa aku tetap di sini atau aku ikut dengannya setelah kita menikah, namun yang pasti malam ini aku akan melamarnya. Setidaknya aku akan merasa lebih baik dengan lamaran ini” kata Maria sambil tersenyum tipis, ada raut khawatir dan berharap pada wajahnya.
“Aku mengerti Maria, aku akan menemanimu nanti malam. Tapi apa kau yakin aku harus ikut, bukankah ini waktu yang berharga untukmu?”
“Aku ingin kau menemaniku” jawab Maria
“Baiklah” balas Jovi sambil tersenyum.
Jovi dan Maria lalu melanjutkan pekerjaan mereka.
****
Jovi dan Maria sudah berada di restoran milik Nyoya Laura, baik Jovi atau Maria telah mengenal baik Nyonya Laura. Nyonya Laura adalah salah satu pelanggan setia supermarket. Jovi dan Maria sudah sering menyiapkan barang-barang yang di beli oleh Nyonya Laura baik untuk keperluan restoran atau untuk keperluan pribadi Nyonya Laura. Karena itu Nyonya Laura menyiapkan meja terbaiknya untuk Maria karena tahu malam ini Maria akan melamar Marco.
“Bagaimana penampilanku?” tanya Maria kepada Jovi
“Sempurna” kata Jovi dengan pasti.
Tidak berapa lama kemudian Marco laki-laki yang sedang mereka tunggu akhirnya datang. Dari kejauhan Marco sudah tersenyum melihat mereka berdua, dan begitu sampai di meja mereka Marco langsung memeluk Maria dan memberikan kecupan lembut di kening Maria. Marco lau duduk di kursi di depan Maria.
“Halo Jovi, bagaimana kabarmu?” tanya Marco ramah
“Aku baik-baik saja. Aku dengar kau mendapatkan promosi dan di pindahkan ke kantor pusat tempatmu bekerja, selamat ya” kata Jovi tersenyum.
“Terimakasih, aku juga tidak menduga ini akan terjadi tapi aku bersyukur atas apa yang terjadi padaku, setidaknya aku tahu aku bisa merawat dan menjaga Maria lebih baik lagi” kata Marco sambil menatap mesra ke arah Maria.
“Oh, haruskah aku pergi saja dari sini?” tanya Jovi bercanda yang di balas dengan tawa oleh Maria dan Marco.
“Sayang bukanlah kau bilang kau kali ini pulang bersama temanmu?” tanya Maria
“Ah kau benar aku pulang bersama temanku” jawab Marco
“Lau dimana dia sekarang?” tanya Maria kembali
“Dia sedang ke tolilet” balas Marco
“Teman?” tanya Jovi melihat ke arah Maria dan Marco
“Ah aku lupa memberi tahumu, Marco pulang bersama temannya kali ini. Lebih tepatnya atasannya, bukan begitu sayang?” tanya Maria kepada Marco meminta penjelasan.
“Iya kau benar. Jadi sebenarnya lebih tepatnya dia adalah atasanku, awalnya aku sendiri juga tidak tahu jika dia memiliki posisi di atasku dia sangat baik dan ramah. Saat aku pertama datang ke kantor pusat sekitar sebulan yang lalu dia membantuku dengan banyak hal di sana, sampai pada akhirnya kira-kira satu minggu yang lalu aku baru tahu jika dia adalah atasanku lebih tepatnya dia anak dari pemilik perusahaan tempat aku bekerja” Marco menjelaskan.
“Dan dia ikut kau datang ke sini, untuk urusan pekerjaan?’ tanya Maria
“Aku rasa begitu, karena dia bilang dia ingin bertemu seseorang. Mungkin bertemu Tuan Fernando. Kau tahu Tuan Fernando menyuplai buah apel dan anggur terbaik, dan walaupun perusahaan lamaku sudah di akuisisi perusahaan yang sekarang sepertinya kerja sama dengan Tuan Fernando masih berjalan” Jelas Marco.
“Lalu apakah dia tampan?” tanya Maria sambil menatap tersenyum ke arah Jovi
“Aku menilai dia sangat tampan” kata Marco juga sambil tersenyum menatap Jovi
“Ah apa maksud kalian menatapku sambil tersenyum seperti itu?” kata Jovi dengan nada sedikit kesal
“Hahaha, kau tidak akan pernah tahu takdirmu soal cinta Jovi” jawab Maria
Untuk beberapa saat baik Jovi, Maria dan Marco mereka bertiga terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan hingga mereka tidak sadar jika ada sesosok laki-laki yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Selamat malam semuanya” sapa laki-laki itu begitu sampai di meja mereka bertiga, suaranya berat dan tegas namun juga terdengar ramah.
“Oh kau sudah di sini Aron” kata Marco lalu berdiri dan menggeser kursi di sampingnya, kursi yang ada di depan Jovi.
“Duduklah di sini” kata Marco.
Laki-laki yang bernama Aron itu lalu berjalan menuju kursi yang di siapkan untuknya. Benar kata Marco Aron adalah laki-laki yang tampan, siapa pun yang melihat fiksinya pasti mengakui jika dia adalah sosok laki-laki dengan fisik sempurna.
“Aron perkenalkan ini Maria kekasihku dan ini Jovi sahabat Maria” kata Marco meperkenalkan Aron kepada Maria dan juga Jovi
“Aku Maria senang mengenalmu Aron” kata Maria sambil tersenyum ramah.
Sedangkan Jovi hanya bisa terdiam terpaku, dia benar-benar tidak menyangka keadaan saat ini akan dialami olehnya. Jovi begitu terpaku menatap Aron, laki-laki tampan yang ada di depannya.
“Jovi” kata Maria pelan sambil menyentuh bahu Jovi yang akhirnya menyadarkan Jovi.
Jovi menjadi salah tingkah dan serba salah, apakah dia terlihat begitu kaget dengan kehadiran laki-laki tampan di depannya ini. Maria tersenyum dan melihat ke arah Marco yang juga tersenyum.
“Ehemm” Maria berdehem cukup keras untuk meminta perhatian.
“Sebelum kita makan malam ada yang ingin aku sampaikan” kata Maria, ada ketengangan di raut wajahnya yang tidak bisa di sembunyikan meskipun dia berkata sambil tersenyum.
“Marco aku tidak tahu harus mengatakannya seperti apa, namun aku percaya kau tahu jika aku benar-benar sangat menyayangimu. Aku akan selalu ada untukmu dan selalu mendukungmu. Aku tahu kita akan tinggal terpisah untuk waktu yang kita sendiri tidak tahu sampai berapa lama, dan itu tidak mudah untukku, aku akui ini. Dan karena itu aku sudah berfikir dengan sangat baik dan matang, mungkin kau akan berfikir bahwa aku sangat egois namun demikian demi menenangkan hatiku sendiri Marco maukah kau menikah denganku?” kata Maria menatap lembut ke dalam mata Marco sambil mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berisi sepasang cincin.
Marco yang melihat semua itu matanya membelalak tak percaya, dia benar-benar tidak menduga jika Maria akan melamarnya malam ini. Di tatapnya mata Maria gadis yang ada di depanya itu lekat-lekat untuk beberapa saat, hingga akhirnya sebuah senyuman hangat muncul di wajah Marco.
“Pakaikan cicin ini di jariku sayang” kata Marco lembut
Sebuah senyum bahagia akhirnya terukir di wajah Maria, Maria lalu memakaikan cicin ke jari manis Marco dan Marco juga melakukan hal yang sama untuk Maria. Lalu mereka berdua berdiri dari duduknya masing-masing lalu saling berpelukan, dan sebuah ciuman hangat mendarat di bibir Maria dari Marco. Mereka berdua lalu menatap ke arah Jovi dan Aron sambil tersenyum dan memamerkan cicin yang terpasang di jari manis masing-masing.
“Selamat Marco dan juga kau Maria, aku menunggu pesta pernikahan kalian” kata Aron memberi selamat.
Jovi memeluk Maria yang sekarang ada di sampingnya, “ Selamat Maria sekarang hatimu sudah tenang”
“Permisi, Maria haruskah aku memotret kalian berempat?” tanya sebuah suara yang membuat kaget Marco Aron dan Jovi
“Tentu saja Edy, apa kau tadi merekamnya dengan baik?” tanya Maria kepada Edy
“Tentu saja, aku melakukan yang terbaik” jawab Edy.
Edy adalah salah satu pelayan yang ada di restoran Nyonya Laura dan dia di kenal baik oleh Maria Marco dan Jovi.
“Oh Edy sejak kapan kau berada di antara kami. Aku benar-benar tidak menyadarinya” kata Marco
“Hahaha...ini malam yang sangat istimewa untukmu Marco jadi nikmatilah, aku akan melakukan tugasku” jawab Edy sambil tertawa.
Edy lalu mengambil foto untuk Marco dan Maria dan juga foto mereka berempat.
Jika Marco tidak menyadari kehadiran Edy karena terfokus dengan lamaran yang di lakukan oleh Maria maka Jovi tidak menyadari kehadiran Edy karena pikirannya saat ini di penuhi oleh Aron, bahkan sejujurnya Jovi pun tidak fokus dengan acara lamaran yang di lakukan Maria kepada Marco. Namun begitu Jovi berusaha sekuat tenaga untuk bersikap biasa saja dan terlihat tenang, tetap tersenyum untuk Maria dan Marco.
Acara lamaran dan makan malam itu akhirnya selesai juga, rona bahagia nampak jelas di wajah Maria dan Marco.
“Aron, bisakah kau mengantar Jovi pulang aku ingin berdua dengan Marco sedikit lebih lama” kata Maria sambil tersenyum.
“Tentu saja” jawab Aron juga tersenyum
“Oh tidak terimakasih, aku bisa pulang sendiri” kata Jovi
“Ayolah Jovi, sebaiknya kau pulang di antar oleh Aron. Kalian bisa berjalan pulang sambil menikmati suasana malam kota kecil ini, kau tahu Aron baru pertama kali datang ke sini kau bisa sambil menemaninya mengenal kota kecil ini” kata Maria
Jovi benar-benar ingin menolaknya namun dia tidak tahu alasan apa yang tepat untuk menolaknya, jika dia bersikeras dengan alasan yang tak jelas Maria dan Marco akan melihatnya dengan aneh.
“Ayo kita pergi sayang” ajak Maria kepada Marco
“Aron aku pergi dulu, kau bisa antar Jovi pulang” kata Marco pada Aron yang di balas dengan anggukan kepala oleh Aron.
Marco dan Maria kemudian berjalan pergi meninggalkan Jovi dan Aron, Jovi terdiam untuk sementara tidak tahu harus berkata apa. Sedangkan di sisi lain Aron menatap ke arah Jovi dengan pandangan hangat dimatanya.
Setelah terdiam beberapa saat lamanya Jovi akhirnya melangkah pergi dengan diam, meninggalkan Aron yang sedari tadi hanya menatapnya.
“Jovi” panggil Aron, namun Jovi tetap berjalan dengan tetap diam.
“Jovi..Jovi..Jovianne aku merindukanmu” teriak Aron.
Jovi mendengar teriakan Aron, dan pada akhirnya Jovi tidak bisa menahan lagi air mata yang sedari tadi dia tahan. Apa yang terjadi padanya malam ini benar-benar tidak dia sangka.
Setelah hampir 6 bulan lamaya dia menghilang, melarikan diri dari keluarga dan semua orang yang mengenalnya.
Dan ketika Jovi menemukan tempat untuk bersembunyi di kota kecil ini, kota yang dia rasa tidak akan pernah terpikirkan oleh siapa pun yang tahu akan dirinya tapi malam ini dia dihantam oleh fakta yang tak terbantahkan. Aron laki-laki yang menjadi salah satu alasannya untuk bersembunyi, malam ini justru ada di hadapannya. Jovi tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
YOU ARE READING
JOVIANNE
RomanceJovi memilih untuk pergi meninggalkan rumahnya, dia tidak bisa menerima ayahnya menikah dengan Monica, wanita yang menjadi penyebab ibunya meninggal. Dan ketika Jovi sudah menemukan sedikit kedamaian hidupnya di sebuah kota kecil bernama Mervin, ko...
