DREAM

3 0 0
                                        

Pernah gak sih lu merasakan dejavu, seperti yang dalam mimpi lu terulang lagi? Gua pernah dan itu tidak terjadi hanya sekali, udah berkali-kali gua dapet mimpi dan mimpi itu benar-benar terjadi. Gua gak tau apa yang terjadi. Gua gak tau apa yang terjadi sama gua sampai bisa dapet kekuatan itu. Alih-alih mensyukuri kekuatan itu gua justru membenci itu, karna gua gagal ngelindungi adik gua padahal gua tau apa yang akan terjadi sama dia. Sekarang gua udah gak gitu peduli lagi sama mimpi-mimpi gua sekarang.

“Seogi bangun nak!” Suara ibu membangunkan gua dari tidur. Kali ini gua mimpi pria berusia 20 tahun tertabrak saat sedang menyebrang dari depan tempat part time gua. Gua langsung ambil buku harian gua yang berwarna biru langit dan gua tulis semua yang ada dimimpi gua malam tadi. “Gua harus cari cara biar mimpi kali ini gak terjadi lagi.’ Batin gua sambil gua mengumpulkan nyawa yang belom full. Setelah nyawa gua kekumpul gua langsung mandi dan bersiap pergi part time di sebuah kafe.

Saat gua lagi nunggu bis tiba-tiba ajah ada cowok yang nyamperin gua, dalam batin gua 'kok kayak gak asing nih orang, tapi gua lupa liat dimana’

“Permisi, ini kartu kerja lo bukan?” Tanya cowok itu sambal menyodorkan kartu kerja yang ternyata tertera nama gua.

“Owh, iya itu punya gua, makasih ya.”  Ucap gua sambil mengambil kartu itu.

Setelah ngambil kartunya gua gak menghiraukan lagi cowok itu, gak lama bis tujuan gua pun datang dan ya gua naik sampe ke tempat  part time gua. Gua bekerja seperti hari-hari biasanya ditemani playlist kebanggaan Bunda Corla, ‘no comment’ dan lainnya. Gua kerja sampe pukul 19.00 WWS. (Waktu Wakanda Setempat).

Saat gua lagi mau bersiap-siap buat pulang ternyata ada satu pelanggan dating ‘Oke ini pelanggan terakhir sampe ada lagi gua getok beneran’ batin gua yang berusaha tersenyum depan pelanggan.

“Latte atas nama kak Alvaro.” Setelah namanya gua panggil dia pun datang nyamperin. Gua langsung keinget sama cowok ini, iya dia cowok yang ada dimimpi gua dan yang ketemu di halte bis tadi pagi. Tanpa basa-basi gua langsung cegah dia pergi biar mimpi gua gak kejadian.

“Tunggu, jangan pergi!” Sambil gua pegang tangan cowok itu.

“Kenapa ya?” Tanya dia sambil nataap gua dengan ekspresi bingung dan kaget pastinya.

“Ada diluar lagi ada perang antara Tom and Jerry jadi jangan keluar.” Ucap gua dengan suara pelan dan takut.

Sudah pasti dia memandang gua aneh dan langsung menepis tangan gua. Gua gak tinggal diem gua kejar itu cowok dan bener ajah ada truk yang melaju dengan kecepatan tinggi kayak di filem Fast & Furius . Langsung gua tarik tangan dia dan untung ajah dia selamat, orang-orang pada ngumpul di tempat kejadian dan ada satu orang yang nelpon polisi agar segera dateng ke TKP. Kita pun masuk ke kafe buat ngobatin luka di tangan dan kaki kita.

“Makasih ya, udah nolongin gua.” Kata cowok itu sambil ngeliatin gua yang lagi ngobatin luka ditangan dia.

“Iya sama-sama, untung ajah gak beneran kejadian.” Sambil gua menghembuskan nafas lega.

“Maksudnya?” Tanya cowok itu dengan muka bingungnya.

Gua ceritain semuanya tentang kemampuan gua dan mimpi yang gua alamin tentang dia. Ya sudah pasti antara percaya dan tidak dia tetep dengerin cerita gua dari awal sampe akhir. Setelah cerita panjang dan banyak kayak episode tukang haji naik bubur, akhirnya kita kenalan kayak gini kurang lebih.

“Kenalin nama gua Alvaro Chandra, panggil ajah Alvaro.” Kata dia sambil menyodorkan tangannya.

“Gua Seogi Amanda, panggil ajah Seogi.” Kata gua sambil membalas jabat tangannya.

“Nama yang unik.” Ucap dia sambil tersenyum tipis namun mematikan.

Mulai saat itu gua dan Alvaro tukeran nomer hp dan kita sering chattingan bareng bahkan jalan bareng mungkin, sekarang kita bisa bilang kita “pacaran’.

Kedekatan kita pun sudah dikonfirmasi ke Bunda, Bunda menyukai Alvaro bahkan sekarang Bunda lebih saying ke Alvaro dari pada gua anaknya sendiri. Bunda sering nanyain Alvaro ‘udah sarapan belum’ ‘udah bawa bekal belum’ ‘udah join live nya bunda corla belom?’ macem-macem lah nanya nya.

Hingga pada bulan Desember saat salju pertama turun kita berencana keluar untuk ngedate. Kita berencana ke tempat dengan suasana romantic. Kita menikmati waktu ngedate berdua sampai pada saat sedang makan Hotteok tiba-tiba ajah hidung Alvaro mengeluarkan darah. Alvaro dan gua langsung panic dan gak lama kemudian Alvaro jatuh pingsan. Gua langsung menelfon ambulance dan Alvaro langsung dilarikan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit tepatnya di depan pintu UGD, gua menelfon Bunda dan Mamah Alvaro. Menangis, itu lah yang gua lakukan sambil duduk di depan pintu UGD. Dingin dan sunyi yang gua rasakan disana semakin membuat gua lemas dan gak lama gua tertidur.

“Seogi, gua mau jalan-jalan keluar bosen dikamar terus.” Kata Alvaro dengan muka melasnya.

“Tapi kan ini udah malem.” Kata gua sambil merapihkan meja di samping Kasur Alvaro.

Alvaro masih memasang wajah melasnya, gua pun gak tega dan karna memang sudah sudah seminggu dia gak keluar dari kamar rumah sakit jadinya gua iyain permintaan dia. Kita pun jalan-jalan cuma diarea taman rumah sakit ajah. “Gua capek duduk dulu bentar.” Kata Alvaro. Kita pun duduk di kursi taman sambil memandangi langit malam yang hari ini lumayan cerah. Alvaro menyenderkan bahunya dipundak gua.

“Nanti kalo gua udah gak ada lu jangan merasa bersalah dan nyalahin diri lu sendiri kayak pas adik lu pergi ya.” Kata Alvaro dengan suara lembutnya.

“Kok lu ngomong kayak gitu sih, emang lu mau kemana?” Kata gua dengan seakan pura-pura gak tau apa yang dia maksud.

Alvaro hanya diam dan sepertinya  tertidur dipundak gua. “Alvaro.” Panggil gua.

“Alvaro, Al !” panggil gua lagi dengan nada sedikit keras. Tanpa gua sadari air mata gua lolos begitu ajah tanpa permisi. Gua menangis sejadi-jadinya  karna gua tau Alvaro sudah pergi.

Kejadian yang ada dimimpi gua pun terulang lagi, kepergian Alvaro pernah gua mimpikan sebelumnya  saat gua tertidur didepan UGD.

“Kringgg…!!” Alaram gua pun berbunyi dan matahari menembus jendela kamar gua. Gua membuka mata dan ternyata pipi gua udah basah dengan air mata. Iya, gua memimpikan Alvaro yang sudah tidak ada sejak musim dingin bulan lalu karna penyakit kanker yang dideritanya. Kepergian Alvaro begitu membekas bagi gua, sejak saat itu gua mulai membenci musim dingin karna memory tentang kepergian Alvaro terus terulang. Gua berusaha menerima semua dan selalu mengingat kata-kata Alvaro agar jangan pernah menyalahkan kemampuan gua atas semua yang terjadi.

 













THANK YOU UDH BACA CERITANYA 🙌🏼😁

Salam hangat
Blue tulips 🌷💙

Naabot mo na ang dulo ng mga na-publish na parte.

⏰ Huling update: Jul 20, 2023 ⏰

Idagdag ang kuwentong ito sa iyong Library para ma-notify tungkol sa mga bagong parte!

DREAM Tahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon